• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 28 Juni 2022

Pustaka

Urgensi Literasi Sains bagi Umat Islam

Urgensi Literasi Sains bagi Umat Islam
Buku 'Memahami Sains Modern'. (Foto: Istimewa)
Buku 'Memahami Sains Modern'. (Foto: Istimewa)

Perdebatan sains hingga zaman modern ini mengalami dinamika yang cukup kompleks, apalagi dengan hadirnya berita-berita hoaks di jagat media publik. Sains seakan menjadi sesuatu yang kaku di kalangan umat Islam karena seringkali berkaitan dengan kepercayaan. Buku ini hadir dengan tujuan menanggapi terhadap kurangnya literasi sains dasar esensial di masyarakat umum dan cara membangun jembatan yang lebih kokoh antara Islam dan Sains Modern.  


Distorsi terhadap sains dihasilkan dari sejumlah media massa di dunia. Berdasarkan survei yang disajikan di Science and Angineering Indicators 2006, internet menjadi penyumbang informasi sains terbesar di Amerika Serikat dan banyak negara lain. Nahasnya, informasi yang berseliweran di internet tersebut tidak mampu memisahkan antara yang akurat dan tidak akurat, sehingga semakin memperkeruh situasi literasi sains. (hal. 26).


Literasi sains dasar di kalangan umat Islam menjadi begitu urgen mengingat literasi sains adalah pemahaman umum atas gagasan-gagasan sains (fakta, istilah, teori) yang memungkinkan orang yang cukup terdidik mencerna informasi sains yang diterima dari berbagai media. Dengan bekal literasi sains yang baik, maka masyarakat yang berbudaya sains akan lebih bisa meminimalisir menjadi korban dari aneka tipuan, astrologi, sampai obat palsu. Kendatipun sebenarnya agama Islam tidak pernah memiliki masalah dengan sains.


Dalam agama Islam sebenarnya sains tidak ada pertentangan. Hanya saja, selama beberapa tahun terakhir, masyarakat menyaksikan kembalinya sudut pandang antisains berbasis agama. Hal ini dimulai dengan gerakan kaum fundamentalis, anti modernis dan antisains yang mengkhawatirkan bahwa pelajar Muslim harus memilih antara sains dan Islam, sehingga muncullah artikel yang terbit akhir-akhir ini menampilkan sains dan agama tidak sejalan.


Penulis buku ini merekomendasikan agar para ilmuwan Muslim masa depan tidak hanya belajar sains dasar (antronomi, geologi, biologi), melainkan juga gagasan seperti hermeneutika (tafsir cerdas atas kitab suci) dan analisis kritis. Hal tersebut supaya para pemuka agama belajar cara menangani topik yang mungkin mengandung konflik.


Memang, pendekatan literalis terhadap kitab suci –di Islam dan agama lain– telah menghasilkan pandangan-pandangan dan sikap-sikap berbahaya di banyak aspek masyarakat dan budaya. Untuk itu, dalam buku ini dihadirkan sejarah singkat sains hingga menjelma menjadi sains modern yang kemudian dikritik oleh beberapa pemikir.


Sains sudah mengalami perubahan selama beberapa abad terakhir. Sains mengalami “revolusi sains” sehingga menjadi “modern”. Sains modern tentu berbeda dengan sains primitif atau kuno (hal. 38). Oleh karenanya, buku ini membagi sejarah sains menjadi tiga fase, yaitu Sains Kuno, Sains Abad Pertengahan, hingga Sains Modern.


Salah satu tokoh yang mengkritik sains modern adalah Sayyed Hosen Nasr, seorang filsuf paling penting selama 50 tahun terakhir, yang telah menuliskan lusinan buku, ratusan artikel, dan mendapat berbagai penghargaan. Menurut pandangannya, keberatan utama dirinya terhadap sains modern karena sains modern telah menggunakan pendekatan naturalistik (tidak melibatkan aspek supranatural dan spiritual), sehingga menyangkal kaitan dengan ilahi, yang dia anggap penting.


Kedua, sains modern telah memecah belah, merendahkan manusia dan merusak alam yang menurutnya dianggap sakral dalam Islam. Ia juga menolak beberapa pendekatan utama sains modern (konfirmasi dengan pengulangan, akurasi, dan lain lain), karena ia lebih mengutamakan tujuan, makna, keindahan, keselarasan, dan sebagainya. (hal. 74).


Buku ini menyebutkan setidaknya ada tiga alasan mengapa Islam mendukung terhadap keilmuan sains. Pertama, mengenal tuhan melalui ciptaan-Nya. Sebagaimana diakui oleh ahli astronomi terkenal, Al-Battani bahwa dengan memusatkan perhatian, pengamatan, dan pemikiran ke gejala langit, maka akan bisa membuktikan ketauhidan tuhan dan mengakui kekuasaan, kebijaksanaan, dan kehalusan rancangan sang pencipta.


Kedua, mengangkat manusia melalui pengetahuan dan pemikiran tertib (menghapuskan takhayul, menghadirkan bukti, dan lain lain). Hal ini dikukuhkan oleh Ibnu Sina yang mengatakan, barang siapa terbiasa percaya tanpa bukti berarti telah melenceng dari kemanusiaan alami.


Ketiga, kebutuhan akan sains dalam kehidupan manusia. Karena salah satu faktor utama yang mendorong Muslim mengembangkan beberapa cabang sains (astronomi, aljabar, geometri, aritmatika, trigonometri, kedokteran, arsitektur dan lain lain) adalah membantu orang menjalani hidup dan beribadah.


Literasi sains bagi umat Islam sangat penting karena dengan kekuatan literasi dan mengetahui sejarah serta seluk beluknya, maka umat Islam akan memiliki pengetahuan yang komprehensif. Sehingga nantinya tidak mudah membabi-buta dengan adanya stereotip yang selalu diperdebatkan karena faktor egoisme yang tidak bertanggung jawab.


Maka, untuk menjembatani konflik tersebut literasi terhadap sains menjadi penting dibumikan kepada seluruh umat Islam. Sebab, kata Albert Einstein, Sains tanpa agama lumpuh, agama tanpa sains buta.
 

Identitas Buku:

Judul: Memahami Sains Modern            
Penerjemah: Zia Ansor          
Penerbit: Qaf Media Kreativa    
Cetakan: Februari, 2020
Tebal: 203 halaman
ISBN: 978-602-5547-68-3
Peresensi: Abdul Warits, mahasiswa Pascasarjana Studi Pendidikan Kepesantrenan, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Guluk-Guluk, Sumenep.


Pustaka Terbaru