Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Berkah Rajin Puasa, Jasad Abu Thalhah Utuh

Berkah Rajin Puasa, Jasad Abu Thalhah Utuh
Abu Thalhah dikenal rajin puasa dan menghormati tamu. (Foto: NOJ/KIm)
Abu Thalhah dikenal rajin puasa dan menghormati tamu. (Foto: NOJ/KIm)

Dalam kehidupan, kematian adalah hal yang tidak bisa semua orang hindari. Kematian akan selalu datang dalam kehidupan. Kematian pula yang membuat sebagian orang merasa itu hadir di waktu yang tidak tepat. Namun, siapa yang harus disalahkan? Tidak ada.

 

Dalam sejarah Islam, ada seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang ia segani dalam hidup. Abu Thalhah namanya. Termasuk salah satu sahabat Nabi yang mendermakan seluruh hal yang dimiliki dan dicintainya kepada orang lain. Kebaikan dan kemurahan hati Abu Thalhah dan istrinya dalam menjamu tamu, adalah salah satu perbuatan mulia bagi Nabi Muhammad SAW.

 

Nabi Muhammad SAW pernah berkata kepada Abu Thalhah: Wahai Abu Thalhah, Allah SWT kagum dengan perbuatanmu menjamu tamu semalam. Bahkan Allah SWT menurunkan sebuah ayat tentang hal itu kepadaku, yang tertuang dalam QS al-Hasyr ayat 9 yang artinya: Mereka lebih mengutamakan (orang Muhajirin) daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka memerlukannya.

 

Mengenai sosok Abu Thalhah, dirangkum dari beberapa sumber, bahwa jenazahnya utuh karena rajin berpuasa. Semasa hidupnya, ia sangat rajin berpuasa kecuali pada hari-hari yang diharamkan.

 

Ada satu kisah yang menjelaskan bahwa Abu Thalhah terus mengarungi bumi untuk menegakkan kalimat Allah SWT dan memuliakan agama-Nya.

 

Pada suatu kisah, ketika pasukan muslim di masa Khalifah Usman bin Affan akan berperang di lautan, Abu Thalhah ikut bersama rombongan. Namun, anaknya seperti tidak mengizinkan karena kondisi Abu Thalhah yang sudah tua renta.

 

Anak dari Abu Thalhah berkata: Semoga Allah merahmatimu wahai ayah kami. Kau sekarang sudah tua sekali. Kau sudah berjuang bersama Rasulullah, Abu Bakar, Umar, kenapa kau sekarang tidak istirahat saja dan biarkan kami yang berjihad.

 

Abu Thalhah menjawab melalui firman Allah SWT dalam QS At-Taubah ayat 41 yang artinya: Allah SWT berfirman berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

 

Lantas, Abu Thalhah pun berangkat dalam rombongan untuk ikut berjihad. Namu, kematian selalu bisa dipastikan akan terjadi dalam hidup. Abu Thalhah meninggal saat berada di tengah lautan bersama pasukan muslimin lainnya. Mereka (kaum muslimin) berusaha mencari pulau untuk menguburkan jasadnya, tetapi tidak menemukan satu pulau pun saat perjalanan kecuali setelah tujuh hari lamanya.

 

Anehnya, selama tujuh hari itu jasad Abu Thalhah seperti tidak berubah. Seakan-akan Abu Thalhah hanya sedang tertidur pulas. Jauh dari keluarga, jasad Abu Thalhah dimakamkan di tempat yang jauh, namun dekat kepada Allah SWT.

 

Begitulah kisah perjuangan Abu Thalhah yang tetap ingin berjuang dalam menegakkan ajaran Allah SWT dan amalan puasa yang dilakukannya. Dengan usahanya, Abu Thalhah diberikan kemudahan saat bertemu Allah SWT. 

 

Besok, setelah 1 Syawal kaum muslimin dapat mencoba kembali kegandrungan berpuasa setelah ditempa selama sebulan penuh di bulan Ramadlan. Meski tidak seperti Abu Thalhah, paling tidak dapat menjaga diri dari kegemaran makan, apalagi melampaui batas. 

F1 Promosi Iklan