• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 8 Juli 2022

Madura

Wakil Ketua NU Jatim Ajak Nahdliyin Terima Ketentuan Allah

Wakil Ketua NU Jatim Ajak Nahdliyin Terima Ketentuan Allah
Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abd A'la Basyir, ajak Nahdliyin terima ketentuan Allah. (Foto: NOJ/ Firdausi)
Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abd A'la Basyir, ajak Nahdliyin terima ketentuan Allah. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abd A'la Basyir mengajak Nahdliyin untuk menerima apapun yang jadi ketentuan Allah SWT. Rasa resah dan gelisah yang kadang menimpa, hendaknya dapat diterima dengan hati lapang.

 

Hal itu disampaikan Kiai A’la saat mengisi pengajian kitab bulanan, yakni kitab Minhajul Abidin, karya Imam Al-Ghazali. Kegiatan itu dipusatkan di mushala Rayon KH Ahmad Basyir kompleks Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Sabtu (27/11/2021).

 

Menurut Kiai A’la, rela adalah kunci utama untuk menerima ketentuan Allah (Qadha). Dalam bentuk apapun, wajib setiap muslim menerimanya. “Kita harus sabar dan legowo pada setiap ketentuan Allah, dan tidak boleh menyalahkannya,” ujarnya menyitir pesan Imam Al-Ghazali.

 

Dewan Masyaikh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Latee itu menyatakan, ada dua perkara yang mewajibkan seorang Muslim menerima Qadha atau ketentuan Allah SWT. Pertama, mencurahkan diri untuk ibadah.

 

“Jika tidak ridha pada ketentuan Allah, maka ada kegelisahan dalam hatinya. Seperti halnya seseorang yang tidak menerima saat ada kendaraan menyerobot seenaknya tanpa melihat kendaraan lainnya yang mengantri,” tuturnya.

 

Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu menyebutkan bila hati resah, maka ibadah akan berkurang. Sebab, menyesali permasalahan yang sudah berlalu dan yang akan datang, akan menghilangkan keberkahan.

 

Kedua adalah Allah akan murka kepada seseorang yang tidak rela atau puas. Seperti seseorang yang memiliki harta yang melimpah, namun hatinya selalu merasa kurang. Mengeluh dalam hati juga termasuk perbuatan yang tidak dianjurkan.

 

“Walaupun tidak diucapkan melalui lisan, tetap dilarang oleh Allah. Apalagi mengeluh sambil meneriakkannya dengan suara yang jelek. Mengeluh tidak baik dan satunya hanya satu, yakni ridha,” pungkasnya.


Madura Terbaru