• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Maret 2024

Tapal Kuda

Prof Laili, Temukan Makna Islam dan Hijab di Negara Paman Sam

Prof Laili, Temukan Makna Islam dan Hijab di Negara Paman Sam
Prof Laili (tengah). (Foto: NOJ/MC)
Prof Laili (tengah). (Foto: NOJ/MC)

Surabaya, NU Online Jatim

Melanjutkan pendidikan ke luar negeri merupakan impian setiap orang. Terlebih ke negara maju dengan politik dan pendidikan yang maju sehingga bisa melahirkan ilmuwan muda dunia.

 

Prof. Lailatul Fitriyah, Ph.D. ialah sosok muslimah dari Kabupaten Jember yang berhasil menempuh pendidikan S2 dan S3 di luar negeri, tepatnya Universitas Notre Dame sebagai perguruan tinggi Katolik Roma terkemuka yang terletak di Indiana, Amerika Serikat.

 

Saat ini, Prof Laili menjadi Asistant Profesor Claremont School of Theology, Los Angeles, USA, dan Visiting Profesor di Universitas of Toronto Canada.

 

Kendati berada di negara minoritas muslim, ia justru menemukan makna dan nilai Islam di Amerika. Ia berusaha menguak pertanyaan yang selama ini ada di dalam benaknya terkait alasan perlunya berhijab. Karena selama ini, ia merasa berhijab adalah perintah dari orang tua dan dilarang oleh Allah. Ia belum menemukan makna atau hakikat dari hijab itu sendiri.

 

“Terkait dengan pemikiran mengapa perempuan harus berhijab, maka saya terus mencari alasan mengapa saya harus pakai hijab, bukan masalah kepanasan atau tidak nyaman. Tapi saya ingin menggeluti pertanyaan itu dengan berjuang sendiri mencari jawabannya,” terangnya.

 

Singkat cerita, saat menempuh pendidikan S2 dan S3 di Amerika Serikat, ia malah menemukan hakikat atau makna dari pentingnya hijab itu sendiri.

 

“Saya temukan jawabannya ketika di Amerika. Karena Amerika adalah negara yang rasis. Memandang keimanan seseorang lewat luar atau fisik. Dengan berjilbab orang disana akan tahu bahwa ada mahasiswa muslim yang menempuh S3, dengan berjilbab saya merasa nyaman dengan agama saya,” ujarnya.

 

Prof Laili merasa bahwa penggunaan hijab di pesantren itu masih dipaksakan. Justru di negara yang minoritas muslim ingin selalu memakai hijab. Ia mengkritik pengajar Islam seperti misalnya kiai, bu nyai, ustadz dan ustadzah bahwa mengajar agama itu tidak bisa dipaksakan.

 

“Disiplin itu salah satu bagian dari agama seperti sholat 5 waktu tapi ada hal hal yang memang tidak bisa dipaksanaan. Seperti, mengapa aku harus sholat, mengapa harus berhijab dan mengapa harus berpuasa. Orang itu harus mencari tahu sendiri megapa dia perlu melakukan itu. Saya sejak kecil sudah didisiplinkan oleh abah saya untuk memakai hijab sejak 5 tahun. Sampai saya di pondok masih belum ketemu jawaban batin saya dulu,” ungkapnya.

 

Akhirnya ia melahirkan asumsi bahwa jangan menyalahkan pertanyaannya, karena itu adalah tantangan untuk menemukan jawabannya. Bahkan dalam wahyu pertama, Allah memerintahkan kita untuk membaca, bukan hanya teks tetapi juga fenomena dan renungan alam semesta yang holistic.

 

“Maka, justru saya menemukan jawaban itu di Amerika , tempat dimana saya menjadi mahasiswa mahasiswa muslim satu satunya di semua jurusan, karena univeritas saya kan katolik. Ketika saya S3, saya itu mahasiswa muslim pertama di departemen teologi,” ucapnya.

 

Ia pun mengambil kesimpulan bahwa di dalam masyarat yang rasis itu, mereka harus melihat keimaman dengan nyata. Jika tidak berhijab, orang Amerika tidak akan pernah tahu bahwa ia muslim.

 

“Tapi kalau saya berhijab identitas kemusliman saya itu terpampang secara nyata. Orang bisa melihat bahwa saya harus memakai ini karena saya harus mereprensentasikan nilai Islam dalam kehidupan saya, membuat orang itu bisa melihat bahwa ada perempuan muslim yang bisa S3, bisa bahasa Perancis, Italia, bisa menjadi ilmuwan dunia,” pungkasnya.


Tapal Kuda Terbaru