• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 29 Mei 2024

Malang Raya

Gus Idris Al Marbawy, Dai Muda Khodim Majelis Thoriqul Jannah Malang

Gus Idris Al Marbawy, Dai Muda Khodim Majelis Thoriqul Jannah Malang
Gus Idris Al-Marbawy dalam sebuah kegiatan. (Foto: NOJ/ Dok. Pribadi)
Gus Idris Al-Marbawy dalam sebuah kegiatan. (Foto: NOJ/ Dok. Pribadi)

Malang, NU Online Jatim

Muhammad Idris Al Marbawy atau yang lebih kerap disapa Gus Idris Al Marbawy merupakan tokoh muda Nahdlatul Ulama yang berasal dari Desa Babadan, Ngajum, Kabupaten Malang. Ia tak lain adalah Khodimul Majelis Thoriqul Jannah.

 

Sosok kelahiran 21 September 1990 di Malang ini merupakan keturunan asli Ngajum. Ia adalah putra pertama dari Kiai Rodiyallah, seorang guru dan pemimpin Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Ngajum. Gus Idris Marbawy memiliki 2 orang saudara, yaitu Ning Hikmah dan Ning Nanda.

 

Gus Idris Marbawy menikah dengan Ning Kholifah atau dikenal Umi Lifah. Pernikahannya dengan perempuan asli Bantur itu hingga kini telah memiliki 3 orang anak. Anak-anaknya bernama Hadad, Busroh dan Haidar.

 

Pendidikan Gus Idris dimulai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Riyadlul Qur’an, kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) di Pakisaji, lulus dengan predikat siswa terbaik. Pasca itu ia melanjutkan di Universitas Islam Raden Rahmad dan Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Alfarabi Kepanjen, Malang.

 

Selanjutnya, Gus Idris melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Riyadlul Qur’an Ngasem, Pondok Pesantren Miftahul Huda Mojosari, hingga Pondok Pesantren Asyadily Sumber Pasir. Gus Idris mengembangkan minat dan keahlian dalam bidang dakwah dan Al-Qur’an.

 

Ia sosok siswa yang cerdas dan ulet. Bahkan selalu mendapat prestasi yang luar biasa sewaktu menempuh pendidikan di pondok pesantren. Pun juga menjadi penceramah dari kampung ke kampung, masjid ke masjid, desa ke desa, sampai-sampai masa mudanya banyak dihabiskan untuk berdakwah dan berjuang.

 

Selama masa pendidikan, ia meraih banyak penghargaan baik di tingkat pondok, Kabupaten Malang hingga Provinsi Jawa Timur, khususnya di bidang Al-Qur’an. Gus Idris sering mendapatkan tugas untuk menggantikan guru-guru dan ayahandanya untuk mengisi acara di sejumlah majelis di Indonesia hingga luar negeri, seperti Hongkong, Makau, dan Taiwan.

 

Perjalanan Dakwah
Selepas menempuh dan menghafal Al-Qur’an, Gus Idris mengutarakan untuk menyebarkan ilmu dan mengajak umat untuk mencintai Allah dan Nabi Muhammad SAW. Namun, perjalanan dakwahnya tidak selalu berjalan mulus. Tantangan, rintangan, cemooh, hujatan, pujian, dan canda tawa, menjadi satu bagian dalam berdakwah.

 

Kendati demikian, tidak membuat Gus Idris berhenti berjuang. Semakin dihujat ia justru semakin semangat, semakin dijatuhkan semakin tinggi, semakin dijelekan semakin naik karirnya. Hal itu karena yang dilakukan lillahi ta’ala hanya mengharapkan ridha Allah SWT.

 

Gus Idris Marbawy banyak sekali mengisi ceramah-ceramah agama di berbagai tempat, jamaah yang mengikuti sangat banyak dikarenakan ceramahnya mengenai keislaman dan keaswajaan yang sangat mudah dipahami oleh banyak orang.

 

Tidak hanya itu, ia juga mempunyai suara emas yang sangat merdu dan menyejukkan hati. Sehingga banyak jamaah terpukau dan terikat dengan bacaan Al-Qur'an dan shalawat yang dilantunkan. Dakwahnya pun sangat lemah lembut, terutama kaitannya dengan penyebaran cinta dan kasih sayang.

 

Kedekatan dan jiwa sosial Gus Idris sangat kental. Ia tidak pernah meninggalkan undangan masyarakat kampung. Termasuk pula tidak pernah memandang siapapun yang mengundangnya. Mau yang miskin ataupun kaya, mau jauh ataupun dekat, semuanya ia datangi.

 

Sikap dan akhlak mulia Gus Idris tersebut membuat masyarakat yang sebelumnya tidak mengenal ajaran Islam Ahlusunnah wal Jamaah terketuk ingin belajar dan mengamalkan. Hingga akhirnya, seiring berjalannya waktu serta support dan doa keluargan, ia pun mendirikan Majelis Thoriqul Jannah, yang hingga kini jamaahnya berjumlah ribuan.


Malang Raya Terbaru