• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 24 April 2024

Matraman

Pondok Tengah Raih Anugerah Pesantren Tua Versi PBNU, Berdiri Tahun 1790

Pondok Tengah Raih Anugerah Pesantren Tua Versi PBNU, Berdiri Tahun 1790
Pondok Pesantren Hidayatut Thullab atau Pondok Tengah, Durenan, Trenggalek yang berdiri tahun 1790. (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli)
Pondok Pesantren Hidayatut Thullab atau Pondok Tengah, Durenan, Trenggalek yang berdiri tahun 1790. (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli)

Trenggalek, NU Online Jatim

Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Desa Kamulan, Durenan, Trenggalek menjadi salah satu penerima anugerah pesantren tua dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Anugerah dalam rangka peringatan 1 Abad NU itu diberikan kepada pesantren yang telah berusia lebih satu abad berdiri. Pesantren yang dikenal dengan sebutan Pondok Tengah ini berdiri tahun 1790 silam.


Salah satu Pengasuh Pondok Tengah, KH Bahauddin Nafi'i menjelaskan, sesuai dalam sejarah pesantren, pada masa itu di tengah hutan belantara tepatnya di lokasi Kerajaan Sendang Kamulyan Trenggalek sudah tidak bertahta lagi, hanya tersisa puing-puing bangunan, tinggal seorang aparatur Kerajaan Mataram yang melarikan diri meninggalkan anak istri dan kedudukannya.


"Beliau adalah kiai sufistik, namanya Mbah Kiai Ahmad Yunus putra dari Mbah Bagus Mukmin yang diambil menantu oleh Raja Mataram," ungkap KH Bahauddin Nafi'i kepada NU Online Jatim, Kamis (02/01/2023).


Menurutnya, Kiai Yunus juga dikenal dengan sebutan Sunan Wilis. Ia mendirikan bangunan yang sangat sederhana beratapkan ilalang atau alang-alang dan menggunakan sabut aren ijuk untuk mengaitkan kayu-kayu bangunan. Alhasil, bangunan ini kemudian dijadikan pusat penyebarluasan ajaran Islam.


Pada salah satu kayu bangunan terukir angka 1790, sehingga digunakan sebagai tonggak sejarah bahwa Pondok Tengah Kamulan berdiri telah lebih dua abad silam. Melalui keuletan dan kesabaran Kiai Yunus dalam berjuang, lambat laun hutan belantara itu menjadi pemukiman penduduk dan diberi nama Desa Kamulan


Selanjutnya, setelah pihak Kerajaan Mataram mengetahui tempat tinggal Kiai Yunus, ia kemudian hidup bersama istrinya lagi dalam satu keluarga di Desa Kamulyan. Di tengah hutan belantara itu sarat dengan binatang buas dan hidup berdampingan, bukan sebagai musuh.


“Selang beberapa tahun, datanglah seseorang yang mengaku sebagai pelarian dari Kerajaan Mataram. Orang tersebut menyamar dengan nama Mbah Dho Ali. Selepas beberapa hari, Mbah Dho Ali tinggal bersama Kiai Yunus,” terangnya.


Mbah Dho Ali menceritakan bahwa sebenarnya ia bernama Mbah Ali Murtadho, salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang berkedudukan di Banyumas, Jawa Tengah. Pasca Pangeran Diponegoro diajak berunding oleh Belanda di Magelang, Mbah Dho ditangkap Belanda akibat sebuah tipu muslihat. Dan, tahun 1830 Mbah Dho melarikan ke arah timur sehingga bertemu dengan Kiai Yunus di Desa Kamulan


“Ternyata, Kiai Yunus adalah pamannya sendiri, sehinga Mbah Dho diambil menantu dan dinikahkan dengan Nyai Basyiroh, putri terakhir Kiai Yunus dari lima bersaudara,” kata KH Bahauddin Nafi'i.


Roda kehidupan pesantren berjalan di atas kepemimpinan keduanya, Kiai Yunus dan Mbah Dho. Akan tetapi tidak begitu lama, setelah Mbah Dho dijadikan menantu, Kiai Yunus dipanggil oleh Allah SWT. Sehingga pucuk pimpinan pesantren dipegang oleh Mbah Dho atau Kiai Ali Murtadho.


Di masa kepemimpinan Mbah Dho, ia melakukan renovasi masjid, dan salah satu santrinya kemudian ada yang sempat menggores batu dengan telapak tangan dan menjadi bukti sejarah sampai sekarang. Setelah Mbah Dho wafat, kepemimpinan dilanjutkan putranya yang bernama KH Ikhsan.


Pada masa ini, Pondok Tengah pernah dijadikan markas sementara tentara Hizbullah pada tahun 1948 dan 1949. Saat itulah Pondok Tengah menjadi sasaran pengeboman tentara sekutu, tepatnya pada tanggal 10 November 1948. Bom tersebut ada meledak di udara, dan satunya lagi menyasar dan meledak di Pasar Kamulan, serta tiga bom jatuh di area pesantren tanpa ledakan. Bom yang gagal meledak tersebut hingga sekarang di antaranya diabadikan sebagai bel tanda masuk dan pulang sekolah serta kegiatan lainnya.


Setelah itu, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh KH M Mahmud Ihsan, putra KH Ihsan, yang dibantu adik iparnya bernama Kiai Nafi (populer disebut Kiai Jumadi). Pada masa ini, Pondok Tengah pernah dijadikan pusat pembinaan dan pengembangan kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor untuk ikut serta menumpas pemberontakan G30S PKI.


Pada tanggal 12 Juli 1996 atau 26 Safar 1417, KH M Mahmud Ihsan wafat dan kepemimpinan pesantren dilanjutkan putranya, KH Masrukhin Mahmud. Kiai Masrukhin dibantu KH Toha Munawar, putera pertama H Sidiq atau kakak ipar KH M Mahmud Ihsan, dan dibantu pula oleh KH Fakhrudin Nafi, putra kedua Kiai Jumadi.


Kemudian, KH Fakhrudin Nafi berpulang kehadirat ilahi pada tahun 2010. Tujuh tahun berikutnya, KH Toha Munawwar menyusul menghadap ke hadirat Allah SWT. Kepemimpinan pesantren pun beralih kepada KH Bahauddin Nafi'i dan beberapa pengasuh lainnya.


Model dan Kegiatan Pesantren
KH Bahauddin Nafi'i mengungkapkan, model pesantren salafiyah masih tetap dipegang teguh hingga saat ini. Hal tersebut sesuai pesan dari KH M Mahmud Ihsan. "Sekalipun ada era baru, itu hanya sekadar pelengkap. Kesalafiyahannya tetap dipertahankan sesuai wasiat dari Kiai Ihsan," ujarnya.


Kiai Bahaudin mengatakan, sejak dulu Pondok Tengah telah berperan besar dalam keberlangsungan organisasi Nahdlatul Ulama. Salah satunya saat Pondok Tengah dijadikan tempat dan pusat pelatihan GP Ansor untuk melawan pemberontakan G30S PKI.


“Pesantren ini sejak dulu sudah terlibat aktif dalam kegiatan ke-NU-an. Mulai dari pembahasan secara resmi, maupun pengkaderan untuk menumpas pemberontakan pasca kemerdekaan,” terangnya.


Menurutnya, Pondok Tengah saat ini memiliki sekitar 1150n santri madrasah dan 425 santri mukim. Kegiatannya pengajian yang juga diperuntukkan masyarakat umum, yaitu Ngaji Selapan dengan kitab Al-Hikam pada hari Ahad Wage yang diampu KH Bahrul Munir. Sedangkan kuliah subuh yang dirintis oleh KH Toha saat ini diteruskan oleh Kiai Bilal dan Ustadz Tauhid.


"Kegiatan pengajian di sini seperti umumnya pondok-pondok yang lain. Ada Tafsir Jalalain, Bukhari-Muslim, Ihya Ulumuddin, dan materi fiqih seperti umumnya pesantren salafiyah lainnya," ungkapnya.


Ia menuturkan, Pondok Tengah juga membentuk organisasi alumni. Tujuannya agar semua alumni turut bertanggung jawab dengan keberadaan pondok pesantren. "Kami berharap pondok pesantren, khususnya salafiyah, bisa lebih eksis lagi," tuturnya.


Disebutkan, alumni Pondok Tengah sebagian besar tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah dan sebagian kecil Jawa Barat. Kemudian dari luar Pulau Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, hingga Ambon. "Sekalipun demikian, semua itu mayoritas keturunan Jawa,” imbuhnya.


Di samping itu, 80 persen santri di Pondok Tengah bekerja di sekitar pondok. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, yakni dengan berupaya mencari penghidupan sendiri.


“Apalagi di Desa Kamulan adalah sentra industri genteng yang cukup banyak peminatnya. Santri biasanya bekerja paruh waktu, pada siang hari kembali ke pondok untuk mengaji,” tandasnya.


Matraman Terbaru