• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Nusiana

Dihukum Gosok Punggung dengan Nanas, Malah Tertawa

Dihukum Gosok Punggung dengan Nanas, Malah Tertawa
KH Ahmad Sadid Jauhari saat kajian Ahad Pahing Masjid Agung KH Anas Mahfudz Lumajang, Ahad (14/08/2022). (Foto: NOJ/ Sufyan Arif)
KH Ahmad Sadid Jauhari saat kajian Ahad Pahing Masjid Agung KH Anas Mahfudz Lumajang, Ahad (14/08/2022). (Foto: NOJ/ Sufyan Arif)

Bagaimana rasanya punggung digosok dengan buah nanas berduri yang baru diambil dari pohonnya? jelas sakit. Alkisah, ada dua orang prajurit yang bernasib apes. Keduanya berhasil ditangkap dan dijadikan tawanan oleh musuhnya.


Itulah sepenggal cerita yang dikisahkan KH Ahmad Sadid Jauhari, Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat menjelaskan konsep sabar dan syukur di kajian Ahad Pahing Masjid Agung KH Anas Mahfudz Lumajang, Ahad (14/08/2022).


Kedua prajurit tawanan perang ini, kata Kiai Sadid, akhirnya dibawa ke hadapan raja. Raja yang melihat hal itu pun menawarkan kepada para petingginya, hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada dua prajurit tersebut.


"Ada yang usul agar dieksekusi. Namun ada yang bilang dimanfaatkan, dibawa ke hutan untuk mencari buah-buahan baru. Dan usulan ini yang diterima raja," jelas Kiai Sadid.


Singkat cerita, kedua prajurit ini dibawa ke hutan untuk mencari buah-buahan baru yang tidak ada di negara raja. Keduanya bingung hendak mencari buah apa. Salah satu prajurit menemukan nanas. Dia mengira di negara raja tidak ada yang tahu bahwa nanas adalah buah-buahan.


"Dia serahkan nanas yang dia bawa kepada raja. Raja tanya ke rakyatnya, hai rakyatku, kalian tahu ini buah-buahan? rakyat menjawab tahu bahwa itu buah-buahan bernama nanas," lanjut Kiai Sadid.


Dengan jawaban rakyat tadi, lanjut Kiai Sadid, maka dua prajurit tawanan dianggap gagal dan diputuskan mendapat hukum gosok punggung dengan nanas yang mereka bawa. Saat hukuman dijalankan, mereka berteriak menahan sakitnya digosok dengan nanas. Anehnya digosokan ketiga, mereka malah tertawa terbahak-bahak.


"Raja tanya, hai kenapa kamu pertama dan kedua berteriak kesakitan, sedangkan saat digosok ketiga kalinya kamu tertawa. Apa kamu punya obat atau amalan penghilang rasa sakit," imbuh Kiai Sadid yang membuat jamaah semakin penasaran.


Kiai Sadid mengungkapkan, prajurit itu mengaku tidak mempunyai obat atau amalan apapun yang membuat dirinya tertawa. Prajurit ini tidaklah berbohong, rasa sakitnya hilang saat ia melihat temannya datang dan membayangkan sesuatu yang lebih kejam akan diterima temannya.


"Kata prajurit yang dihukum ini, saya lihat teman saya datang, membawa durian. Jadi dia membayangkan, bagaimana nanti jika rakyat sini tahu jika durian itu buah-buahan, dan bagaimana rasa sakit temannya digosok durian di punggungnya," ujar Kiai Sadid disambut gelagak tawa jamaah.


"Artinya, jika terkena musibah, kemudian kita melihat orang yang terkena musibah lebih besar dari kita, sehingga kita sabar karena melihat musibah yang kita terima tidak seberapa dibanding yang orang lain alami," tandasnya.


Editor:

Nusiana Terbaru