• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 24 April 2024

Madura

Terima Penghargaan PBNU, Pesantren Annuqayah Berdiri Sejak Sebelum Kemerdekaan

Terima Penghargaan PBNU, Pesantren Annuqayah Berdiri Sejak Sebelum Kemerdekaan
Masjid Jamik Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. (Foto: NOJ/ Dok. Pesantren Annuqayah)
Masjid Jamik Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. (Foto: NOJ/ Dok. Pesantren Annuqayah)

Sumenep, NU Online Jatim

Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep menerima Penghargaan sebagai pesantren tua yang berdiri lebih satu abad dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pesantren yang terletak di ujung timur pulau Madura ini berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1887.


Pesantren Annuqayah didirikan oleh seorang tokoh asal Kudus, Jawa Tengah. Namanya ialah KH Muhammad Asy-Syarqawi bin R Sudikromo bin R Mertowijoyo bin R Tirto Kusumo bin R Aryo Hiring bin R Aryo Penjangkringan bin Pengeran Krapyak Dipokusumo bin Pengeran Krapyak Yudo Bongso bin Panembahan Kuleco Sumotruno bin Panembahan Mekaos Hunggo Kusumo bin Kanjeng Sinuhun Ja’far Shadiq (Sunan Kudus).


Kiai Syarqawi merupakan sosok yang alim dan berwawasan luas. Sejumlah pesantren telah ia sambangi untuk menuntut ilmu. Mulai pesantren di Madura, Jawa, Pontianak, Malaysia, Pattani di Thailand Selatan, hingga sampai ke tanah Hijaz, sebuah wilayah di sebelah barat laut Arab Saudi.


Dalam pengembaraannya dalam ilmu agama di Tanah Suci Makkah, ia berteman dengan Syekh Abuddin atau Kiai Gemma asal Desa Prenduan, Pragaan, Sumenep. Berkat persahabatan yang cukup akrab, Kiai Gemma berwasiat kepada Kiai Syarqawi untuk menikahi istrinya bila ia wafat, mengingat Kiai Gemma telah memasuki usia senja.


Kiai Gemma akhirnya wafat dan Kiai Syarqawi menjalankan wasiat tersebut dengan menikahi Nyai Hj Khadijah, istri Kiai Gemma, sehingga akhirnya menetap di Desa Prenduan. Di sinilah Kiai Syarqawi bersama istri pertamanya menebar ilmu, menyemai kebajikan, mengajar Al-Qur’an, dan kitab-kitab turats.


Setelah 14 tahun lamanya bermukim, Kiai Syarqawi hijrah ke daerah utara dari Desa Prenduan hingga menemukan sebuah lokasi di Desa Guluk-Guluk pada tahun 1887. Lewat sepetak tanah bekas kandang kuda atas pemberian seorang dermawan, ia mendirikan gubuk yang dikenal ‘Dhalem Tengah’ yang menjadi cikal bakal berdirinya Pesantren Annuqayah.


Tak berapa lama kemudian, Kiai Syarqawi mendirikan Pesantren daerah Lubangsa di kediaman istri keempatnya, yakni Nyai Mariyah. Di tempat itulah didirikan langgar untuk mengajar Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama. Selama 23 tahun memimpin, Kiai Syarqawi berpulang keharibaan Allah pada 21 Januari 1911 bertepatan 20 Muharram 1329 Hijriyah.


Guna melanjutkan perjuangannya, KH Bukhari yang dibantu KH M Idris bersama KH Imam (1917) melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan. Kemudian dilanjutkan oleh putranya KH M Ilyas. Di masa kepemimpinan Kiai Ilyas, Pesantren Annuqayah mengalami perkembangan pesat. Salah satunya adalah anak keturunannya mendirikan pesantren daerah di tempat tinggalnya masing-masing yang relatif tidak jauh.


Bermula pada tahun 1917 ketika KH Husein mendirikan Pesantren daerah Al-Furqan di Sawah Jarin. Kemudian KH Abdullah Sajjad mendirikan Pesantren daerah Latee (1923). Dilanjutkan Nirmala (kini Lubangsa Utara) didirikan oleh KH M Hasan Basri (1963). Disusul KH M Ishomuddin mendirikan Lubangsa Selatan (1972). Hingga saat ini banyak keturunan dari Kiai Syarqawi mendirikan daerah di dalam satu komplek Pesantren Annuqayah.


Dalam catatan sejarah, Pesantren Annuqayah merupakan markas Laskar Sabilillah di masa penjajahan. Terbukti, tugu pahlawan di Lapangan Kemisan Guluk-Guluk menjadi saksi bisu atas wafatnya sang syahid KH Abdullah Sajjad saat dieksekusi Belanda.


Trasnformasi Pendidikan dan Pengajaran
Mulanya sistem pendidikan di Pesantren Annuqayah berbentuk pengajian dengan metode sorogan, bandongan, hingga wetonan. Seiring perkembangan zaman, Pengasuh Pesantren Annuqayah daerah Latee 1 KH Abd Muqsith mengatakan, di masa lalu masyayikh memberikan pembaharuan dalam pengajaran, yakni memberikan muqaddimah dengan menggunakan bahasa Melayu, Madura, dan Jawa.


Sementara itu, Ketua Pengurus Pondok Pesantren Annuqayah KH Moh Naqib Hasan menegaskan, Annuqayah mengadopsi dua sistem yang mungkin paling awal di Sumenep. Sekitar tahun 1920 an, KH Moh Hasyim (menantu KH Abdullah Sajjad) mengadopsi model pengajaran tradisonal yang relatif modern, yakni mengajar menggunakan papan tulis di emperan layaknya di dalam kelas dalam kehidupan saat ini.


Pada dekade 1930-an, setelah KH M Khazin menyelesaikan pendidikan dari Pesantren Tebuireng, Jombang, ia menerapkan sistem kelas dalam pendidikan. Madrasah ini diberi nama Annuqayah oleh Kiai Ilyas. Dari sinilah sistem diniyah yang berjenjang muncul, seperti penerapan sifir awal, tsani dan seterusnya.


Diketahui, sistem tersebut dilanjutkan oleh KH Mahfoudh Husaini (1951), dan sedikit dilakukan perubahan oleh KH M Amir pada tahun 1967. Kemudian, di tahun 1970-an kala pendidikan keterampilan diberlakukan, sistem pendidikan di Pesantren Annuqayah disesuaikan dengan peraturan pemerintah.


Di masa kini, perubahan dalam ranah pengembangan pendidikan pesantren semakin tampak. Salah satunya dengan dididirikannya dua lembaga perguruang tinggi, yakni Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) dan Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah.


Ciri Khas Pesantren Annuqayah
Pesantren yang memiliki 6.700-an santri mukim ini memiliki banyak pesantren daerah. Kendati secara umum sama, namun di masing-masing daerah memiliki ciri khas berbeda, mulai dari iklim topik belajar hingga karakter santri.


Disampaikan Kiai Naqib, Pesantren Annuqayah memiliki kaitan historis dengan tiga pesantren besar, yaitu Al-Amien Prenduan, Al-Is’af Kalabaan, dan Pesantren Karay Ganding. Secara nasab dan sanad, tiga pesantren besar ini bertumpu kepada Pesantren Annuqayah.


Pesantren Al-Amien melebelkan diri sebagai pesantren modern, pesantren Karay melabelkan diri sebagai pesantren tradisional, sedangkan Al-Is’af pesantren tradisional yang memiliki kelas. Ketiganya menyatu dalam diri Annuqayah yang mengadopsi sistem pendidikan salaf dan khalaf (tradisonal dan modern).


Pesantren Annuqayah memiliki ragam aktivitas yang menjadi daya tarik pemerintah, yakni mengawali penyelamatan lingkungan hidup. Bahkan, pada tahun 1981 mendapat penghargaan Kalpataru dari pemerintah. Kini, pesantren ini terpilih sebagai salah satu pesantren yang berwawasan lingkungan hidup di Indonesia.


Secara filosofis, nama Annuqayah diambil dari sebuah kitab karangan Imam Jalaluddin As-Suyuthi yang berjudul Itmam Ad-Dirayah li al-Qurra’ Annuqayah yang memuat 14 disiplin ilmu. Tak heran saat berkunjung ke Pesantren Annuqayah, pendidikannya sangat beragam. Ditambah lagi adanya relasi yang dilakukan Kiai Ilyas dengan Pesantren Tebuireng. Dari sanalah muncul inspirasi baru sehingga Annuqayah menjadi episentrum peradaban Islam.


Berikut nama-nama pesantren daerah di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, meliputi daerah Lubangsa (Putra-Putri), Lubangsa Tengah Putri, Lubangsa Selatan (Putra-Putri), Lubangsa Utara (Putra-Putri), PPA Al-Hasan (Putra-Putri), Latee Putra, Latee I Putri, Latee II Putri, Latee Utara (Putra-Putri). Selain itu, ada pula pesantren daerah Asy-Syafi’iyah, Al-Furqan (Putra-Putri), Karang Jati (Putra-Putri), Nurul Hikmah Putri, Kusuma Bangsa (Putra-Putri), Al-Idrisy Putri, Al-Amir, Al-Anwar Kebun Jeruk, dan Lancaran Putri.


Adapun lembaga formalnya antara lain, TK Annuqayah, TK Al-Anwar, MI 1 Annuqayah, MI 2 Annuqayah, MI 3 Annuqayah, MTs 1 Annuqayah, MTs 1 Putri Annuqayah, MTs 2 Annuqayah, MTs 3, MA 1 Annuqayah, MA 1 Putri Annuqayah, MA 2 Annuqayah, MA Tahfidh Annuqayah, SMA Annuqayah, SMA 3 Annuqayah, SMK Annuqayah, Instika, dan IST Annuqayah.


Madura Terbaru