• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 29 Mei 2024

Matraman

Kemeriahan Warga Berebut Gunungan Ketupat di Durenan Trenggalek

Kemeriahan Warga Berebut Gunungan Ketupat di Durenan Trenggalek
Momen warga berebut gunungan ketupat saat tradisi kupatan di Desa/Kecamatan Durenan, Trenggalek, Rabu (17/04/2024). (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli)
Momen warga berebut gunungan ketupat saat tradisi kupatan di Desa/Kecamatan Durenan, Trenggalek, Rabu (17/04/2024). (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli)

Trenggalek, NU Online Jatim

Hari Raya Ketupat atau Kupatan di Desa/Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek diperingati dengan suka cita dan meriah. Dalam tradisi yang terus dilestarikan ini dimeriahkan dengan arak-arakan gunungan ketupat.

 

Sebelumnya, gunungan ketupat tersebut didoakan oleh KH Abdul Fattah Mu'in. Kemudian diarak sejauh 1 kilometer dan menjadi rebutan warga di titik finish.

 

Dewi, salah satu warga asal Blitar datang jauh-jauh bersama keluarganya untuk melihat arak-arakan gunungan ketupat. Ia pun berhasil mendapatkan banyak ketupat hasil berebut bersama warga lainnya yang datang dari sejumlah daerah.

 

"Kalau Hari Raya Ketupat ke Trenggalek cuma kesini saja. Ini dapat ketupat," ujar Dewi sambil menunjukkan hasil yang ia peroleh bersama sang suami, Rabu (17/04/2024).

 

Dirinya mengaku sudah melakukan sowan-sowan atau silaturahim ke para kiai, lantaran anaknya mondok di Desa Kamulan, Durenan, Trenggalek. Setelah ini, Dewi bakal membagi-bagikan hasil perolehan ketupat sebagai makanan dan mengambil keberkahan setelah didoakan.

 

"Perasaannya senang, nanti saat sudah dirumah akan saya bagi-bagikan," ungkap perempuan berusia 30 tahun ini.

 

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan Trenggalek, KH Abdul Fattah Mu'in menjelaskan, tradisi kupatan di Durenan tetap dijaga dan dilestarikan, bahkan pula semakin meluas ke beberapa daerah sekitar.

 

"Sudah 200 tahun lebih tradisi kupatan ini. Kalau sini pembeda dengan yang lain niatnya silaturahim, yang tidak bisa ditiru itu," ujar KH Abdul Fattah Mu'in, Rabu (17/04/2024).

 

Ia menerangkan, di daerah lain tidak sedikit yang mengadakan kupatan mungkin ada iuran sebagai dana diperuntukkan hiburan. Ketika tidak ada acara, maka masyarakat tidak berkunjung silaturahim.

 

"Manakala tidak ada hiburan ya tidak ada yang datang. Kalau sini memang tujuannya silaturahim, ingin ziarah (sowan) ke rumah kiainya. Jadi, pasti banyak yang datang," jelasnya.

 

Dirinya menyebutkan bahwa kupatan di Durenan Trenggalek diperingati mulai zaman dahulu. Hal itu diawali dari perayaan kupatan di salah satu rumah dan merembet ke daerah sekitarnya.

 

Selain itu, masyarakat sudah mengetahui jika selama hari raya pertama Syawal sampai keenam tidak ada yang silaturahim. Pasalnya, sudah mafhum adanya menerima tamu silaturahim dilakukan pada Hari Raya Ketupat atau tanggal 7 Syawal.

 

"Masyarakat kalau belum kupatan kemari umumnya sungkan silaturahim. Karena umumnya keluarga di sini puasa semuanya," pungkasnya.


Matraman Terbaru