Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Saat Ikhlas Harus Diuji dengan Realita

Saat Ikhlas Harus Diuji dengan Realita
Fawaizul Umam dan tragedi mobil atret. (Foto: NOJ/Ist)
Fawaizul Umam dan tragedi mobil atret. (Foto: NOJ/Ist)

"Mobil itu tempatnya di garasi. Jangan ditempatkan di hati. Kalau ditempatkan di hati, punya mobil bagus, tinggi hati. Mobil tetangga lebih bagus, iri hati. Mobil bheret kegores, pasti sakit hati."

Begitulah salah satu penggalan tutar-tutur Fawaizul Umam pada sebuah acara Maulid.

 

Pulangnya, insiden kecil terjadi. Saat mundur mau meninggalkan lokasi acara, mobil baru milik dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember tersebut, menatap tembok.

 

Spontan dirinya turun melakukan pengecekan. Ternyata? Bemper penyok. Sejumlah panitia yang mengawal parkir terlihat ketakutan, dan segera meminta maaf.

 

Alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini mencoba untuk sabar dan ikhlas. Kepada panitia dikatakan tidak masalah. Sejurus kemudian dia melempar senyum kepada mereka. Namun terkesan sok bijak, menyembunyikan kesal.

Seketika dia meninggalkan lokasi dengan hati mendongkol. Istrinya yang ada di samping kemudi bertanya, kira-kira seberapa parah kerusakan bemper, namun tidak ditanggapi. Kala itu dirinya kesal, sehingga membuat males untuk berbicara. Dan mobil pun terus melaju.

Tiba-tiba istrinya terkekeh, tawanya pecah. Menertawakan sang suami.

"Sampean langsung seketika diuji Allah, Yah. Makane, ojo sok-sokan nuturi wong agar zuhud nang dunyo. Mobile kebentur dikit ae mecucu, ha ha,” katanya dengan tawa renyah tanpa beban.
 

Fawaiz, sapaan kesehariannya diam aja. Olok-oloknya membuat dirinya malu. Kekesalannya rasanya jadi semakin lengkap sempurna.

Esok paginya, bersama istri, mobil segera dibawa ke bengkel. Ternyata tidak sampai pecah, cuma dekok dan cat terkelupas di beberapa bagian. Setelah dua jam menunggu, selesai. Mobil kembali mulus. Biayanya cuma Rp400an ribu.

 

Saat itu juga dia memberikan isyarat agar sang istri segera membayar.

"Lho, kok aku? Kan yang nabrakno sampean, masak aku yang kudu mbayari?" protesnya.
 

"Sudahlah," kata Fawaiz. "Aku sudah membelikannya untukmu. Iki mobilmu. Masak kudu aku juga yang mbayari?"

Sang istri pun bangkit menuju kasir, sambil bersungut-sungut. Kini dia yang giliran merengut kesal.

Saat di mobil, Fawaiz mencoba mengulangi lagi penggalan ceramah semalam. Dengan sedikit modifikasi. Kata "mobil" diganti "duit".

"Duit itu tempatnya di dompet. Jangan ditempatkan di hati. Kalau ditempatkan di hati, punya duit banyak, pasti tinggi hati. Tetangga punya duit lebih banyak, iri hati. Duit berkurang diminta kasir, sakit hati..."

Kala itu Fawaiz mengucapkan dengan gaya dai sejuta umat, KH Zainuddin MZ. Reaksinya? Sang istri makin dongkol, bibirnya tengkurep. Sementara gelak Fawaiz kian panjang.. Puas rasanya dia membalas sang istri.

Tak mau kalah, sang istri merespons ketus dengan ungkapan masyhur Madura, "Mangkana, mun tak hadza, jhak dza ma hadza. Ini gara-gara sampean dza ma hadza!"

Tawa Fawaiz makin panjang. Akhirnya, sang istri ikut ketawa. Keduanya pun kompak tertawa. Ya, menertawakan diri sendiri.

F1 Promosi Iklan