Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Begini Pesan Gus Dur pada Hari Kebangkitan Nasional

Begini Pesan Gus Dur pada Hari Kebangkitan Nasional
Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid alias Gis Dur. (Foto: NOJ/RMl)
Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid alias Gis Dur. (Foto: NOJ/RMl)

Surabaya, NU Online Jatim

Bangsa Indonesia memiliki peristiwa yang cukup penting yakni Hari Kebangkitan Nasional atau Harkitnas. Kegiatan tersebut diperingati setiap 20 Mei dan menjadi refleksi bagi seluruh elemen bangsa untuk terus meneladani perjuangan para pendiri negeri.

 

Di hari yang sarat makna itu, ada baiknya seluruh komponen bangsa menyadari kesalahan yang dilakukan. Pada saat yang sama berani menerima masukan agar kebangkitan secara kolektif dapat benar-benar tercipta.

 

Dalam sebuah kesempatan, mendiang KH Abdurrahman Wahid mengemukakan bahwa persoalan utama yang sedang dihadapi bangsa Indonesia di Harkitnas adalah ketidakjujuran. Celakanya hal tersebut ditunjukkan oleh para pemimpin negeri ini.

 

 

Dalam pandangan Gus Dur, ketidakjujuran dapat diukur dari komitmen penegakan hukum dan pengutamaan kepentingan umum.

 

“Kebangkitan nasional kita telah dinodai oleh adanya ketidakjujuran. Hukum kita masih tebang pilih. Mahkamah Agung itu tugasnya mengawasi penegakan hukum agar hukum bisa bunyi, kok malah jadi penakut,” katanya dalam dialog peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Jakarta, beberapa waktu silam.

 

Demikian  pula yang juga harus menjadi perhatian bersama, khususnya ini dilakukan para pemimpin bangsa yang terpilih lewat pesta demokrasi yakni memastikan kesejahteraan rakyat.

 

“Yang terpenting dalam kebangkitan nasional itu ya keadilan dan kesejahteraan,” ungkapnya.

 

Meski kebangkitan nasional Indonesia telah dirusak oleh bangsa sendiri, demikian Gus Dur, hari kebangkitan nasional tetap perlu untuk diperingati.

 

Menurutnya, momen kebangkitan nasional sangat perlu untuk memompa kembali semangat nasionalisme yang semakin terkikis oleh globalisasi.

 

Gus Dur mengingatkan, kebangkitan nasional pada masa berdirinya budi utomo, 1908, berbeda dengan kebangkitan nasional di era globalisasi.

 

“Dua hal yang perlu dihindari adalah fundamentalisme agama Islam dalam merespons globalisasi dan nasionalisme yang sempit,” tegasnya.

F1 Promosi Iklan