Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Mengenal KH Nachrowi Thohir Malang, Perintis Sekolah Perempuan

Mengenal KH Nachrowi Thohir Malang, Perintis Sekolah Perempuan
KH Nachrowi Thohir. (Istimewa).
KH Nachrowi Thohir. (Istimewa).

Malang, NU Online Jatim

Menyongsong Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke 98, selayaknya merefleksikan sejarah panjang perjuangan muassis NU. Terdapat 13 nama pendiri yang tercatat saat pendirian NU.

 

Di antaranya yakni KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syamsuri, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdul Chamid Faqih, KH Ridwan Abdullah, KH Mas Alwi bin Abdul Aziz, KH A Dachlan Achjad, KH Abdul Halim, KH Ma’shum, KH Abdullah Ubaid, Syech Ghonaim Al Misri, KH R Asnawi, dan KH Nachrowi Thohir.

 

Nama muassis NU terakhir tersebut berasal dari Malang. Beliau tercatat sebagai salah satu A’wan pertama pada tahun 1926. Selain itu beliau juga tercatat sebagai Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) keempat setelah KH Mahfudz Shiddiq sebelum KH Abdul Wahid Hasyim.

 

Di Malang, tepatnya di Bungkuk Singosari pernah ada salah satu kiai kharismatik yang merupakan putra terakhir dari KH M Thohir yang masyarakat sekitar menjulukinya Mbah Thohir Bungkuk. Putra terakhir Mbah Ahohir ini adalah KH Nachrowi Thohir yang lahir pada tahun 1900 M atau 1317 H.

 

Sejak kecil Kiai Nachrowi Thohir sangat memiliki perhatian khusus dalam dunia pendidikan. “Semasa kecil abah (Kiai Nachrowi) menghabisnya waktunya untuk belajar kepada kakek (Mbah Thohir) di Pondok Pesantren Miftahul Falah Bungkuk,” kata KH Munsif Nachrowi Thohir, putra KH Nachrowi Thohir saat di temui NU Online Jatim di kediamannya.

 

Ia menceritakan, kala itu Pondok Pesantren Miftahul Falah Bungkuk merupakan rujukan tokoh NU dan beberapa tokoh perjuangan lainnya. Dari Mbah Thohir, Kiai Nachrowi kecil mempelajari dasar – dasar Agama Islam seperti membaca Al-Qur'an dan mengkaji kitab-kitab tauhid seperti Aqidatul Awam, ilmu alat seperti Jurumiyah dan Imrithi.

 

Setelah menuntaskan belajar di pondok pesantren milik ayahnya tersebut, Nachrowi melanjutkan pengembaraannya menuntut ilmu di Kiai Ihsan Muhammad Dahlan Jampes. “Setelah beberapa waktu di Jampes, Abah (Kiai Nachrowi) berpamitan kepada gurunya untuk melanjutkan pengembaraannya ke Pondok Pesantren Siwalanpanji, Sidoarjo yang diasuh oleh Kiai Ya'qub. Pesantren ini dikenal sebagai basis pelabuhan para ulama seperti halnya KH M Hasyim Asy'ari,” ulas Kiai Munsif.

 

Pasca menuntaskan belajar di Siwalanpanji, Nachrowi yang mulai dewasa masih saja melanjutkan pendidikannya ke Kiai Idris di Pondok Pesantren Jamsaren Solo. “Dari Jamsaren beliau melanjutkan nyantri pamungkasnya kepada Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban al-Bangkalan al-Maduri al-Jawi as-Syafi’I,” lanjutnya.

 

Sepulang dari menuntut ilmu di berbagai guru yang ada di berbagai tempat, Nachrowi pulang dengan disambut baik oleh masyarakat Malang.

 

“Ibarat permata yang turun ke permukaan, Abah langsung di sambut baik pula oleh saudagar kaya yang berada di Jagalan Malang untuk di minta menjadi menantunya. Saudagar ini bernama Kiai Abdul Hadi yang mempunyai putri bernama Hj Rukoyyah. Tak berselang lama setelah itu akhirnya Abah dinikahkan dengan Umi (Rukoyyah),” ungkap Kiai Munsif.

 

Setelah menikah, Nachrowi sebagai Gus muda langsung menginisiasi dan merealisasikan pendirian Madrasah Nahdlatul Wathon. Madrasah ini tidak berselang lama, pada tahun  1921 namanya berubah menjadi Madrasah Muslimin Nahdlatul Wathon hingga bernama Hollandsch Inlandsch School Nahdlatul Oelama (HIS NO). “Dari madarasah ini muncullah sederet nama di antaranya KH Tholhah Mansoer (Pendiri IPNU), KH Oesman Mansur, Nyai Khusnul Khotimah (Sekretaris Fatayat Pertama), dan lain-lain,” papar Kiai Munsif.

 

Sekitar 1924 Kiai Nachrowi menginisiasi adanya sekolah untuk kaum perempuan. Namun keinginan baik tersebut tidak berjalan dengan mudah karena mendapat tanggapan negatif dari kiai – kiai setempat.

 

“Kala itu Abah tidak langsung putus asa akan hal itu. Beliau mengambil langkah untuk sowan kepada KH Abdul Wahab Hasbullah di Tambakberas Jombang untuk meminta arahan. Setelah ketemu dengan KH Wahab Hasbullah dan mendapat restu akhirnya dilanjutkanlah pendirian madrasah untuk wanita tersebut dan bisa berkembang sampai sekarang,” pungkas Kiai Munsif.

 

Adapun KH Nachrowi Thohir wafat pada tahun 1980 dan di makamkan di pesarean Bungkuk bersama tokoh - tokoh lainnya, seperti KH Masjkur. Dari sosok KH Nachrowi Thohir dan Nyai Rukoyyah inilah lahir putra putri yang membanggakan. Seperti halnya salah satu putra KH Nachrowi Thohir yakni KH Munsif Nachrowi Thohir.

 

 

Kiai Munsif tercatat sebagai salah satu pendiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

 

Penulis: Moch Miftachur Rizki

Editor: Romza

Iklan promosi NU Online Jatim