• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 19 Mei 2024

Malang Raya

1 ABAD NU

Mengintip Pondok Gading Malang, Semai Kesejukan di Tengah Perkotaan

Mengintip Pondok Gading Malang, Semai Kesejukan di Tengah Perkotaan
Kondisi Pondok Pesantren Miftahul Huda atau Pondok Gading Kota Malang saat malam hari. (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli)
Kondisi Pondok Pesantren Miftahul Huda atau Pondok Gading Kota Malang saat malam hari. (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli)

Malang, NU Online Jatim

Salah satu pondok pesantren yang menerima anugerah pesantren tua dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beberapa waktu lalu ialah Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) atau dikenal Pondok Gading Kota Malang. Pondok Gading yang didirikan oleh KH Hasan Munadi pada tahun 1768 ini turut berperan dalam merebut kemerdekaan RI.


Pondok Gading ini berada di Jalan Gading Pesantren Nomor 38 Kelurahan Gading Kasri Kecamatan Klojen Kota Malang. Saat memasuki lokasi Pondok Gading, tidak tampak seperti ada pesantren mengingat di kanan kiri sudah penuh dengan pemukiman warga sekitar.


KH Hasan Munadi selaku pengasuh pertama wafat pada usia 125 tahun. Ia mengasuh pondok pesantren ini selama hampir 90 tahun. Makamnya tak jauh dari lokasi pesantren, hanya berjarak sekitar 800 meter di Jalan Galunggung, Kota Malang.


Kiai Hasan Munadi mempunyai empat orang putra, yaitu KH Ismail, KH Muhyini, KH Ma’sum, serta Nyai Mujannah. Kala itu, Pondok Gading masih belum mengalami perkembangan yang signifikan. Selepas KH Hasan Munadi, estafet kepemimpinan Pondok Gading dilanjutkan oleh KH Ismail pada tahun 1858.


KH Ismail mengangkat anak gadis bernama Siti Khodijah yang merupakan keponakannya sendiri, yaitu putra dari Kiai Abdul Majid. Gadis itu akhirnya menikah dengan KH Muhammad Yahya, asal Jetis Dau Kabupaten Malang —kelak menjadi penerus kepemimpinan di Pondok Gading.


Selepas KH Ismail berpulang keharibaan Allah pada tahun 1935, KH Muhammad Yahya meneruskan perjuangan dalam mengasuh santri yang sudah mulai banyak dari berbagai daerah. Secara silsilah, Kiai Yahya memiliki garis keturunan dengan salah satu Walisongo, yaitu Sunan Gunung Jati Cirebon.


Di masa Kiai Yahya ini, perkembangan pondok pesantren bergeliat tumbuh dan berkembang. Tidak tergerus oleh pembangunan perkotaan, malah terus menyemai kesejukan bagi siapa saja yang masuk di lokasi Pondok Gading.


Karena berada di tengah perkotaan, Pondok Gading dikelilingi banyak kampus besar. Namun demikian, Pondok Gading tetap mempertahankan metode ngaji kitab kuning. Pada masa ini, santri putra diperbolehkan sekolah di luar pondok, dan pada saat Maghrib harus kembali ke pondok untuk mengikuti madrasah diniyah.


Kebijakan boleh sekolah di luar pondok tersebut hanya berlaku bagi santri putra, sementara santri putri oleh Kiai Yahya tidak diizinkan. Pondok Gading hingga saat ini masih mempertahankan model seperti itu.


Berikut rincian kepengasuhan PPMH Pondok Gading Malang, yaitu KH Hasan Munadi (1768-1858), KH Isma'il (1858-1908), KH Muhammad Yahya (1908- 1971), KH Abdurrohim Amrullah Yahya (1971-2010), dan KH Abdurrahman Yahya (1971-2018). Selanjutnya diteruskan oleh KH Muhammad Ahmad Arief Yahya sejak tahun 1971 hingga sekarang, bersama KH Muhammad Baidlowi Muslich, serta Ibu Nyai Dewi Aisyah (Pesantren Putri).


Pondok Gading Turut Berjuang Rebut Kemerdekaan
Di masa perjuangan pra kemerdekaan Republik Indonesia, seluruh lapisan masyarakat ikut memperjuangkan kemerdekaan RI. Pada masa perang gerilya, perhatian Belanda sangat intens kepada pondok pesantren. Sebab, kala itu pesantren menjadi basis markas dalam menyiapkan strategi perjuangan.


"Sampai di bom 7 kali, tapi tidak ada yang meletus. Di luar Malang, ia tidak pernah memberitakan. Di Surabaya, Kalimantan, Sulawesi ada, jadi memimpin, diminta membawa rajah campur hizib," ungkap KH Ahmad Muhammad Arif Yahya, putera KH Muhammad Yahya saat ditemui NU Online Jatim di kediamannya.


Disebutkan, bahwa Kiai Yahya terjun langsung berjuang melawan penjajah Belanda. Penegasan tersebut berdasarkan kesaksian para pejuang yang berada di lapangan. Tetapi, berbeda dengan kesaksian isteri Kiai yang diungkapkan oleh Kiai Ahmad Arif.


Penuturan didapat melalui ibunda Kiai Ahmad Arif (Nyai Hj Khodijah) langsung, bahwa Kiai Yahya selama hidup hanya istiqamah dalam mengajar dan membina santri pondok pesantren.


"Abahmu gak nangdi-nangdi. Gak tau rono-rono, nek omah mulang, bengi mesti turu karo aku (Abahmu tidak kemana-mana, di rumah mengajar, dan kalau malam tidur bersama saya)," terang kiai kharismatik sambil menirukan penyampaian almarhumah ibundanya.


Akan tetapi, dalam buku Sejarah Biografi KH Yahya mengungkapkan ia membersamai seorang komandan batalyon tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR), Mayor Sulam Syamsun. Bahkan, Kiai Yahya ikut serta merancang, menyusun strategi serta membakar semangat santri dan rakyat untuk melakukan perang gerilya di Kota Malang dan sekitarnya.


Kala Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad pada 10 November 1945, Kiai Yahya ikut dalam ratusan ribu pejuang yang ikut bertempur di garis depan. Keikutsertaannya atas permintaan khusus dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i.


Ajarkan Thariqah pada Santri
Suatu ketika Kiai Yahya sowan kepada Kiai Dahlan Kediri untuk meminta ijazah dzikir untuk menambah amaliyah thariqahnya. Akan tetapi, Kiai Dahlan tidak memberi tahu, justru mengatakan kelak guru thariqah itu akan datang sendiri.


Pasca 30 tahun dari kejadian, datanglah seorang guru thariqah, yaitu KH Zainal Makarim, seorang ulama dari Boyolali, Jawa Tengah. Lantas, Kiai Zainal memberikan isyarah "Ilmuku tak wehno sampeyan kabeh" (ilmuku saya berikan kepada kalian semua).


Disitulah Kiai Yahya mendapat ijazah sebagai khalifah dan Mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Amanah tersebut dikuatkan oleh pimpinan Thariqah Mu'tabaroh Indonesia waktu itu, yaitu Almaghfurlah KH Muslih Mranggen, Semarang, pada 30 Oktober 1967 silam.


Berikut silsilah thariqah yang beliau dapatkan langsung dari KH Zainal Makarim (Boyolali), dari KH Abd Syakur (Susukan), KH Ibrahim (Surakarta). Lalu, dari Syaikh Abdul Karim r.a. bersambung Syaikh Khotib Sambas r.a.


Selanjutnya, dari Syaikh Samsudin r.a, dari Syaikh Muhammad Murod r.a. dari Syaikh Abdul Fattah r.a, Syaikh Ustman r.a, Syaikh Abd Rohim r.a., Syaikh Abu Bakar r.a, Syaikh Yahya r.a., Syaikh Hisyamuddin r.a. Kemudian Syaikh Waliyudin r.a, Syaikh Nuruddin r.a, Syaikh Syarofuddin r.a, Syaikh Symamsudin r.a.


Berlanjut dari Syaikh Muhammad Al-Hattaqi, r.a, dari Syaikh Abdul Aziz r.a, lantas dari Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani r.a. dari Syaikh Mubarok Al-Mahzumi r.a, Disusul dari Abi Hasan Ali Al-Hakari r.a, dari Abil faroj At-Turtusi, Syaikh Abdul Wahid At-Tamimi r.a.


Bersambung dari Abi Bakar As-Syibli r.a, dari Syaikh Junaid Al-Baghdadi r.a, Syaikh Sariyyi As-Saqoti r.a, dari Syaikh Ma'ruf Al-Karkhi, dari Syaikh Imam Ali Musa Ar-Ridho r.a, Imam Musa Al Kadzim r.a, dari Imam Ja'far As-Shodiq r.a, dari Muhammad Baqir r.a, dari Zainal Abidin r.a.


Lalu dari Sayyid Husain bin Ali r.a, dari Sayyidina Ali r.a, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam dari Malaikat Jibril Alaihissalam dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala robbul alamin.


Selepas Kiai Yahya wafat, estafet Mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah diteruskan oleh putranya yaitu KH Abdurrahman Yahya. Ia mengemban amanah mursyid hingga wafat pada tahun 2018. Sepeninggal KH Abdurrahman Yahya, Mursyid Thariqah diemban oleh putranya (cucu Kiai Yahya), yaitu Gus Muhammad Mubarok Nuzulul Huda.


Malang Raya Terbaru