• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 29 Mei 2024

Tapal Kuda

Kiai Abdur Rahman Paparkan Hakikat Halal Bihalal

Kiai Abdur Rahman Paparkan Hakikat Halal Bihalal
Kiai Abdur Rahman saat menyampaikan tausiyah keagamaan di SMPN 1 Kalisat, Jember. (Foto: NOJ/Wildan Miftahussurur)
Kiai Abdur Rahman saat menyampaikan tausiyah keagamaan di SMPN 1 Kalisat, Jember. (Foto: NOJ/Wildan Miftahussurur)

Jember, NU Online Jatim

Halal bihalal kerap kali dikaitkan dengan perayaan hari raya Idul Fitri. Istilah ini muncul untuk menyatakan silaturahim yang dilakukan antar keluarga muslim sembari bermaaf-maafan. Namun masih banyak berbagai hal yang belum diketahui dalam istilah unik ini.


Kiai Abdur Rahman memaparkan berbagai hakikat yang ada di dalam istilah halal bihalal. Hakikat halal bihalal erat kali dengan perbuatan manusia selama hidup bersama. Kenyataannya, perjalanan hidup manusia tidak bisa luput dari dosa.


“Dosa yang kerap kali dilakukan manusia adalah kesalahan kepada sesama, bisa seperti iri hati, dengki, enggan bertegur sapa, dan saling menyimpan rasa dendam dan dengan halal bi halal kita gugurkan itu semua dengan saling bermaafan,” ujarnya saat di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kalisat Jember, Jum’at (12/04/2024).


Menurutnya, tujuan halal bihalal adalah untuk saling memaafkan dan menggugurkan berbagai dosa. Selain itu, keilmuan fikih juga memiliki peran dalam membangun hakikat yang ada, bahkan menunjukkan arti penting yang dapat dikaitkan dengan bermaaf-maafan.


“Halal bihalal juga bisa ditelaah dari ilmu fikih, halal adalah lawan kata dari haram yang sendirinya bermakna dosa atau perbuatan yang akan dimurkai oleh Allah SWT, maka konteksnya halal bihalal adalah penyelesaian problem yang terjadi, meluruskan benang kusut dan mencairkan suasana yang beku,” terangnya.


Rais Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kalisat, Jember ini juga memberikan pandangan dari hadist yang bisa jadi rujukan dalam melangsungkan halal bihalal, ternyata juga memiliki faedah untuk mendatangkan rezeki, memanjangkan umur dan berbagai faedah saat dilangsungkan.


Rasulullah SAW pernah bersabda,


مَن أحبَّ أن يُبْسَط له في رزقه، وأن يُنسأ له في أثره فليصل رحمه،


Artinya: Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahmi.


“Maksud dari silaturahmi di sini adalah tidak jauh dari halal bihalal itu sendiri,” jelasnya.


Di akhir tausiyahnya, Kiai Abdur Rahman memberikan penjelasan utama hakikat dari halal bihalal tidak lain adalah menggugurkan berbagai dosa yang telah dilakukan sadar dan tanpa sadar.


“Maka kesimpulannya makna mendalam halal bihalal adalah kegiatan saling bermaafan atas kesalahan melalui silaturahim sehingga manfaatnya dapat mengubah hubungan benci menjadi senang, sombong jadi rendah diri dan dosa menjadi pahala, yakni pahala dari ikhlas memaafkan,” pungkasnya.


Tapal Kuda Terbaru