• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 21 Mei 2022

Risalah Redaksi

Kepergian Katib PWNU Jatim dan Amanah Supremasi Ulama

Kepergian Katib PWNU Jatim dan Amanah Supremasi Ulama
KH Syafrudin bersama sejumlah kiai di Jatim memperjuangkan konsep Ahlul Halli wal Aqdi atau Ahwa. (Foto: NOJ/Syaifullah)
KH Syafrudin bersama sejumlah kiai di Jatim memperjuangkan konsep Ahlul Halli wal Aqdi atau Ahwa. (Foto: NOJ/Syaifullah)

Seperti namanya, bahwa Nahdlatul Ulama (NU) adalah kebangkitan mereka yang memiliki ilmu. Para pendiri atau muassis jamiyah ini menyadari sejak awal bahwa para cerdik cendikiawan, termasuk dalam masalah agama Islam telah tersedia. Mereka tersebar di sejumlah pulau, utamanya di Jawa.


Hanya saja, keberadaan ulama semata tidak cukup bila tidak diimbangi dengan semangat untuk berkhidmat kepada negeri. Kalau yang mengemuka saat itu adalah imperialisme, maka perlawanan yang harus ditunjukkan oleh para ahli ilmu termasuk di dalamnya adalah ilmu agama adalah bangkit atau nahdlah.


Dan dengan menggunakan beragam cara, akhirnya para ulama berhasil menyadarkan sejumlah kiai, ibu nyai, guru ngaji dan ustadz untuk melakukan langkah nyata untuk menyelesaikan problematika umat. Tantangan dari internal maupun eksternal perlahan namun pasti dicarikan jalan keluarnya.


Pada prinsipnya, kalau pemuka agama dan ahli ilmu lainnya bergerak dan bangkit, maka sebagian besar permasalahan bangsa tentu akan dapat diurai lebih mudah. Tentu saja kondisinya akan berbalik kalau kesadaran untuk bangkit tersebut tidak muncul. Maka yang terjadi adalah, keluhan yang kerap disampaikan warga tidak akan menemukan jalan keluar yang memuaskan.


Terjadi peperangan usai kesadaran kolektif itu muncul adalah bukti nyata bahwa peran kiai dan ulama demikian dominan. Lewat Resolusi Jihad, maka perlawanan kaum santri bersama rakyat kebanyakan dilakukan dengan lebih terkonsolidasi. Dan dari hal tersebut akhirnya berbuah manis. Sampai pada ujungnya, kemerdekaan dapat terproklamirkan di tengah kekhawatiran perang yang akan kembali berkecamuk.


Demikian pula, para ulama berhimpun dan kemudian bangkit sebagai panggilan jiwa. Karena sejumlah amaliah dan tradisi khas Islam dengan khazanah yang melingkupi akan terberangus seiring dengan pergantian kekuasaan di Saudi Arabia.


Kembali para ulama hadir dan melakukan negosiasi sehingga sejumlah situs termasuk kuburan nabi Muhammad SAW dapat diselamatkan dari penggusuran. Demikian pula tujuan lain dapat tercapai saat kekuatan ulama bersatu padu dan mengawal perbaikan umat dengan segala tantangan khasnya di beberapa kawasan.


Sumbangsih para ulama tidak berhenti sampai di situ, bahkan saat awal negeri ini terbentuk dan hingga kini. Banyak pertimbangan dan masukan yang diberikan kepada pemangku kebijakan negeri, meski risikonya adalah tidak lagi diperhatikan, bahkan dimusuhi penguasa.


Itulah yang membedakan ulama dengan kalangan lain dalam berkhidmah. Meminjam istilah yang digunakan kepada para pejuang yang menampung mereka yang hijrah, para ulama boleh dikata sebagai kalangan anshar atau penolong. Kadang tidak memperhatikan kepentingan diri, justru yang dikedepankan adalah kebutuhan umat. Tak pernah berharap apa kala berjuang, namun ikhlas lillahi taala.


Dan perjuangan seperti itulah yang terus diperjuangkan kalangan ulama yang terhimpun dalam NU. Dan sadar akan ketinggian dan keluhuran akhlak dan perilaku ulama, maka di jamiyah ini demikian menghormati ulama.


Pergeseran Nilai

Akan tetapi, seiring perjalanan waktu, terjadi banyak pergeseran. Di sejumlah kepengurusan NU, tidak sedikit ditemukan disharmoni. Celakanya, hal tersebut terjadi di tingkatan kepengurusan inti. Karena kepentingan tertentu, seperti pemilihan kepala daerah dan sejenisnya, akhirnya terjadi hal yang tidak diharapkan.


Ikhtiar untuk mengembalikan supremasi ulama juga dilakukan di NU. Salah satunya dengan memberlakukan sistem Ahlul Halli wal Aqdi atau Ahwa bagi pemilihan jabatan tertinggi di NU yakni rais aam di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) maupun rais di berbagai kepengurusan level di bawahnya.  


Kesadaran ini muncul karena sudah banyak ditemukan ketidak selarasan tersebut. Dan bila hal utu terjadi, jangan berharap khidmat kepada umat akan dilakukan. Bagaimana mungkin, melakukan perbaikan untuk umat, sedangkan di internal jamiyah sendiri ada persoalan pelik.


Nah, salah satu tokoh yang melakukan ikhtiar serius dalam mengembalikan supremasi ulama di NU adalah KH Syafrudin Syarif. Sejak Muktamar ke-32 di Makassar, sejumnlah diskusi diselenggarakan. Di berbagai kesempatan, Kiai Syarfudin yang juga sebagai Katib Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mencoba meyakinkan berbagai kalangan terkait hal ini.


Karena itu tidak berlebihan kalau kemudian alumni Pesantren Lirboyo, kediri tersebut dikenal sebagai konseptor dan pejuang dari konsep Ahwa yang kini digunakan dalam pemilihan rais aam dan rais di NU.


Tercatat, sebelum pelaksanaan Muktamar ke-32 NU di Makassar, konsep Ahwa sudah mulai didiskusikan di internal PWNU Jatim. Dan Kiai Syafrudin adalah salah satu tokoh kuncinya, tentu bersama pengurus yang lain. Filosofi dan konsepnya dibicarakan serius dengan melibatkan beragam kalangan.


Bila diskusi telah rampung digelar, dirinya yang ditunjuk sebagai juru bicara dan melayani banyak kalangan, termasuk insan media untuk menjelaskan Ahwa yang sesungguhnya. Dan upaya tersebut terus dilakukan di banyak ajang, termasuk yang terakhir yakni Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta, sebelum Muktamar ke-34 NU di Lampung.


Setelah sukses dengan konsep Ahwa yang harus diterapkan di pemilihan rais aam dan rais, berikutnya Kiai Syafrudin berupaya meyakinkan pengurus NU khususnya di luar Jawa Timur. Bahwa konsep Ahwa juga harus diberlakukan pada pemilihan ketua umum dan ketua di NU. Namun hingga kini, wacana ini masih menimbulkan penolakan dari berbagai kalangan.


Demikianlah yang dilakukan Kiai Syafrudin. Dirinya tidak akan lelah dalam meyakinkan pengurus harian NU akan pentingnya supremasi ulama yang ditunjukkan dengan pemilihan model perwakilan, bukan one man one vote. Karena kalau itu yang terjadi, sedangkan pemilihan rais aam dan rais dilakukan melalui perwakilan, maka dikhawatirkan akan mengurangi legitimasi.


Dalam sebuah diskusi informal, banyak sekali gagasan yang disampaikan Kiai Syafrudin bagi masa depan NU. Hal tersebut sebagai upaya menjaga warisan leluhur yang keberadaan jamiyah ini demikian dielukan. Oleh sebab itu, dalam pandangan Kiai Syafrudin dan tokoh lain adalah bagaimana memastikan sistem yang ada di NU semakin baik dan menjamin terpilihnya kader harapan.


Sangat disayangkan, Kiai Syafrudin berumur pendek. Pada Ahad (08/05/2022) sekira pukul 12.58 WIB, pegiat bahtsul masail ini menghembuskan nafas terakhir, innalillahi wainna ilaihi rajiun. Dan tentu saja perjuangan dalam menjaga muruah dan haibah ulama, sekaligus NU seharusnya terus dikawal.


Memang perjuangan tersebut sepertinya akan membutuhkan waktu yang demikian lama dan bisa jadi berliku. Dan sebelum semuanya dapat berjalan sesuai harapan, sang konseptor dan pejuang Ahwa ini akhirnya harus wafat. Karenanya, tugas para ulama, kiai sepuh dan kalangan muda untuk meneruskan perjuangan luhurnya. Harapannya, jamiyah ini tetap menjaga supremasi ulama dengan menjadikan mereka menempati derajat mulia.


Editor:

Risalah Redaksi Terbaru