• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 27 September 2022

Pustaka

Argumentasi Bantahan terhadap Sainstis yang Anti Agama

Argumentasi Bantahan terhadap Sainstis yang Anti Agama
Sampul buku 'Sains Religius, Agama Saintifik; Dua Jalan Mencari Kebenaran'. (Foto: NOJ/ ISt)
Sampul buku 'Sains Religius, Agama Saintifik; Dua Jalan Mencari Kebenaran'. (Foto: NOJ/ ISt)

Era modern saat ini masih banyak ditemui sikap saling menyalahkan antara saintis dan agamawan. Saintis asal Inggris Richard Dawkins secara terang-terangan melalui ragam media meledek agama dengan menyebut beragama adalah fenomena anak-anak. Ia menyebutkan, ajaran agama tidak diperlukan bagi orang yang sudah dewasa. Pernyataan-pernyataan demikian dibantah oleh cendikiawan Muslim Indonesia, Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla dalam buku ‘Sains Religius, Agama Saintifik; Dua Jalan Mencari Kebenaran’.


Bagian satu buku ini memuat empat belas tema pembahasan. Haidar Bagir secara lugas membantah argumen-argumen saintis Barat yang menyerang agama. Tentu, salah satu tema yang menjadi peluru saintis untuk menyerang agama adalah fenomena ekstrimis. Hadir Bagir menegaskan, sikap Richard Dawkins di atas adalah bentuk ekstrimisme dari sains dalam bentuk lain.


Pasalnya, Dawkins menyerang penganut agama secara brutal yang diyakini Haidar Bagir karena belum mempelajari agama secara utuh. Haidar Bagir juga membantah asumsi bahwa metode sains lebih baik dari pada agama dan filsafat. (Hal. 35)


Melalui buku ini, Hadir Bagir menegaskan banyak teori sains yang dilahirkan dari teks suci agama. Seperti Abdus Salam ilmuan asal Pakistan yang mendapat nobel fisika tahun 1979 di bidang ilmu fisika. Abdus Salam mengaku mendapat inspirasi dari ayat Al-Qur’an saat melakukan penyusunan teori penyatuan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah. Hal ini menunjukkan agama dapat berbagi ‘ilham’ dengan sains. Dan itu menurut Haidar Bagir bukanlah suatu persoalan. (Hal. 49)


Sementara Ulil Abshar Abdalla di bagian dua menulis sebelas tema yang pada garis besarnya ingin mengajak pembaca untuk tidak mempertentangkan antara sains dan agama. Dalam pandangan Ulil, agama dan sains dapat saling berhubungan. Membenturkan antara keduanya  disebutkan sebagai tradisi Barat yang patut dipertanyakan.


Argumen tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa di Jepang tidak ada yang menghadap-hadapkan antara agama dan sains. Tidak hanya di Jepang, di Cina, Korea, dan sejumlah negara lainnya. Hanya di Barat masalah pertentangan agama dan sains itu terjadi. (Hal. 137)


Oleh karena itu, Ulil mengajak pembaca untuk tidak mempertentangkan keduanya. Asumsi jika beriman berarti telah meninggalkan sains merupakan asumsi yang salah. Hal tersebut karena di sisi lain banyak saintis peraih nobel yang beragama. Bahkan dalam penemuan-penemuannya lahir dari teks suci agama.


Terlepas dari sains dan agama, di tema terakhir buku ini Ulil membahas tentang dua cara orang beragama. Pertama, yaitu beragama secara intelek, seperti Nur Cholis Majid atau Cak Nur dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.


Kedua, cara beragama orang awam seperti masyarakat di desa-desa. Dimana tidak mempelajari agama secara detail berikut dengan cabang-cabang ilmunya. Tetapi dengan tekun melaksanakan ajaran agama yang ia ketahui dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan. Menurut Ulil, antara keduanya tidak bisa saling menyalahkan karena mempunyai posisi masing-masing.
 

Identitas Buku:

Judul: Sains Religius, Agama Saintifik; Dua Jalan Mencari Kebenaran
Penulis: Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla
Penerbit: PT Mizan Pustaka
Tahun Terbit: 2020
Tebal: 169 halaman
ISBN: 978-602-441-178-7
Peresensi: Boy Ardiansyah (Guru Madrasah dan Mahasiswa Pascasarjana Institut Pesantren KH Abdul Chalim Pacet, Mojokerto).


Pustaka Terbaru