• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 7 Desember 2022

Tapal Kuda

Ketua Ranting NU di Pasuruan Ini Pernah Jadi Pasukan Berani Mati Gus Dur

Ketua Ranting NU di Pasuruan Ini Pernah Jadi Pasukan Berani Mati Gus Dur
Ustadz M Samian, Ketua Pengurus Ranting NU Jetis. (Foto: NOJ/ Makhfud Syawaludin).
Ustadz M Samian, Ketua Pengurus Ranting NU Jetis. (Foto: NOJ/ Makhfud Syawaludin).

Pasuruan, NU Online Jatim

Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Jetis, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sidogiri, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan, Ustadz M Samian ternyata pernah menjadi pasukan berani mati membela KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.


Ketika itu Gus Dur hendak dilengserkan dari jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia pada pertengahan tahun 2001 silam.


"Per Ranting diambil dua. Yang mau cuma saya dan sekretaris Ansor Desa Dhompo Cak Wahid. Ke Jakarta menggunakan baju biasa, bukan seragam Banser (Barisan Ansor Serbaguna)," ujarnya kepada NU Online Jatim, Jumat (20/05/2022).


Ia kemudian berangkat berjalan kaki dari Dusun Jetis, Desa Dhompo yang berjarak sekitar 3 kilometer menuju Lapangan Sidogiri dengan ditemani oleh istri dan keluarga. Selanjutnya naik bus bersama rombongan menuju Jakarta.


"Umur 25 saat saya ke Jakarta. Anak pertama saya masih bayi, tak tinggal. Di Jakarta saya ingat, gimana anak saya nanti," imbuh Alumni Pondok Pesantren Sidogiri itu.


Dalam perjalanan menuju Jawa Barat, ternyata bus dari Pasuruan tertinggal dari bus lainnya. Padahal akan melewati hutan yang rawan begal.


"Memang iya. bus ini dihadang 3 orang. Di sini (penumpang) sudah siap. Wah tepak iki (benar ini). Turun semua. Melihat ada banyak yang bawa rotan, (begalnya) lari ke dalam hutan," tuturnya.


Sesampainya di Jakarta, dirinya bersama ratusan orang tidur di halaman Monumen Nasional (Monas). Ternyata saat tengah malam, Gus Dur datang menemui rombongan. Meminta agar besok tidurnya di Asrama Haji.


"Besok jangan tidur di sini lagi. Nanti masuk angin (menirukan kata-kata Gus Dur). Kata teman-teman, sudah biasa Gus. Kami juga sering tidur di mushala dulu (sembari tertawa akrab)," imbuh pengusaha mebel itu.


Ustadz Samian menyampaikan, setidaknya ada beberapa hal yang membuat rombongan berani dan tidak takut mati ketika mendukung Gus Dur. Di antaranya, saat perjalanan sudah mengkonsumsi pisang yang diberikan KH M Amir Kholili Susukan Rejo. Kemudian membawa Rotan dari KH Abdulloh Siroj Sidogiri.


"Itu kalau di lapangan (demontrasi), ada Gus Suadi. Jadi seakan-akan tambah berani. Kiai ikut di dalam situ. Tambah berani," lanjut pria yang aktif kegiatan Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) itu.


Meski demikian, ia dan rombongan akhirnya harus pulang sebagaimana perintah Gus Dur. Agar tidak terjadi keributan yang dapat menimbulkan korban dari masyarakat Indonesia karena urusan politik.


"Memang dari Gus Dur sendiri, suruh pulang. Itu diumumkan pada malam keempat (kami di Jakarta). Datang (Gus Dur) ke Asrama Haji. Kami disuruh pulang," pungkasnya.


Editor:

Tapal Kuda Terbaru