• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Tapal Kuda

Perjalanan Riska Amelia, Miss Hijab Jawa Timur 2022 Asal Pasuruan

Perjalanan Riska Amelia, Miss Hijab Jawa Timur 2022 Asal Pasuruan
Riska Amila Juara 1 Miss Hijab Jawa Timur 2022. (Sumber foto: Instagram pribadi @riskamalia14-)
Riska Amila Juara 1 Miss Hijab Jawa Timur 2022. (Sumber foto: Instagram pribadi @riskamalia14-)

Pasuruan, NU Online Jatim

Riska Amelia merupakan gadis berusia 21 tahun asal Desa Wonorejo, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan yang baru saja meraih penghargaan sebagai juara pertama Miss Hijab Jawa Timur 2022. Ajang ini diselenggarakan secara terbuka di Grand City Mall Surabaya pada 6 Agustus lalu.


Menurut Riska, setelah dirinya mengikuti audisi pada bulan Juli di Malang hingga lolos di tahap semifinal dan grandfinal yang digelar di Surabaya, ia diharuskan mengikuti masa pra-karantina secara virtual. Dalam masa karantina itu meliputi kelas public speaking, personal branding, dan advokasi.


"Kemudian masa karantina dilaksanakan secara offline. Di dalamnya terdapat catwalk class, choreo dance, hingga beauty class," imbuhnya.


Adapun kriteria penilaian pada kompetisi tersebut meliputi banyak aspek, yakni cara duduk, berjalan, interaksi, kemampuan berkomunikasi yang baik serta lainnya.


"Di antara 20 finalis se-Jawa Timur yang ada, alhamdulillah saya bisa memenangkan Miss Hijab Jawa Timur 2022 ini. Karena ini merupakan perjalanan yang hebat dan berkesan bagi saya," terangnya.


Ia menuturkan, selama event Miss Hijab berlangsung, dirinya juga harus berjuang menyeimbangkan waktu guna melaksanakan tugas sebagai mahasiwi semester 6 di Universitas Yudharta Pasuruan.


"Di saat yang bersamaan, saya sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Prigen, salah satu daerah di Pasuruan yang berada di bawah kaki gunung, terlebih saya juga sekretaris KKN yang harus mempersiapkan laporan dan sebagainya," jelasnya.


Kendati demikian, semangatnya untuk melanjutkan jalan yang dipilihnya tidak pernah redup. Anak perempuan satu-satunya dari 3 bersaudara itu rela pulang pergi setiap hari dari lokasi KKN menuju Surabaya. "Saya harus menyetir sepeda sendiri dan naik bus," ujarnya.


Hal tersebut, menurutnya berbanding terbalik dengan kompetisi yang diikuti sebelumnya, sebab saat ini dituntut mandiri tanpa keberadaan sang ayah.


"Dulu saya tinggal duduk manis didampingi (ayah), tapi sekarang semuanya dituntut untuk bisa sendiri," ucap gadis yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua (Waka) Organisasi Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Wonorejo, Kabupaten Pasuruan tersebut.


Ia berbendapat, sebagai perempuan muslimah sudah bukan saatnya hanya menjadi objek dan harus turut berperan menjadi subjek. Memanfaatkan segala hal yang ada di sekitar, mensyukuri dan selalu berpikir positif pada setiap langkah yang sudah dijalankan.


"Sudah bukan alasan berhijab itu menjadi penghalang, serupa matahari yang tidak kehilangan terangnya saat tertutupi awan, begitu juga cantikmu yang tidak akan pudar dengan balutan hijab cantikmu, be yourself and be inspiration," pungkas santri Alumni Pondok Pesantren Ngalah itu.


Editor:

Tapal Kuda Terbaru