• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Maret 2024

Tokoh

Gus Kikin Emban Amanah Pj Ketua PWNU Jatim, Inilah Sekilas Biografinya

Gus Kikin Emban Amanah Pj Ketua PWNU Jatim, Inilah Sekilas Biografinya
KH Abdul Hakim Mahfudz atau dikenal dengan Gus Kikin (Foto:NOJ/nuonline)
KH Abdul Hakim Mahfudz atau dikenal dengan Gus Kikin (Foto:NOJ/nuonline)

Beredar kabar bahwa KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin diamanahi menjadi Penjabat (Pj) Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Tentu hal ini sangat menarik untuk mengetahui sekilas biografinya.


KH Abdul Hakim Mahfudz atau lebih akrab dikenal dengan Gus Kikin adalah pengasuh Pesantreng Tebuireng ke-8 yang melanjutkan kepengasuhan Pesantren Tebuireng pasca KH Solahudin Wahid wafat.


Gus Kikin lahir pada tanggal 17 Agustus 1958. Pendidikan agama Gus Kikin didapatkan langsung dari ayahnya, KH. Mahfudz Anwar pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Seblak Jombang.


Sedangkan pendidikan umum semuanya ditempuh di Jombang. Dari MI Parimono, SMPN 1 Jombang hingga SMPP yang sekarang dikenal sebagai SMAN 2 Jombang. Setelah itu, Gus Kikin melanjutkan pendidikan akademi pelayaran.


Dengan bekal keilmuan agama yang diserap langsung dari ayahnya, Gus Kikin menjadi sosok kiai yang memiliki wawasan luas, khususnya berkaitan dengan dunia pelayaran dan bisnis.


Dilansir dari NU Online, Gus Kikin juga dikenal sebagai pengusaha di bidang minyak dan gas bumi, pemilik PT Energi Mineral Langgeng (EML), sebuah perusahaan migas nasional yang diberi amanat mengelola South East Madura Block. Wilayah kerja yang dikelola oleh Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) ini meliputi wilayah Sumenep dan Situbondo. 


Namun harus diakui bahwa pencapaian Gus Kikin seperti sekarang ini tentu tidak terlepas dari peran penting orang tua, KH. Mahfudz Anwar (w. 1999) dan Nyai Abidah Maksum (w. 2006). Sebab kedua orang tua Gus Kikin bukan orang sembarangan.


Mengenal Orang Tua Gus Kikin
Perlu diketahui, KH. Mahfudz Anwar (1912-1999) adalah putra dari K.H. Anwar Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in Paculgowang, Jombang. Letak pesantrennya dekat dengan Seblak dan Tebuireng. 


Di samping itu, KH. Mahfudz Anwar dikenal sebagai ahli fikih, tafsir, gramatika Arab dan pakar astronomi / ahli falak yang mashur seperti sang mertua, KH. Maksum bin Ali. Menurut sebagian informasi, Gus Kikin pernah belajar ilmu falak dibawah bimbingan langsung KH. Mahfudz Anwar. 


Beralih kepada Nyai Abidah, merujuk pada website Tebuireng, ibunda Gus Kikin ini terlahir dari pasangan suami istri yang istimewa, KH. Maksum bin Ali dan Nyai Khoiriyah Hasyim. Bahkan dalam buku ‘Women from Traditional Islamic Educational Institutions in Indonesia’ karya Eka Srimulyani lulusan Universitas Amsterdam, Nyai Abidah dijuluki ‘Kartini Indonesia dari Jombang’.


Julukan itu disematkan, karena kiprah Nyai Abidah baik menjelang maupun di masa awal kemerdekaan Indonesia. Kiprah itu antara lain dengan menjadi pemimpin masyarakat, mengkader para santri putri agar kelak siap menjadi Ibu Nyai melalui dunia pendidikan, dan juga melalui dunia politik. 


Kiprah lain Nyai Abidah selain menjadi pengasuh pesantren, beliau diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jombang pada 1950. Selain itu   beliau juga aktif di Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), walaupun di tengah kesibukannya mengurus Pondok Seblak dan mengasuh anak-anaknya yang masih kecil. 


Usai menjabat anggota DPRD Jombang, berlanjut pada 1956-1959, beliau menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia (KRI), yang bertugas menyusun konstitusi baru untuk Indonesia sebagai pengganti dari Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950 M. 


Pada kesempatan ini, beliau merupakan salah satu dari tujuh perempuan NU yang terpilih menjadi anggota KRI. Dan kiprahnya sebagai seorang anggota KRI berhenti, karena pada 1959, KRI dibubarkan.


Meski KRI telah dibubarkan, hal tersebut tidak menyebabkannya Nyai Abidah berhenti memberikan sumbangsih terhadap Negara. Hingga pada 1960-1968, beliau mendapat amanah sebagai Hakim Agama di Pengadilan Agama Jombang selama dua periode. Bahkan dalam catatan Negara, Nyai  Abidah merupakan wanita pertama yang menjadi Hakim Agama di Indonesia.


Pernikahannya
Dalam dunia pesantren, salah satu tradisi untuk menjaga ikatan keilmuan pesantren adalah merajut pernikahan antar pesantren. Termasuk pernikahan KH. Mahfudz Anwar dengan Nyai Abidah, putri dari KH. Maksum bin Ali dengan Nyai Khoiriyah Hasyim.


Dari pernikahan tersebut, kemudian melahirkan beberapa keturunan, di antaranya yang populer adalah KH. Abdul Halim Mahfudz (Gus Lim) pengasuh PP Seblak sekarang, KH. Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin, dan alm KH. Abdul Wachid Mahfudz (Gus Wahid). 


Ini artinya, Gus Kikin  merupakan putra dari kiai pakar falak kenamaan, putra dari nyai yang dijuluki Kartini dari Jombang, cucu dari pendiri pesantren Seblak sekaligus penulis kitab shorof dan ilmu falak yang populer, dan cicit pendiri jamiyah Nahdlatul Ulama, yaitu Hadrotus Syekh Hasyim Asyari. 


Dengan demikian, sangat tepat bila kepemimpinan PWNU Jatim diamanahkan kepada Gus Kikin selaku dzuriyah tiga pesantren besar dan tidak berlebihan pula jika dikatakan bahwa KH. Abd Hakim Mahfudz (Gus Kikin) merupakan tali simpul dari tiga pesantren besar: Tebuireng, Seblak dan Paculgowang.


Editor:

Tokoh Terbaru