Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kemajuan Teknologi Jadi Tantangan Baru bagi Santri 

Kemajuan Teknologi Jadi Tantangan Baru bagi Santri 
Gus Fatchul Yasin saat memberikan mauidlah hasanah dalam acara lailatus shalawat (Foto: NOJ/ Zaiyana NA)
Gus Fatchul Yasin saat memberikan mauidlah hasanah dalam acara lailatus shalawat (Foto: NOJ/ Zaiyana NA)

Batu, NU Online Jatim
Di antara tantangan yang nyata di depan mata bagi santri dan generasi saat ini adalah kemajuan teknologi. Bahkan tidak sedikit masalah yang ditimbulkan dari hal tersebut bila ceroboh menyikapinya.

 

"Situasi yang dihadapi santri saat ini tidaklah mudah. Dulu orang bahtsul masail itu gampang, perkaranya nyata, kitabnya nyata, yang membahas juga nyata. Nah sekarang, yang dibahas juga perkara yang tidak nyata, perkara yang tidak semuanya nampak," kata Gus Fatchul Yasin, Jumat (22/10).


Pandangan tersebut disampaikan saat mengisi lailatus shalawat yang diselenggarakan Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Batu di Pesantren Manbaul Ulum Sidomulyo.

 

Menurutnya, teknologi yang sedemikian canggih juga akan melahirkan dua tipikal generasi, yaitu kaum ekstremis dan apatis. 

 

"Hati-hati santri akan berhadapan dengan dua perusak agama, yang pertama tasyadud fiddin atau ekstremis dan yang kedua tasahhul fiddin yakni apatis," kata Gus Yasin mengutip pesan almaghfurllah KH Hasyim Muzadi.

 

Kaum ekstremis adalah orang yang putus asa terhadap fenomena. Memiliki jargon kembali kepada Al-Qur'an dan hadits, suka membid'ahkan, dan menganggap keliru orang lain yang tidak sepaham dengan mereka.

"Pakai sarung terlalu panjang masuk neraka, pakai kopyah hitam bid'ah," ungkapnya.

 

Padahal jika berpikir sederhana, beragama itu mudah. Dalam syariat tidak ada batasan bagaimana cara menutup aurat, yang terpenting adalah menutup aurat dengan benar dan sopan sudah cukup memenuhi syarat sah shalat.

 

Sedangkan kaum apatis adalah mereka yang menggampangkan agama. Kemajuan teknologi membuat sebagian orang mengandalkan pemikiran dan temuan-temuan baru, kemudian mempertanyakan peran Tuhan dalam kehidupannya.

 

"Tiap tahun mereka berkembang menjadi kaum yang tidak butuh agama, dan masih banyak orang yang seperti ini," kata Gus Yasin mengingatkan.

 

Kedua golongan tersebut menjadi tantangan nyata bagi santri sekaligus kader IPNU IPPNU. Maka dari itu penting untuk tetap berada di tengah-tengah atau tawassuth

 

"Pola pikir tawassuth itu tidak reaktif dan tidak reaksioner. Kalau ada apa-apa dinalar dulu, ditabayyun dulu, dibahas dulu baru diputuskan," tegasnya.

 

Lailatus shalawat yang dimeriahkan grup banjari ini sebagai rangkaian Hari Santri 2021 di Kota Batu.

 

Penulis: Zaiyana Nur Ashfiya 


Editor:
F1 Bank Jatim Syariah (6/12)