• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 27 September 2022

Pustaka

Hati Suhita: Menyelami Makna Ketulusan Cinta dan Pengabdian

Hati Suhita: Menyelami Makna Ketulusan Cinta dan Pengabdian
Novel Hati Suhita, karya Khilma Anis. (Foto: Istimewa)
Novel Hati Suhita, karya Khilma Anis. (Foto: Istimewa)

Cinta seperti tidak ada habisnya untuk dibicarakan. Seluruh aspek kehidupan selalu membutuhkan cinta, bahkan ruh dari keimanan adalah mahabbah atau cinta. Namun, cinta seringkali keluar dari fitrahnya saat manusia telah kehilangan cara untuk mengendalikannya. Dan, novel romance berjudul ‘Hati Suhita’ karya Khilma Anis ini menyajikan makna cinta bersama lekatnya iman, sangat bermanfaat untuk tetap mempertahankan agar cinta tidak berubah wujud jadi kesalahan.


Khilma Anis, penulis kelahiran Jember, 4 Oktober 1986 lalu ini dalam tulisannya menjadikan kehidupan pesantren sebagai latar ceritanya. Hal itu tentu tidak mengherankan karena dirinya dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Misalnya saat MTs, ia mondok di Pondok Pesantren Al-Amien Sabrang, Ambulu, Jember. Masa Aliyah ia habiskan di Pesantren Assaidiyah Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Dan saat kuliah, ia nyantri di Pesantren Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta.


Novel Hati Suhita bercerita tentang budaya perjodohan, sebagaimana kerap dialami bagi kalangan pesantren. Tapi, kisah ini menjadi begitu menyayat hati pembaca karena salah satu di antara suami istri tersebut belum selesai dengan masa lalunya.


Gus Birru, suami dari Alina Suhita hasil perjodohan tersebut cukup dibilang tidak memiliki ketertarikan untuk melanjutkan dinasti pesantren milik orang tuanya, meski ia adalah putra tunggal yang sangat diharapkan. Ia seorang aktivis pergerakan yang selalu menyuarakan hak dan kebebasan setiap orang. Namun, di bawah permintaan orang tua yang biasa dipanggilnya Umik, ia gagal mempertahankan kebebasannya sendiri.


Kemudian, hadirlah Suhita, seorang putri dari kiai besar yang sejak awal digadang-gadang dan dipersiapkan menjadi menantu tunggal Keluarga Pesantren Al-Anwar, milik keluarga Gus Birru. Suhita adalah perempuan yang sangat menanamkan nilai lakon wayang Jawa dalam dirinya. Pribadi yang rendah hati, serta memiliki tangan dingin untuk mengayomi dan mengembangkan pesantren milik keluarga Gus Birru tersebut.


Kendati demikian, seluruh kelebihannya tidak serta merta membuat Gus Birru dapat mencintainya, bahkan hingga tujuh bulan lamanya. Sebab, di hati dan kehidupan Gus Birru, tersimpan senyum dan banyak kenangan dengan seorang wanita bernama Ratna Rengganis. 


Suhita semakin kehilangan kekuatan saat dirinya bertemu dengan perempuan tersebut, Rengganis adalah perempuan yang cerdas, pandai bergaul dan menempatkan diri, serta layak untuk disebut sebagai ratu.


'Mikul duwur mendem jeru' mutlak diterima Suhita tanpa penolakan. Sebab baginya, menjadi wanita juga harus berani bertapa. Sebagaimana dalam bahsa Jawa, wani-ta, memiliki arti wani tapa atau berani bertapa. Namun, berkat kesabaran, keikhlasan, dan pengabdian yang begitu tulus, serta keimanannya pada Sang Kuasa, akhirnya ia berhasil mendapatkan cinta yang selama ini ia inginkan. Cinta Gus Birru.
 


Novel ini menyajikan bacaan dalam banyak sudut pandang, itu kelebihannya. Mulai dari pandangan Suhita, Gus Birru, bahkan Rengganis. Sehingga pembaca dituntun untuk tidak menghakimi bahkan membenci salah satu tokoh di dalamnya. Tidak ada tokoh antoganis dalam novel ini. Justru, Hati Suhita menyadarkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, sama-sama tidak sempurna. Bahkan, membuat pembaca sadar, bahwa di balik perlakuan setiap orang selalu menyimpan sebuah alasan, yang jika memahaminya, maka hanya cinta kasih yang bisa dipersembahkan untuk sesama.
 

Identitas Buku:
Judul:
Hati Suhita
Penulis: Khilma Anis
Penerbit: Telaga Aksara ft Mazaya Media
Tahun Terbit: 2019
Tebal: 405 Halaman
ISBN: 978-602-51017-4-8
Peresensi: Rahma Salsabila, pengurus Lembaga Jurnalistik PC IPPNU Kabupaten Pasuruan dan Mahasiswi PAI semester IV STAI Salahudin Pasuruan.


Pustaka Terbaru