• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 7 Februari 2023

Tokoh

Pesantren Mojosari dan Tirakat Kiai Ali Imron

Pesantren Mojosari dan Tirakat Kiai Ali Imron
Pesantren Mojosari Loceret Nganjuk (Foto:NOJ/laduni.id)
Pesantren Mojosari Loceret Nganjuk (Foto:NOJ/laduni.id)

Pesantren Mojosari merupakan pesantren yang didirikan oleh Kiai Ali Imron pada tahun 1720 M. Lokasinya berada di Loceret, Nganjuk Jawa Timur yang pada hari ini (24-25 Desember 2022) digunakan untuk acara Muskerwil NU Jawa Timur dengan tema Mendigdayakan Nahdlatul Ulama Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru.


Pesantren ini tergolong antik dan unik namun di balik keunikan tersebut telah melahirkan banyak tokoh besar seperti KH. Abd Wahab Hasbullah, KH. Ahmad Djazuli Ploso, KH.Toha Bandar Kidul, KH. Fattah Mangunsari Tulungagung.


Seringkali santri yang baru mondok di pesantren ini langsung disambut para santri Mojosari, digendong dan diarak ramai-ramai sambil membaca sholawat. Bila santri tersebut berani melawan, maka para santri Mojosari memasukkannya ke dalam kamar dan digojloki habis-habisan.


Tidak hanya santri baru, tamu yang berkunjung ke pesantren ini juga tidak luput dari keusilan para santri Mojosari, hingga tamu itu melapor kepada KH. Zainuddin Mojosari, pengasuh pesantren generasi kelima. Beliau pun memarahi para santri bahkan sampai memukul dengan tongkat.


Akan tetapi tradisi usil ini tidak pernah hilang, hingga KH. Zainuddin pasrah dan menganggap itu sebagai tradisi bawaan pesantren. Menurut penuturan KH. Manshur Mojosari yang terekam dalam buku Sang Blawong, KH. Zainuddin mengatakan: Biarkan saja mereka nakal, ibarat padi mereka masih muda, wajarlah bila tengadah, nanti jika mereka sudah berisi akan merunduk dengan sendirinya.


Suasana harian pondok ini sangat berbeda dengan pondok salafiyah lainnya. Perbedaan itu tampak ketika para santri Mojosari banyak yang cangkrukan, ngobrol bebas, akan tetapi istiqomah mengaji dan rajin sholat berjamaah. Padahal pada umumnya di pesantren salafiyyah lain tampak banyak santri riyadhoh, tirakat, ngerowot, mutih.


Namun dari sini keakraban atau ukhuwah antar santri terbangun dengan solid. Tidak ada pembedaan status sosial di pesantren ini. Semua sama. Bahkan santri yang mendapatkan rejeki berupa jajan bisa dipastikan jajan itu langsung ludes habis. Jika tidak berbagi, maka akan digojloki dan diusili.


Dalam keterangan buku Sang Blawong disebutkan bahwa keunikan pesantren Mojosari tidak terlepas dari tirakat sang pendiri pondok, yakni Kiai Ali Imron. Kiai yang berasal dari Grobogan Purwodadi ini diperintah oleh Kiai Salimin Lasem untuk tirakatan di tempat angker yang kelak menjadi pesantren Mojosari.


Di tengah tirakatan itu, Kiai Ali Imron berkata: Santri-santri yang belajar di pondok ini kelak tak perlu puasa dan tirakat macam-macam, seluruh tirakat aku yang menanggung. Pokoknya mereka mau mengaji dengan tekun disini, insyaallah diberkahi.


Dari perkataan Kiai Ali Imron ini, pesantren Mojosari memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda dengan pesantren lainnya. Para santri Mojosari meyakini bahwa perkataan Kiai Ali Imron adalah perkataan yang makbul. Mereka mengandalkan tirakat dari pendiri pesantren Mojosari. Tak ayal, banyak alumni pesantren ini yang kemudian menjadi tokoh besar dan menjadi rujukan masyarakat.


Editor:

Tokoh Terbaru