• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 8 Agustus 2022

Madura

Ustadz Untung, Guru Peduli Asal Sumenep Peraih Penghargaan Madrasah Award 2021

Ustadz Untung, Guru Peduli Asal Sumenep Peraih Penghargaan Madrasah Award 2021
Ustad Untung, Penerima Madrasah Award 2021 Kategori Guru Peduli Madrasah. Foto: Istimewa
Ustad Untung, Penerima Madrasah Award 2021 Kategori Guru Peduli Madrasah. Foto: Istimewa

Sumenep, NU Online Jatim

Terlahir dengan keterbatasan fisik, tidak membuat Ustadz Untung patah semangat meneruskan asanya menjadi seorang guru. Pria kelahiran Desa Batang-batang Daya, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep itu merupakan guru madrasah tanpa dua tangan.

 

Meskipun menjadi guru madrasah dengan keterbatasan fisik, justru beberapa penghargaan telah diraihnya. Mulai dari penghargaan pemerintah daerah hingga pemerintah pusat. Di tingkat daerah, Ustadz Untung beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai guru inspiratif.

 

Ia juga pernah menjadi bintang tamu di salah satu televisi swasta pada acara Hitam Putih dan Kick Andy.

 

Terakhir, Ustadz Untung mendapat penghargaan Madrasah Award dan Apresiasi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (ADIKTIS) 2021 kategori Unsur Masyarakat Peduli Madrasah pada acara yang dipusatkan di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Jumat (10/12/2021).

 

"Saya mengungguli beberapa kandidat lainnya, akhirnya terpilih dalam kategori tersebut," katanya kepada NU Online Jatim, Rabu (15/12/2021).

 

Menjadi seorang guru bukan cita-cita Ustadz Untung dari kecil. Ia hanya mengenyam bangku pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, ia mengejar ujian paket C.

 

"Semasa kecil saya tidak punya cita-cita, termasuk menjadi guru. Karena teman saya banyak yang menilai bahwa keterbatasan yang saya miliki akan menjadi penghalang," tuturnya.

 

Inisiatifnya menjadi tenaga pengajar, ia mulai ketika Madrasah Miftahul Ulum Batang-batang, Kabupaten Sumenep kekurangan tenaga pengajar.  Kemudian, ia memilih mendaftarkan diri di lembaga pendidikan tersebut. Saat ini, ia mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Miftahul Ulum materi Al-Qur'an.

 

"Tahun 1993, saat madrasah masih minim tenaga pengajar saya mencoba melamar untuk menjadi guru. Modal ijazah SMP, alhamdulillah diterima dengan keterbatasan saya," ucapnya.

 

Salain berprofesi sebagai guru madrasah, pria 51 tahun itu juga menjadi guru ngaji di mushala miliknya. Ia mengaku sangat menikmati profesinya saat ini. Menurutnya, mengajar merupakan sumbangsih yang bisa dilakukannya untuk bangsa dan agama.

 

"Saya menikmati profesi ini, sebab tak ada sumbangsih lagi yang dapat diberikan untuk sekitar dan bangsa ini," ujarnya.

 

Kendati hanya mendapat upah kurang lebih Rp 600.00 per bulan, pria yang juga bertani itu tetap bersyukur. Ia mengajak guru madrasah lainnya untuk semangat dalam mengabdikan diri.

 

 

"Jangan berharap apa yang madrasah berikan pada kami, tapi berharap apa yang dapat kami berikan kepada madrasah," pungkasnya.

 

Editor: Romza


Editor:

Madura Terbaru