• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 8 Februari 2023

Pustaka

Meneropong Gagasan Scientia Sacra Seyyed Hossein Nasr

Meneropong Gagasan Scientia Sacra Seyyed Hossein Nasr
Sampul buku Sayyed Hossein Nasr tentang Scientia Sacra. (Foto: NOJ/ Ist)
Sampul buku Sayyed Hossein Nasr tentang Scientia Sacra. (Foto: NOJ/ Ist)

Buku ini berangkat dari persoalan perdebatan akademik tentang integrasi sains dan agama yang berkembang dari masa ke masa. Baik perdebatan yang ada di Barat ataupun di kalangan Islam sendiri.


Penulis yang merupakan aktivis NU di Sumenep membidik pemikiran Seyyed Hossein Nasr yang tidak hanya kritis pada pemikiran orang-orang Barat, tetapi menawarkan gagasan dari kalangan Islam sebagai jawaban alternatif dari problem relasi agama dan sains.


Secara terminoligis, buku ini menegaskan bahwa Scientia Sacra merupakan ilmu tertinggi yang dimiliki manusia. Kata ini merupakan teori yang dicetuskan Seyyed Hossein Nasr. Jika Scientia Sacra adalah matahari, maka Sacred Science adalah sinarnya. Secara metafisik, ilmu ini melebihi fisika yang tidak bisa dijangkau indra manusia.


Dengan demikian, Scientia Sacra adalah sains yang lahir atau digali dari spirit ketuhanan, sebagai Dzat yang Maha Mengetahui. Jenis ilmu pengetahuan ini bersifat abadi. Scientia Sacra dalam sejarah manusia dibawa oleh Rasul/Nabi dalam bentuk agama. Jadi, agama adalah kecerdasan menuju Tuhan.


Secara ontologis, ilmu ini membahas tentang yang ada, khususnya tentang alam (alam lahut, jabarut, hahut dan syahadah). Secara epistemologis, sumber utamanya adalah hati yang bakal melahirkan disiplin keilmuan tasawuf dengan berbagai variasi. Secara aksiologis, alam sejati harus diperlakukan dengan baik dan sesuai perannya.


Setelah memperhatikan sistematika filsafat di atas, seluruh persoalan di dunia harus dipayungi dengan agama. Karena secara historis pemikiran integrasi sudah tertuang dalam sejarah keilmuan Islam pada abad ke-8 sampai 10 Masehi.


Kala itu, karya filsuf Yunani kuno menjadi sumber pemikiran filsafat yang ditransformasikan ke dalam Islam. Bahkan didialogkan dengan beragam tradisi keilmuan Islam. Tak heran, pada abad Pertengahan, Islam mencapai puncak keemasannya sehingga melahirkan ilmuan dan filsuf terkemuka. Sebut saja Al-Farabi, Al-Khawarizmi, Al-Kindi, Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Al-Razi, Ibnu Haitam, Al-Battani, Jabir Ibnu Hayyan, 4 Imam Mazhab dalam ilmu fikih, dan lain sebagainya.


Menyikapi problem akademik, buku ini memberikan paradigma keilmuan yang mengintegrasikan dimensi ilahi dan basyari dalam memahami relasi sains dan agama. Artinya, manusia harus berada di bawah payung agama sebagai landasan spiritual yang sudah terbangun sejak kecil.


Sedangkan persoalan sains, kemaslahatan manusia tidak melihat perbedaan agama, bahasa, kulit, ras, etnis, budaya, dan sebagainya. Karena Scientia Sacra merajut kembali hubungan sains dan Tuhan, sehingga seluruh ilmu pengetahun menjadi jalan menuju Tuhan.


Diketahui, guna memanjakan para pembaca, penulis membahas dalam beberapa bab, antara lain: sains dan metafisika ketuhanan, Nasr dan kritik sains modern, praksis Scientia Sacra, Scientia Sacra, dan kesatuan ilmu.

 

Identitias Buku:

Judul: Scientia Sacra Seyyed Hossein Nasr, Menuju Revolusi Ilmiah Kesatuan Ilmu Pengetahuan
Penulis: Mahmudi
Penerbit: CV Literatus Pustaka
Tahun Terbit: Agustus 2022
Tebal buku: 120 halaman
ISBN: 978-623-09-0177-5
Peresensi: Firdausi, Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Sumenep.


Pustaka Terbaru