• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Tokoh

KH Ahmad Fauzi Sirran, Ulama NU Sumenep yang Ladunni

KH Ahmad Fauzi Sirran, Ulama NU Sumenep yang Ladunni
KH Fauzi Sirran. (Foto: NOJ/jejak.co)
KH Fauzi Sirran. (Foto: NOJ/jejak.co)

Nahdliyin di Kabupaten Sumenep mengenal almaghfurlah KH Ahmad Fauzi Sirran sebagai seorang ulama yang memiliki ilmu ladunni. Pengabdian dan perannya di Nahdlatul Ulama (NU) serta pesantren dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

 

Secara nasab, muassis Pondok Pesantren Al-Ihsan Jaddung, Pragaan, Sumenep ini putra dari pasangan Kiai Sirran dan Nyai Saidah. Diketahui Kiai Sirran seorang pejuang kemerdekaan dan mendirikan pesantren yang lanjutkan oleh Kiai Fauzi.

 

Kiai Fauzi lahir pada tahun 1935. Di waktu kecil, ia dididik langsung oleh ayahnya. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Rakyat (SR), Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk yang saat itu diasuh oleh KH M Ilyas Syarqawi.

 

Kiai Fauzi muda (15 tahun) yang baru saja ditinggal ayahnya, melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dengan membawa bekal sekadarnya. 

 

Dengan berbekal semangat dan restu ibu, ia berangkat lewat jalur laut, tepatnya di pelabuhan Aeng Panas, Pragaan. Setibanya di sana, ia berjalan kaki menuju Sidogiri yang kala itu diasuh oleh Kiai Cholil Nawawi.

 

Selain mengenyam ilmu pengetahuan, kiai kharismatik itu dipercaya oleh gurunya mengajar bahasa Inggris dan Aljabar. Sebelum mengampu materi tersebut, Kiai Ilyas mengajari Kiai Fauzi melalui mimpi.

 

Usai dinyatakan tamat oleh gurunya di Sidogiri, muassis NU Pragaan itu melapas masa lajangnya dengan menikahi Ny Maftuhah binti Kiai Abdullah Sajjad.

 

Dakwah Kiai Fauzi

Pada tahun 1960-an, ia bersama istri dan anak-anaknya menetap di pesantren Annuqayah. Berhubung ada permintaan dari tokoh agama dan masyarakat, ia melanjutkan pesantren yang didirikan ayahnya yang kini dikenal pesantren Al-Ihsan.

 

Di sanalah merintis sekolah formal tanpa mengenyampingkan kitab kuning. Tak hanya itu, ia turba ke mushala sambil berjalan kaki. Yang ia ajarkan, menyoal fikih, seperti tata cara berwudlu, shalat, dan sejenisnya.

 

Dalam penelitian Iwan Kuswandi, Kiai Fauzi memprakarsai yayasan yatim piatu pada tahun 1970-an dan mendirikan yayasan peduli sosial Al-Ikhlas sekitar tahun 2000-an. Bahkan, kiai yang wara itu sangat produktif dalam literasi. Ada beberapa kitab terjemahan Madura, seperti Kifayatul Atqiya, Faraidh, Safinatun Najah, Sullamut Taufiq dan beberapa tafsir ayat Al-Qur'an.

 

Salah satu pesan moral yang diingat oleh santri adalah pentingnya mendahulukan urusan yang lebih penting dan berpikir sebelum bertindak. Selain itu, larangan mempercayai dukun. Sedangkan bagi thalabul ilm, kunci sukses belajar terletak pada ketaatan pada peraturan pesantren.

 

Kiprah di Kancah Politik

Di era reformasi, Kiai Fauzi dipercaya menjadi penasehat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumenep. Tak heran, KH M Ramdlan Siradj dan KH A Busyro Karim (mantan bupati) sering sowan, meminta restu dan doa kepadanya. 

 

Banyak sekali kalangan ulama, pejabat pemerintah dan masyarakat yang sowan kepada Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep itu. Biasanya, tamu dari kalangan ulama meminta pada beliau untuk memecahkan persoalannya dengan jalan shalat istikharah. Tak ada satupun hasil istikharahnya luput, semuanya jadi kenyataan.

 

Kiai yang tak pernah absen dalam sidang Bahtsul Masail di NU ini memiliki kebiasaan yang dikenang masyarakat adalah kesehariannya tidak lepas dari berzikir, membaca Al-Qur'an, dan berpuasa sunnah. Konon, di awal pernikahannya, ia berpuasa 40 hari, ditambah tidak berbicara dengan orang lain.

 

Kiai Fauzi wafat dalam keadaan berpuasa. Pasca operasi, ia berkata bahwa orang yang dioperasi, 10 tahun lagi ajalnya akan datang. 10 tahun menjelang kewafatan, setiap ba'da ashar selalu menangis. Perkataannya benar-benar terbukti nyata. Kini jenazah almarhum dikebumikan di kompleks pemakaman keluarga Al-Ihsan.


Tokoh Terbaru