Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

OPOP Komitmen Bantu Legalitas Usaha Pesantren

OPOP Komitmen Bantu Legalitas Usaha Pesantren
Muhammad Faqih, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Keuangan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). (Foto: NOJ/opopjatim)
Muhammad Faqih, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Keuangan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). (Foto: NOJ/opopjatim)

Surabaya, NU Online Jatim

One Pesantren One Product (OPOP) Jatim merupakan program unggulan Pemerintah Provinsi Jatim dalam upaya pengembangan pondok pesantren. program ini memacu banyak pesantren untuk melahirkan produk-produk berkualitas karya para santri. Targetnya, hingga tahun 2024 ada 1000 produk unggulan di setiap pesantren.

 

Seiring dengan berjalannya waktu, pesantren kini memiliki peran ganda sebagai pusat perekonomian masyarakat. Tantangan baru yang dihadapi oleh pesantren salah satunya adanya perizinan produk.

 

Muhammad Faqih, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Keuangan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengatakan bahwa kerap kali pesantren mengalami kendala di perizinan.

 

“Di antaranya karena perizinan dan legalitas hukum, kemasan dan merk yang belum terdaftar. Akibatnya produk-produk ini sulit untuk bersaing di pasaran. Maka dari itu OPOP Training Center Unusa memberikan pendampingan, pelatihan, hingga jejaring pemasaran," katanya, Kamis (20/05/2021).

 

Dirinya menambahkan, jika OPOP Training Center Unusa akan terus mendiring para pesantren untuk merambah dunia digital akan bisa memperluas pemasaran produk.

 

“Selain itu OPOP Training Center UNUSA juga berusaha untuk mengembangkan OPOP Mart agar produk-produk pesantren ini bisa dipasarkan secara digital,” tambahnya.

 

Faqih juga berharap dengan adanya OPOP Jatim produk pesantren tidak lagi dianak tirikan dan bahkan mampu bersaing dengan produk pabrikan.

 

“Unusa berkomitmen mengembangkan kewirausahaan berbasis teknologi yang memiliki dampak sosial, sehingga produk pesantren dapat bersaing di luaran,” pungkasnya.

Bank Jatim (31/7)