Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

OPOP Jatim Berupaya Tembus Pasar Internasional

OPOP Jatim Berupaya Tembus Pasar Internasional
Mohammad Ghofirin saat menyampaikan materi. (Foto: NOJ/istimewa)
Mohammad Ghofirin saat menyampaikan materi. (Foto: NOJ/istimewa)

Surabaya, NU Online Jatim

Ekosistem ekonomi pesantren semakin memperlihatkan geliat yang begitu pesat. Tidak hanya di Indonesia, namun luar negeri juga memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan perekonomian pesantren. Hal tersebut Nampak dari gelaran webinar Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman dengan tema ‘Ekosistem Ekonomi Pesantren’, Sabtu (01/05/2021).

 

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ardian Wicaksono Konsulat Jenderal RI Hamburg dan KH Syaeful Fatah Rais Syuriah PCINU Jerman. Beberapa narasumber yang turut memaparkan materi pada webinar ini adalah Dimaz Ibrahim Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jerman, Risnawaty ITPC Hamburg, Mirza Ilham Tontowi Nusantara UG, Ina Chalim Fatayat NU Kota Mojokerto, dan Mohammad Ghofirin OPOP Jatim.

 

Mohammad Ghofirin, Sekretaris OPOP Jatim mengatakan bahwa geliat yang OPOP bangun untuk perekonomian pesantren sama sekali tidak mengganggu proses belajar para santri.

 

“Untuk pilar pertama kami memiliki santripreneur dengan harapan mewujudkan satu juta santripreneur. Maka dari itu sebenarnya yang kita bentuk adalah jiwa entrepreneurship. Karena di pesantren sndiri memang tugasnya santri adalah belajar, jadi kita ingin santri selain belajar agama juga belajar wirausaha,” katanya.

 

Kemudian Ghofirin menjelaskan jika ke depan ada santri yang tertarik dengan kewirausahaan, OPOP Jatim akan memberikan layanan untuk mendukung passion santri tersebut.

 

“Jika ada santri yang ingin lebih konsentrasi dalam berwirausaha, maka bisa mkita banteu wujudkan dengan program khusus misalnya dengan santri wirausaha yang akan memberikan bantuan pelatihan, permodalan,” jelasnya.

 

Oleh karena itu, dirinya mengajak hadirin dalam turut serta menyumbangkan pikiran untuk menciptakan kurikurum kewirausahaan bagi santri.

 

“Untuk itu kami mengundang semua dalam melahirkan sebuah kurikulum untuk mentransfer pengetahuan tentang wirausaha kepada santri. Itu penting karena kami berharap para santri selama mondok mendapat pembelajaran tambahan yaitu seputar kewirausahaan,” ujarnya.

 

Sedangkan, pilar lain dalam skala pesantren adalah pesantrenpreneur yang meliputi badan usaha milik pesantren.

 

“Jika pesantrenpreneur targetnya bukan lagi memupuk jiwa wirausaha, namun membuat produk, berjualan, dan mendapatkan laba. Jadi ada perputaran di situ. Oleh karena itu, kemudian Pemerintah Provinsi Jatim menyiapkan pelatihan dan permodalan,” terangnya.

 

Dirinya menegaskan bahwa bisnis yang dimiliki pesantren benar-benar di luar sektor pendidikan. “Ini kita dorong agar pesnatren memiliki bisnis di luar sektor pendidikan,” ungkapnya.

 

Ghofirin berharap produk-produk yang dihasilkan pesantren binaan OPOP Jatim dapat menembus pasa internasional. “Kami berharap OPOP Jatim bisa mengikuti regulasi yang ada karena untuk masuk ke pasar Eropa tidak mudah. Saya kira dengan semangat dan terus berikhtiar kita pasti bisa,” pungkasnya.

Bank Jatim (31/7)