• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 4 Maret 2024

Rehat

Kisah Raja yang Akhirnya Memilih Jadi Tokoh Sufi

Kisah Raja yang Akhirnya Memilih Jadi Tokoh Sufi
Raja Balkh (Iran) Abu Ishaq Ibrahim bin Adham akhirnya lebih memilih sebagai tokoh sufi. (Foto: NOJ/Alif.id)
Raja Balkh (Iran) Abu Ishaq Ibrahim bin Adham akhirnya lebih memilih sebagai tokoh sufi. (Foto: NOJ/Alif.id)

Banyak cara yang akhirnya membuat seseorang berubah haluan. Dari yang awalnya berperilaku negatif, akhirnya memilih untuk mengerjakan hal terbaik di sisa usia. Hal tersebut terjadi lantaran karena peristiwa ringan, namun cukup berpengaruh dan menjadikan seseorang berubah.


Seperti kisah pertobatan Raja Balkh (Iran) Abu Ishaq Ibrahim bin Adham. Cerita berikut sangat menarik didikan renungan bagi semua kalangan dan tidak pernah meremehkan peristiwa tertentu, karena bisa jadi hal tersebut demikian menentukan dalam perjalanan hidup.


Di suatu kesempatan, Abu Ishaq Ibrahim bin Adham berburu. Bersama kuda kesayangannya, Ibrahim menuju hutan dengan penuh gairah. Keadaan berlangsung normal hingga ketenangannya diusik oleh seekor gagak.


Ibrahim sesungguhnya hanya ingin istirahat sejenak. Melepas lelah perjalanan sembari memakan roti. Sialnya, Ibrahim tak sempat mencicipi sedikit pun bekal bawaannya itu. Seekor gagak datang tiba-tiba menyambar roti, lalu membawanya terbang ke udara. Ibrahim yang kaget bercampur kagum itu memutuskan untuk mengikuti ke mana gagak pergi. Si burung hitam meluncur cepat ke arah gunung, hingga Raja Balkh nyaris saja tak menemukannya lagi.


Tapi tekad Ibrahim bin Adham untuk menaklukkan segala rintangan gunung membuatnya tak kehilangan jejak. Tapi gagak tetaplah gagak. Jerih payah sang raja untuk mendekatinya mendapat penolakan. Sekali lagi, gagak mengudara, kabur menghilang entah ke mana.


Di saat bersamaan, Ibrahim bin Adham menjumpai seseorang tengah terbaring di tanah dalam keadaan terikat. Segera ia turun dari kuda dan berusaha melepaskannya.   


“Ada apa dengan Anda?” tanya Ibrahim bin Adham.


“Saya korban perampokan,” jawab orang tersebut yang ternyata adalah seorang saudagar.


Setelah seluruh hartanya dirampas, para perampok hendak membunuhnya dengan cara mengikat dan melantarkan tubuhnya sendirian. Saudagar mengaku, sudah tujuh hari ia terlentang tak berdaya di tempat itu.


“Bagaimana Anda bisa bertahan hidup?”


Saudagar tersebut lantas menceritakan bahwa selama masa-masa sulit itu, seekor gagak rutin menghampiri, hinggap di atas dada, dan menyodorkan makanan untuknya, termasuk roti. Begitulah cara ia mendapatkan tenaga setiap hari.


Peristiwa ini membuka kesadaran Ibrahim bin Adham tentang hakikat rezeki. Ia akhirnya mantab mundur dari jabatan raja, memerdekakan semua budak miliknya, dan mewakafkan segala kekayaannya.


Hikayat ini dapat dijumpai secara jelas dalam kitab Al-Aqthaf ad-Daniyyah fî Idlâhi Mawâ'idh al-Ushfriyah. Ibrahim bin Adham memilih menjalani hidup sederhana sebagai rakyat biasa. Jalan tasawuf mulai ia tekuni dengan berjalan kaki ke Mekah, tanpa bekal apapun kecuali rasa tawakal yang amat tinggi.


Sejak saat itu, olah rohani merupakan kegiatan pokok selama hidupnya. Ternyata, kisah tentang kegagalan Ibrahim bin Adham mencicipi roti ini berbuntut pada perubahan serius keseluruhan hidup mantan raja Balkh itu.

 


 

Ibrahim bin Adham akhirnya masyhur sebagai tokoh sufi yang sangat dikagumi. Dalam sumber-sumber Arab dan Persia, seperti Imam Bukhari dan lainnya, ia terkenal sebagai tokoh sufi yang pernah bertemu dengan Nabi Khidzir.


Editor:

Rehat Terbaru