• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Nusiana

Cerita Kiai Mutawakkil Kehilangan Hikam Titipan Gus Dur

Cerita Kiai Mutawakkil Kehilangan Hikam Titipan Gus Dur
Foto Gus Dur semasa hidup. (Foto: Istimewa)
Foto Gus Dur semasa hidup. (Foto: Istimewa)

Surabaya, NU Online Jatim

Almaghfirullah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dikenal tokoh Nahdlatul Ulama yang gemar turun ke bawah kala memimpin organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia itu. Dalam sebulan, ia biasa menyambangi sejumlah daerah, menghadiri acara NU atau sekadar silaturrahim ke pesantren-pesantren.

 

Disarikan dari Tawashow di Pesantren (LKiS, 1999), satu waktu Gus Dur berkunjung ke Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kabupaten Probolinggo. Ia ditemani intelektual muda yang beken saat itu, AS Hikam.  Di sana, Gus Dur berceramah di hadapan peserta halaqah.

 

Usai berceramah, Gus Dur buru-buru pamitan ke tuan rumah, Kiai Hasan Mutawakkil Alallah, sekarang Pengasuh Pesantren Zainul Hasang Genggong. Gus Dur mengaku akan berkunjung ke pesantren lain di Probolinggo.

 

“Gus, aku titip Hikam di sini,” kata Gus Dur kepada Kiai Mutawakkil saat pamitan.

 

Setelah Gus Dur pergi, Kiai Mutawakkil langsung berpikir untuk mencari Hikam titipan Gus Dur itu. Kiai yang kini menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur itu tidak tahu di mana Gus Dur meletakkan Hikam.

 

Kiai Mutawakkil pun meminta para santrinya untuk mencari Hikam. Setelah sekian waktu dicari, tak satu pun santri yang disuruh Kiai Mutawakkil menemukan titipan Gus Dur. Hingga kemudian salah satu santri yang tahu titipan yang dimaksud Gus Dur memberitahu Kiai Mutawakkil.

 

“Kiai, yang dimaksud Gus Dur dengan Hikam itu adalah teman seperjalanannya ke sini.”

 

“O, jadi Hikam itu nama orang,” kata Kiai Mutawakkil.

 

Rupanya, Kiai Mutawakkil mengira Hikam titipan Gus Dur itu adalah kitab Al-Hikam yang masyhur dipelajari di pesantren. Menyadari kekeliruannya, ia pun kemudian menghampiri AS Hikam yang duduk bengong sambil mengusap kepala.

 

Editor: Nur Faishal


Nusiana Terbaru