• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 3 Oktober 2022

Pustaka

Menuai Hikmah dari Kisah Mantan Radikalis

Menuai Hikmah dari Kisah Mantan Radikalis
Sampul buku 'Hijrah dari Radikal kepada Moderat'. (Foto: Istimewa).
Sampul buku 'Hijrah dari Radikal kepada Moderat'. (Foto: Istimewa).

Radikalisme agama kembali mencuat dan menjadi isu sentral di tengah masyarakat. Ia ibarat virus yang siap menjangkit siapapun, menelisik ke alam fikiran. Seperti kisah seorang mantan kombatan kelompok radikal-jihadis, yang ditulis oleh Haris Amir Falah dalam buku ‘Hijrah dari Radikal kepada Moderat’.


Haris sendiri merupakan seorang mantan narapidana teroris. Selama kurang lebih 27 tahun ia sempat berkecimpung dalam gerakan radikal dan teroris. Ia terlahir dari keluarga yang religius. Sejak kecil ia ditempa dengan pendidikan agama yang kuat dari keluarganya.


Namun, pendidikan agama yang telah ia terima sejak kecil, justru tidak menggugah kesadarannya untuk menjadi pribadi yang religius, malah membawanya ke arah pandangan yang sama sekali tidak meminati bidang kajian tersebut (Hal. 20). Karena itu, saat ia didorong oleh keluarganya untuk mengenyam pendidikan ke pesantren, ia lebih memilih ke sekolah umum.


Suatu hal menarik terjadi di sini. Pendidikan agama yang semula tidak menarik minatnya sama sekali, malah berhasil menggiringnya ke arah wawasan agama yang radikal cum esktrimis. Kejadian itu bermula saat ia melihat gurunya menjadi juri sebuah perlombaan Al-Qur’an, yang notabenenya bukan seorang guru agama. Sejak saat itu ia mulai mengobrol panjang lebar menguliti ajaran-ajaran Islam, sampai suatu saat ia berbaiat kepada kelompok radikal.


Dalam persoalan ini, Haris terpukau dengan apa yang disampaikan gurunya. Obrolan intensif pun seringkali dilakukan saat ada kesempatan. Ia tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang digulirkan lewat obrolan ringan. Yang menjadi persoalan ialah wacana dalam berakidah menjadi hal pertama yang menggoncang relung batin sosok Haris muda.


Pertanyaan seperti status kemusliman seseorang, sejak kapan status tersebut melekat, dan bagaimana cara memasuki agama Islam, menjadi sederet pertanyaan yang menghujani pikirannya kala itu.


Pada saat yang sama, ketidak tertarikannya dalam wacana pendidikan agama, seketika menjadi gairah yang mendorongnya untuk menyelami Islam. Sialnya, ia berlabuh di gerbong yang salah. Kelompok yang ia lirik dengan niatan mendalami wawasan ilmu agama, justru membawanya ke dalam wawasan yang ‘ekskulsif’. Gampang menyalahkan pendapat orang lain, serta tidak menerima kebenaran di luar kelompoknya.


Dari kasus Haris tersebut, menggambarkan bahwa tidak ada pengecualian terhadap golongan atau pun kelompok radikal untuk pilih-pilih calon anggotanya. Wacana pendidikan agama menjadi pokok persoalan sejak dini. Maka, penguatan terhadap nilai-nilai agama yang universal, luhur, serta tidak terkungkung pada pemikiran yang eksklusif, penting ditanamkan secara terus menerus sejak dini.


Dalam buku ini juga dikisahkan bagaimana doktrin dari sebagian besar kelompok garis keras, khususnya yang tergabung dalam kelompok radikal-jihadis. Doktrin tersebut ditancapkan kepada para anggotanya dengan penuh kemantapan, seakan mutlak kebenaran hanya milik kelompok sendiri. Ada tiga doktrin yang menjadi dasar gerakan maupun secara pemikiran. Meliputi, distorsi konsep iman, hijrah, dan konsep jihad. (Hal. 41).


Konsep iman dimaknai sangat sempit. Hal tersebut berangkat dari pandangan bahwa orang-orang yang tidak berbaiat dengan kelompok mereka dianggap kafir, sekalipun sejatinya Islam. Di sisi lain, hijrah bagi mereka diorientasikan untuk menanggalkan seluruh atribut yang berada di luar golongan termasuk status kewarganegaraan. Konsekuensinya, konsep jihad pun menjadi semacam legitimasi dalam langkah gerak mereka untuk melawan orang-orang yang berada di luar golongan mereka.


Dari gambaran tersebut, terdapat pola yang memang dikembangkan guna menarik perhatian orang-orang agar masuk dan tergabung ke kelompok radikal. Tentunya, hal ini tidak berangkat dari ruang yang kosong. Gambaran bahwa kondisi Islam yang semakin ditekan oleh dunia luar, merebaknya kemaksiatan, serta kondisi sosial yang merugikan umat Islam, dijadikan dalih untuk menggugah kesadaran para anggotanya.


Dari buku ini dapat dipahami bahwa virus-virus radikalisme, ekstrimisme dan hal serupa lainnya mudah menjangkit siapa saja tanpa pilih tanding. Terlebih kepada para kawula muda yang cenderung sedang mencari eksistensi diri. Akan lebih riskan jika tidak sedini mungkin dikenalkan dengan wawasan agama yang menjunjung nilai-nilai akhlaqul karimah dan beradab.


Oleh karenaya, menjadi hal yang cukup penting mendakwahkan Islam yang santun dan ramah, serta menjunjung tinggi moralitas dan nilai-nilai agama substantif. Hal tersebut agar tidak semakin banyak orang-orang yang terjerumus ke golongan dan kelompok radikal. Selamat membaca!
 

Identitas Buku:
Judul:
Hijrah dari Radikal kepada Moderat
Penulis: Haris Amir Falah
Editor: Naufil Istikhari
Penerbit: MILENIA ​​​​​​​
Cetak: 2019
Tebal: xviii + 201 halaman
ISBN: 978-623-91648-1-2
​​​​​​​Peresensi: Abdul Azis Fatkhurrohman, Ketua Kader Muda angkatan I, Aswaja NU Center Ponorogo.


Pustaka Terbaru