Home Metropolis Warta Pendidikan Malang Raya Pemerintahan Madura Parlemen Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Mitra Pustaka

Jaga Ciri Utama NU, Lomba Kitab Kuning Digelar di Sumenep

Jaga Ciri Utama NU, Lomba Kitab Kuning Digelar di Sumenep
KH Hafidzi Syarbini, Rais PCNU Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
KH Hafidzi Syarbini, Rais PCNU Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Di antara beberapa lomba yang paling penting di momen Hari Santri Nasional (HSN) adalah lomba baca kitab kuning. Karena kitab merupakan ciri utama NU.

 

Pernyataan ini disampaikan oleh KH Hafidzi Syarbini, Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, saat pembukaan lomba baca kitab yang diselenggarakan oleh panitia HSN di Aula PCNU setempat, Rabu (13/10).

 

“Kalau orang Indonesia tidak tau baca kitab, maka NU akan akan hilang. Kalau umat Islam tidak tau baca kitab, maka Islam akan mengalami kemunduran. Terlebih orang Madura, jika demikian maka otomatis se-dunia akan turun,” ujarnya.

 

Dijelaskan pula, keikutsertaan peserta yang datang dari seluruh pesantren se-Sumenep hanya demi kitab. Menurutnya, upayakan yang mengaji kitab tidak hanya tahu mengaji saja. Sebab, kitab menurut Al-Qur’an diartikan buku. Karena kitab bertuliskan bahasa Arab. Jika di luar bahasa Arab adalah buku.

 

“Kitab ada tiga, yaitu Al-Qur'an, hadits, dan kitab karangannya ulama. Di masa sahabat, kitab karangan ulama belum ada, karena sahabat teguh hatinya, hafal Al-Qur'an tanpa tafsir. Saat Nabi wafat, dibukukanlah hadits Nabi. Untuk menjelaskannya, ulama menjelaskannya dengan kitab,” ulas Kiai Hafidzi.

 

Alumni Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang tersebut mengajak kepada peserta untuk meluruskan niat dalam mengaji kitab. “Jangan mencari menang, tapi mencari pemahaman pada isi kitab. Kenyataannya, banyak yang juara lomba baca kitab tidak jadi ulama. Mengapa demikian? Karena mereka mencari kebanggaan. Sombong itulah yang menghilangkan harga dirinya,” katanya.

 

Oleh karena itu, Kiai Hafidzi mengimbau agar membaca kitab dengan satu tujuan, yakni ngalap berkah dari ta’lif atau pengarang kitabnya. Sehingga yang membaca bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Juara tidak berfungsi untuk Islam. Yang berfungsi adalah isi kitabnya dan niatnya. Bagi peserta yang kalah dalam perlombaan ini, jangan berkecil hati. Jika niatnya tulus, maka akan mendapatkan fadilah dan barokah,” tandasnya.

 

Usia dibuka secara resmi oleh Rais PCNU Sumenep, lomba digelar setelah panitia membacakan tata tertib, lomba dimulai. Untuk tingkat ula (13-16 tahun) menggunakan kitab Taqrib, jurinya dipimpin oleh Kiai Syafiq Mas'ud dan Kiai Muhyiddin. Untuk tingkat wustha (17-20 tahun) menggunakan kitab Fathul Qarib, jurinya Kiai Muhammad Bahrul Widad, Kiai Ahmad Rofiqi, dan Kiai Hatok Sudarto. Sedangkan tingkat ‘ulya (21-30 tahun) menggunakan kitab Fathul Mu’in, jurinya KH Imam Hendriyadi , KH Chairul Anam, dan Kiai Waqid Wahid.

Terkait

Madura Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

Terkini