• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 15 Agustus 2022

Rehat

Cerita Gus Mus tentang Hajinya Kuncen Makam

Cerita Gus Mus tentang Hajinya Kuncen Makam
Panggilan untuk menunaikan ibadah haji selalu memiliki kisah tersendiri (Foto:NOJ/madaninews)
Panggilan untuk menunaikan ibadah haji selalu memiliki kisah tersendiri (Foto:NOJ/madaninews)

Kisah tentang rahasia haji memang tidak akan pernah habis bila ditulis dan disebarkan ulang, sebab haji tidak bisa diukur dengan tersedianya materi yang melimpah, seperti cerita Gus Mus tentang Hajinya Juru Kunci Makam yang tertulis dalam buku Keajaiban Haji. 


Berikut kisahnya:


Ini terjadi di daerah Tuban. Alkisah, ada seorang laki-laki yang benci setengah mati pada budaya talqin. Saking bencinya, hingga orang-orang sekitarnya sampai hafal bagaimana kebiasaan dia menyumpah, “Orang sudah jadi mayat kok pake diajari. Dipikirnya, bangkai mati bisa mendengar, apa?”


Nah, suatu ketika orang ini tiba-tiba meninggal. Keluarganya yang di Jakarta meminta supaya dia di talqin. Terang saja, tak ada seorang pun kiai yang mau.


“Orang dia itu musuh, je.. Dia benci sama talqin. Kok tiba-tiba kepingin di talqin. Logika macam apa itu?”


Susah. Famili, kerabat, saudara dekatnya di Jakarta jadi gelisah. Bagaimana tidak? Seluruh garis keturunan, dari atas sampai bawah, jika meninggal mesti harus ditalqin. 


“Lha, beliaunya lalu bagaimana? Ini kan perkara akhirat? Gak bisa main-main. Bagaimana kalua sampai tidak bisa menjawab pertanyaan malaikat? Kasihan. Pokoknya beliau harus ditalqin. Tidak bisa tidak..”


Pusing. Padahal jenazah sudah tiba di kuburan, dan jelas harus segera masuk. Tidak bisa terus menunggu sesuatu yang tak jelas.


Lha, terus bagaimana ini?”

“Bagaimana apanya, sih Pak?” tiba-tiba, juru kunci makam ikut nimbrung.

“Dari tadi saya lihat kok malah geger-gegeran terus. Kapan jenazah ini akan dikubur?”

“Weh lha, Sampean ini. Belum tahu juga toh. Jenazah bapak kami ini belum ditalqin! Jelas, kami sekeluarga tidak rela..”

“Begini saja, bagaimana kalau saya yang nalqin?”

“Weh, Sampean apa bisa, heh?”

“Insyaallah, bisa. Saya sudah terbiasa mendengar orang ditalqin di kuburan. Saya hafal kalau hanya talqin. Mudah kok.”


Rembug punya rembug, akhirnya semua keluarga setuju. Nah, rampung talqin, salah seorang famili dari jenazah—yang pada saat itu, masih menjabat sebagai Menteri—mendekat.


“Sampean sudah berjasa pada kami sekeluarga. Kami betul-betul berhutang budi sama Sampean. Sekarang tolong, Sampean mau minta apa..Sekiranya saya dan keluarga mampu, pasti kami penuhi.”


Mendengar tawaran seperti itu, tentu saja Sang Juru Kunci ini garuk-garuk kepala. Bingung. Tapi, justru disinilah letak keistimewaannya. Ada peran tangan-tangan Allah yang diam-diam hadir. Sebentuk hidayah. Bagaimana tidak? Secara mendadak Sang Juru Kunci bisa menemukan jawaban, yang sama sekali ia sendiri tak pernah menduga sebelumnya.


“Saya kepingin naik haji! Kalau bisa, sekalian dengan istri saya.”

“Gampang. Itu permintaan yang mudah. Kalau demikian, Sampean segera siap-siap. Tahun ini Sampean berangkat haji, sekalian bersama istri Sampean.”


Tiba jadwal haji, Sang Juru Kunci pun berangkat. Lengkap dengan segala fasilitas istimewa yang tidak biasa. Maklum, yang menghajikan pejabat tinggi yang tidak begitu saja bisa dianggap enteng.


Nah, mendengar hal ini, ada di antara kiai yang dulu menolak permintaan (keluarga) jenazah diam-diam menggerutu: “Waaah, kalau saja tahu….”


Itulah, kalau nalqin bukan atas dasar lilLah, ya pasti kecewa. Ndak dapat rizki, naik haji gratis.


Rehat Terbaru