• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 18 Juni 2024

Opini

Sang Pemersatu Pimpin PWNU Jatim

Sang Pemersatu Pimpin PWNU Jatim
Abd Aziz (penulis) saat bersama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. (Foto: NOJ/ ISt)
Abd Aziz (penulis) saat bersama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. (Foto: NOJ/ ISt)

Oleh: Abd Aziz *)

 

Suatu hari, tepatnya akhir medium 2014, penulis berdiskusi soal kebangsaan dengan Gus Sholah, panggilan akrab KH Salalahuddin Wahid, adik kandung Presiden keempat, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kediamannya, Jalan Bangka Raya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Sebelumnya, pernah berbincang di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

 

Seorang tokoh pesantren, penulis, dan aktivis HAM itu, berpulang ke Rahmatullah pada Ahad, 2 Februari 2020 lalu. Empat tahun sudah, Gus Sholah meninggalkan kita semua.

 

Namun, rasa kepedulian pada bangsa dan negara, khidmat pada pesantren, dan kesahajaan yang melekat padanya, akan terus dikenang oleh masyarakat. Salah satu pesannya adalah bagaimana kita terus berikhtiar untuk memberikan kemanfaatan pada umat manusia.

 

Entah mengapa, pada Rabu (10/01/2024) siang, penulis didera kerinduan pada sosok Gus Sholah dan ingin menjejakkan kaki di Pesantren Tebuireng, yang kini dipimpin KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.

 

Selepas shalat Dzuhur, berkomunikasi dengan Gus Kikin, hendak sowan bersama keluarga. Walaupun cuaca tidak bersahabat, Kota Malang diguyur hujan, bergegas memecah siang, melaju menempuh jarak 127-129 kilo meter menuju Jalan Irian Jaya Nomor 10, Cukir, Diwek, Jombang.

 

Akhirnya, penulis diterima di ruang tamu utama Pesantren Tebuireng. Beruntung, malam itu, generasi ke-4 setelah Gus Sholah, yang juga cicit pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy'ari ini, cukup longgar sehingga perbincangan begitu mengalir. Di kalangan masyarakat, Gus Kikin dikenal sebagai figur Kiai yang rendah hati, teduh dalam berdakwah, dan semangatnya luar biasa dalam mempersatukan umat.

 

Selain disegani ketokohannya, memiliki kemandirian pendapat, termasuk dalam mengelola pesantren yang tidak bergantung pada pemerintah. Ia juga seorang pengusaha di bidang minyak dan gas berskala nasional.

 

Dalam pandangan penulis, karena memimpin Pesantren Tebuireng dengan hati yang lembut, konsentrasi pada pembangunan mental dan spiritual, menjauhkan pondok pesantren dari kepentingan politik, Gus Kikin diterima oleh banyak kalangan. Tak terkecuali, para tokoh nasional, termasuk ketiga calon Presiden RI (2024) berkunjung, silaturrahim ke Pesantren Tebuireng.

 

Pertemuan penulis dengan Gus Kikin, yang diniatkan menghormati almarhum Gus Sholah dan berkhidmat pada Pesantren Tebuireng, sungguh tergolong istimewa! Apa hal ikhwal?

 

Ternyata, malam itu menemukan momentum yang baik karena 4 jam pasca Gus Kikin ditunjuk memimpin PWNU Jatim melalui Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Nomor: 267.c/A.II.04/09/2023, untuk pertama kali, penulis berkesempatan  mengucapkan selamat secara langsung pada Pejabat Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, itu.

 

Sambil memandang wajah Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy'ari lekat-lekat yang terpasang di tembok, penulis tertegun sejenak. Timbul satu harapan yang mendalam.

 

Dengan hadirnya Gus Kikin memimpin PWNU Jatim, mampu menyatukan sekaligus memperkuat hubungan antar pengurus, dan keluarga besar NU Jatim kembali terkonsolidasi setelah KH Marzuki Mustamar diputuskan tidak lagi menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah melalui Surat Keputusan PBNU, Nomor: 274/ PB.01/A.II.01.44/99/12/2023.

 

Sebagai orang yang lahir dan besar dalam keluarga Nahdliyin, penulis melihat organisasi keagamaan terbesar di Tanah Air, kontribusinya pada bangsa dan negara tak diragukan. Jawa Timur merupakan tempat berdirinya NU, tentu harapan di atas menemukan relevansinya.

 

Terlebih, menurut sejarahnya, keorganisasian NU tidak pernah terpecah walaupun ada perbedaan pandangan atau pendapat. Setajam apa pun, itu! Semuanya akan kembali bersatu, mewujudkan visi dan misi, bersama memajukan organisasi.

 

Itulah kekuatan utama NU, yang berdiri sejak 31 Januari 1926, tumbuh dan berkembang serta maju selama seratus tahun, satu abad lamanya hingga saat ini.

 

Sesekali menghela napas panjang, sesekali menikmati hidangan yang disajikan. Bersama Gus Kikin, berdiskusi tentang banyak hal. Mulai urusan kebangsaan, negara ke depan, sistem pengawasan pondok pesantren yang terencana, terukur, dan terprediksi hingga bagaimana NU dikelola dengan prinsip manajemen yang baik agar terus memberikan kemanfaatan pada umat.

 

Dari saking menariknya, ungkapan-ungkapan yang mengandung ilmu dan pengalaman yang menginspirasi, itu tak jarang mengundang gelak tawa lepas bersama.

 

Tak lupa, Gus Kikin bercerita tentang silsilah keluarga Pesantren Tebuireng, dan bagaimana para pendahulunya yang betul-betul memisahkan antara politik dan pesantren, yang bagi Tebuireng, harus menyangga republik karena heterogen-nya para santri, orang tua dan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan luar negeri.

 

Tak sadar, langit Kota Santri diselimuti awan tebal, pertanda hujan segera turun. Tak terasa pula, malam pun kian larut, para santri mulai terlelap. Namun, harus penulis akui, Gus Kikin termasuk kiai yang bersahaja, humble, dan senang berbagi pengetahuan soal sejarah Islam dan aktor terdepan dalam bahu membahu merebut kemerdekaan Republik Indonesia, yang belakangan berpotensi terjadinya pembelokan sejarah!

 

Perbincangan yang memakan waktu 180 menit itu, akhirnya diakhiri, dan penulis pun membalikkan badan, mohon undur diri, berjabat tangan, mengucapkan salam sambil berujar pelan. "Terima kasih atas sambutan hangat dan sharing-nya. Semoga Tebuireng makin maju, NU Jatim bersatu, dan progresif, Gus."

 

*) Abd Aziz, Advokat, adalah seorang Legal Consultant, Lecture, Mediator Non Hakim, Founder dan CEO Firma Hukum Progresif Law. Kini, Sekjen DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK).


Opini Terbaru