• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 2 Juli 2022

Matraman

Santri Kelas Akhir di Pondok Rejoso Dibekali Pemahaman Aswaja

Santri Kelas Akhir di Pondok Rejoso Dibekali Pemahaman Aswaja
Peserta pembekalan Aswaja di Asrama Al-Furqon Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang sedang menyiapkan poster. (Foto: NOJ/Istimewa)
Peserta pembekalan Aswaja di Asrama Al-Furqon Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang sedang menyiapkan poster. (Foto: NOJ/Istimewa)

Jombang, NU Online Jatim
Asrama Al-Furqon Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang mengadakan pembekalan Aswaja untuk santri kelas akhir. Acara dilaksanakan dalam tiga sesi yakni Senin, Kamis, dan Senin (04, 07, dan 11/04/2022). Kegiatan dipusatkan di aula Itqon setempat dengan mengundang Ustadz Yusuf Suharto, peneliti Aswaja NU Center Jawa Timur. 


Pada sesi pertama, narasumber menjelaskan tentang sejarah dan konsep dasar Aswaja. Kedua, tentang akidah, dan aliran-aliran, dan sesi pada pertemuan ketiga tentang fikih dan landasan amaliah, tasawuf serta ke-NU-an. 


Gus Dzul Azmy selaku pengasuh, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya pembekalan Aswaja bagi santri sebelum memasuki pendidikan setelahnya dan atau kampus. 


"Kegiatan ini bermanfaat agar para santri terjaga dari pergaulan bebas, dan terbentengi dari faham-faham atau aliran  yang tidak sesuai dengan Ahlussunnah wal Jama'ah an Nahdliyah," kata kiai muda cucu Kiai Romly Tamim ini. 


"Jadi, jangan gampang katutan,” imbuhnya.


Dalam acara yang berlangsung bakda tarawih hingga pukul sepuluh malam itu, Ustadz Yusuf Suharto menyampaikan pentingnya mengikuti mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali). Hal itu sesuai pola yang dikembangkan para ulama pesantren dan NU. 


"Mengikuti madzhab empat tersebut berarti mengikuti sabda Rasulullah bahwa ikutilah kelompok mayoritas atau al-sawad al-a'zham,” katanya.


Hal ini berangkat dari realitas sosial umat Islam, bahwa setelah mazhab-mazhab fikih yang benar telah punah kecuali mazhab empat ini.  “Maka mengikutinya berarti mengikuti kelompok mayoritas, dan keluar darinya berarti keluar dari kelompok mayoritas," ujar tim penulis Khazanah Aswaja yang diterbitkan Tim Aswaja NU Center PWNU Jatim ini.


Menurutnya, Ahlussunnah wal Jamaah bermakna mengikuti sunah Rasulullah, dan sunah jamaah sahabat, tabiin dan tabiut tabiin dari generasi salaf shalih. Yang kemudian diikuti generasi selanjutnya, dari kalangan para ulama terpercaya.


"Contoh sederhana saja, dalam tarawih dua puluh rakaat adalah dipraktikkan pada masa Umar bin Khatab dan berlangsung hingga saat ini di Mekah dan pada umumnya kaum muslimin di dunia. Pada masa Umar tidak ada satupun sahabat yang keberatan dan ini disebut ijmak sahabat,” ungkapnya.


Menurutnya, jika ada yang tarawihnya kurang dari dua puluh rakaat, maka dipersilakan, asal jangan menyalahkan mereka yang tarawih 20 rakaat dengan 3 witir. 


Disampaikan pula, kaum muslimin di Nusantara misalnya, setelah jamaah shalat maktubah itu berdzikir berjamaah, dan dengan bersuara nyaring. 


“Nah, praktik ini sudah dikemukakan oleh pakar tafsir Al-Qur’an, dari kalangan sahabat, yaitu Abdullah Ibn Abbas sebagai telah ada pada zaman Rasulullah, haditsnya shahih,” urai dia.


Dirinya mengingatkan peserta untuk bersyukur bahwa para imam panutan dalam bidang akidah, yaitu Imam Abul Hasan al-Asy'ari adalah mujaddid pada masanya. Panutan dalam bidang fikih, Imam Syafi’i adalah mujadid pada masanya. Demikian pula dalam tasawuf yakni Imam Ghazali. 


"Ketika kalian di kampus nanti kok ada kelompok atau orang yang tidak mau dengan contoh tiga panutan kita ini, maka jangan mau masuk ke komunitas mereka. Kita harus waspada, demi mempertahankan dan mengembangkan Aswaja yang sudah diajarkan di pesantren,” tegasnya.


Yang unik dan menarik, sebelum dimulai sesi pertama para santri diberikan pre test soal soal keaswajaan. Kemudian pada sesi ketiga atau hari terakhir, materi pembekalan tiga hari itu ringkasannya dituangkan dalam ‘Poster Aswaja Satu Lembar’. 


Dirinya jadi teringat kepada profesor pakar ilmu dakwah yang menganjurkan konsep Aswaja agar mudah difahami, ada yang perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana dalam satu lembar. 


“Nah, tugas para santri perkelompok di kertas plano ini adalah bagian dari memahamkan Aswaja dalam satu lembar. Salut, hasilnya unik, dan variatif,” bangganya.


Terkumpul 15 poster dari 15 kelompok, dan acara didampingi asatidz, bahkan pengasuh juga mendampingi atau memantau kegiatan di sekitar lokasi acara.


Matraman Terbaru