• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 15 Agustus 2022

Parlemen

Wakil Rakyat Ini Prihatin Minimnya Perhatian kepada Pesantren dan Madin

Wakil Rakyat Ini Prihatin Minimnya Perhatian kepada Pesantren dan Madin
Reses anggota DPRD Jawa Timur Dapil IX, H Kholiq. (Foto: NOJ/A Toriq)
Reses anggota DPRD Jawa Timur Dapil IX, H Kholiq. (Foto: NOJ/A Toriq)

Ponorogo, NU Online Jatim
Madrasah diniyah atau madin dan pesantren seringkali kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Baik dari segi sarana dan prasarana, maupun kesejahteraan pengelolanya. Padahal dua lembaga pendidikan ini menurutnya memiliki peranan penting dalam membentuk akidah akhlak generasi penerus. 


Hal ini disampaikan anggota DPRD Jawa Timur Dapil IX yang meliputi Magetan, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo dan Ngawi, H Kholiq dalam setiap kegiatan resesnya. Ia mengaku prihatin dengan banyaknya fasilitas sarana dan prasarana yang kurang memadai. 


"Padahal metode pendidikan madrasah diniyah dan pesantren ini sekarang banyak diadopsi sekolah-sekolah umum baik negeri maupun swasta,'' katanya, Senin (30/05/2022). 


Politisi PKB ini mengaku memang ada ketimpangan pada lembaga pendidikan agama termasuk di pesantren. Khususnya dalam bantuan anggaran pembangunan maupun operasional. 


"Saya berharap baik pemerintah provinsi, maupun kabupaten maupun kota memberikan perhatian lebih kepada madin dan pesantren," katanya. 


Lebih lanjut Kholiq mengatakan pihaknya akan terus berupaya menyalurkan anggaran dari APBD untuk pembangunan pengembangan madin dan pesantren. Menurutnya hal ini juga terkait dengan Raperda Pengembangan Pesantren yang saat ini dibahas oleh Pansus. 


"Raperda ini sangat penting, selain membangun kemandirian juga kesetaraan status pendidikan di pesantren. Dengan adanya Raperda ini, diharapkan Provinsi Jatim memiliki kekuatan hukum dalam pengembangan pondok pesantren," terangnya. 


Artinya, lanjut Kholiq, lulusan pondok pesantren ini juga diakui.  Karena selama ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dianggap rendah.  


"Padahal setelah lulus SD, banyak yang melanjutkan ke pesantren, bukan ke sekolah formal," pungkasnya.


Editor:

Parlemen Terbaru