• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 11 Agustus 2022

Tapal Kuda

Dongkrak Harga Telur, Inkopsim Desak Pemerintah Optimal Awasi Harga

Dongkrak Harga Telur, Inkopsim Desak Pemerintah Optimal Awasi Harga
Demo peternak ayam layer di Blitar. (Fotyo: NOJ/KTs)
Demo peternak ayam layer di Blitar. (Fotyo: NOJ/KTs)

Jember, NU Online Jatim 
Petenak ayam layer saat ini menjerit. Pasalnya, harga telur anjlok berkisar antara Rp15,000 hingga Rp17,000/kilogram di tingkat peternak. Padahal dengan harga segitu, untuk ongkos produksi saja sudah tidak nutut. Sementara di sisi lain, harga pakan tak kenal kompromi, tetap saja melambung. Dua persoalan inilah yang menjepit peternak ayam layer saat ini.

 

“Jika kondisi ini tetap berlangsung, maka akan banyak peternak ayam layer yang gulung tikar,” ujar Ketua Umum Induk Koperasi Syirkah Muawanah (Inkopsim), HM Al Khaqqoh Isitfa saat mengunjungi peternak ayam petelur binaan Inkopsim di Jember, Kamis (30/09/2021).

 

Menurut Gus Khaqqoh, sapaan akrabnya, peternak ayam layer saat ini dikepung oleh dua persoalan krusial, yaitu harga telur anjlok, dan harga pakan melambung tinggi. Ia menduga, naiknya harga pakan ternak tak lepas dari permainan para spekulan terkait pembelian jagung. Dirinya mengaku heran karena harga jagung di tingkat petani juga tidak begitu mahal, berkisar antara Rp4,000 hingga 4,300/kilogram.

 

“Jadi rumusnya dari mana kok harga pakan ternak mahal, padahal jagung sebagai bahan pokok pakan, biasa-biasa saja,” ungkapnya.

 

Karena itu, ada beberapa solusi yang ia tawarkan untuk mengatasi persoalan tersebut. Pertama, para spekulan jagung harus segera menjualnya sesuai Permendag tentang harga jagung pipil kering dan jagung import  dengan harga di bawah Rp5,500/kilogram.

 

“Ini solusi jangka pendek, dan tentu harus ada kontrol yang maksimal dari pemerintah,” tambahnya.

 

Kedua, solusi jangka menengah adalah pabrik pakan ternak hendaknya melakukan budidaya jagung sendiri dengan luas lahan minimal 10.000 hektare, dan para peternak juga menamam jagung sendiri, minimal bisa mencukupi kebutuhan pakan ayamnya.

 

“Ketiga, solusi jangka panjang adalah hendaknya Badan Pangan Nasional atau BUMN terkait membeli jagung dari masyarakat dengan harga yang sama dengan harga jagung internasional,” pungkasnya.

 

Sementara itu, salah seorang peternak ayam layer di Kecamatan Sukowono Jember, H Imam Syafi’i mengaku cukup terpukul dengan rendahnya harga telur. Katanya, pada pertengahan bulan Juli hingga akhir Agustus 2021, harga telur bisa tembus Rp22,000/kilogram di tingkat peternak. 

 

“Tapi setelah itu, harga telur menukik tajam, hancur. Peternak bisa untung sedikit jika harga pakan Rp6,000 per kilogram, dan harga telur di Rp19,000 di tingkat peternak,” ungkapnya.

 

Menurutnya, naik turunnya haga telur sangat bergantung pada dinamika kegiatan masyarakat. Ia mencontohkan, saat ini harga telur memang turun tapi menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad, harga telur pasti naik. Begitu juga saat memasuki awal bulan Ramadhan, harga telur turun, tapi menjelang lebaran, harga telur mahalnya bukan main.

 

“Jadi secara tidak langsung, kegiatan-kegiatan Nahdliyin misalnya terkait peringatan maulid nabi, tradisi lebaran, dan sebagainya, itu sangat terasa ikut menggairahkan ekonomi masyarakat,” urainya.

 

Katanya, instabilitas harga telur terjadi karena pemerintah tak begitu optimal untuk ‘memantau’ pergerakan harga telur, semuanya seakan-akan diserahkan kepada pasar.

 

“Yang kami butuhkan adalah stabilitas harga, tidak turun banget tapi juga tidak naik tinggi, stabil, dan itu butuh perhatian pemerintah,” pungkasnya.

 

InPenulis: Aryudi A Razaq
 


Editor:

Tapal Kuda Terbaru