• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 6 Oktober 2022

Rehat

Syiir Utawen, Tradisi Unik Masjid di Ponorogo saat Ramadhan

Syiir Utawen, Tradisi Unik Masjid di Ponorogo saat Ramadhan
Suasana pembacaan syiir utawen usai shalat tarawih di Masjid Agung Tegalsari, Jetis, Ponorogo. (Foto: NOJ/Arisel WA)
Suasana pembacaan syiir utawen usai shalat tarawih di Masjid Agung Tegalsari, Jetis, Ponorogo. (Foto: NOJ/Arisel WA)

Ponorogo, NU Online Jatim

Masjid Tegalsari merupakan masjid peninggalan Kiai Ageng Muhammad Besari yang konon termasuk dalam masjid tertua di Indonesia dan dibangun sekitar abad ke-18. Terletak di Dusun Gendol, Desa Tegalsari, Jetis, Ponorogo, masjid ini mempunyai tradisi unik yang terus dijalankan hingga sekarang.


Salah satunya adalah amalan syiir utawen yang dibaca usai shalat tarawih. Syiir berbahasa Jawa dengan langgam Jawa kuno ini berisikan makna syahadatain atau dua kalimat syahadat. Berikut penggalannya:


Utawi pikukuhe Islam iku limo kang dingen syahadat, kaping pindho shalat, kaping telu aweh zakat, kaping empat apuoso, kaping limo munggah kaji maring baitullah, nawaitu ' an ukiro kalimah syahid syahadataini  wujuban fii ' umuri marotan wahidatar fardhalillahi ta'ala.


Ing dalem sak umur ingsun, maring sepisan, fardhu krono Allah, asyhadu niat ingsun angucapaken ing kalimah syahadat loro ing dalem wajib alla ilahailallah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah.


Dari penggalan syiir di atas, kalimat utawi yang berada di awal kalimat menjadi sebab masyarakat Tegalsari menyebutnya dengan syiir utawen


"Utawen itu yang menyebutkan orang sini karena syiir ini diawali dengan kata utawi," kata KH Syamsuddin, imam masjid Tegalsari kepada NU Online Jatim


Syahadatain yang diceritakan dalam syiir tersebut ialah dua kalimat syahadat. Yakni syahadat tauhid dan syahadat Rasul yang menceritakan keesaan Allah dan Rasul sebagai utusannya Allah.


"Utawen menceritakan syahadatain, dua kalimat syahadat yaitu syahadat tauhid dan syahadat rasul. Menceritakan keesaan Allah dan rasul sebagai utusan Allah," terangnya.


Menurutnya, orang yang membaca syahadat walaupun hanya satu kali dirinya sudah disebut Islam. Namun belum bisa dikatakan orang mukmin, bila orang tersebut tidak mentaati syarat dan rukunnya Islam.


"Membaca syahadat satu kali itu sudah bisa dikatakan Islam, tapi tidak mentaati syarat-syaratnya islam kalau  orang itu maksiat. Jika benar benar mukmin itu taat syarat rukunnya Islam," jelasnya.


Adanya lantunan syiir utawen saat Ramadhan ini masyarakat Tegalsari merasakan nuansa religius yang begitu kental. Juga diharapkan generasi muda mampu melestarikan tradisi ini di setiap dusunnya dengan turut serta dalam pembacaan syiir.


"Dengan adanya tradisi utawen semoga dari kalangan muda bisa melestarikan budaya tersebut hingga ke dusun masing-masing utamanya Tegalsari. Sehingga nilai-nilai religius bisa tertancap kepada masyarakat dengan mulai turut ikut serta dalam pembacaan syiir," harap Farid Lailatul Umam, jamaah masjid Tegalsari.


Editor:

Rehat Terbaru