• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Tokoh

Gus Miek dan Upaya Menyembunyikan Rasa Cinta

Gus Miek dan Upaya Menyembunyikan Rasa Cinta
Gus Miek dengan putra pertamanya, Gus Tajud sedang menutupi wajah agar tidak diketahui jamaah. (Foto: NOJ/ahkaromi)
Gus Miek dengan putra pertamanya, Gus Tajud sedang menutupi wajah agar tidak diketahui jamaah. (Foto: NOJ/ahkaromi)

Wali yang diartikan sebagai orang dekat, kekasih, memiliki cakupan yang sangat luas, sebab berkaitan dengan hati, rasa dan kesetiaan. Tentu itu semua disertai ketundukan kepada yang tercinta.
 

Dalam konteks dunia tasawuf, wali identik dengan waliyullah atau kekasih Allah. Keberadaannya sangat sulit dilacak, karena memang waliyullah bukan selevel penjual cilot yang teriak kesana-kemari menjajakan dagangannya.
 

Menurut Ibn Hajar dalam Fathul Bari disebutkan:
 

والمراد بولي الله: العالِم بالله المواظب على طاعته المخلص في عبادته
 

Artinya:  Waliyullah adalah orang yang paham akan Allah, yang konsisten taat kepadaNya dan tulus beribadah kepadaNya.
 

Bagaimana mungkin seorang pecinta akan menceritakan kedahsyatan cintanya kepada orang awam yang tidak paham tentang makna cinta dan kesetiaan?! 
 

Membincangkan dunia wali, tentu tidak bisa dilepaskan dari beberapa tokoh yang dianggap waliyullah, salah satunya adalah Gus Miek. Sosok yang oleh penggemar setianya ditengarai sebagai waliyullah ini tidak serta merta berbangga hati, malah beliau berusaha menghindari mereka, dan bersembunyi, sulit dideteksi keberadaannya. Beliau tidak ingin disebut waliyullah, kiai, atau apapun sebutan mulia lainnya. 
 

Bahkan dengan kemisteriusannya itu, Gus Miek tampil seadanya; acapkali tidak memakai atribut ahli agama, dan malah tampil di tengah masyarakat yang bromocorah. Akhirnya, beliau juga disebut tukang suwuk, dukun, juru damai, dll. Itu semua dilakoni secara misterius. Tidak ada tim media apalagi buzzer.
 

Ajaran Gus Miek yang paling melekat di tengah masyarakat adalah mencintai Al-Quran dan para ulama, para waliyullah. Sebab bagi Gus Miek kita semua berharap dikumpulkan dengan mereka.
 

Menariknya, dalam majelis semaan maupun amalan dzikrul ghofilin, ketika Gus Miek masih hidup tidak mewajibkan jamaah untuk menawasulinya atau menyamakan namanya dengan para wali, seperti Syekh Abd Qadir hingga Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad.
 

Banyak yang mengira bahwa laku karib Gus Dur ini dalam dunia tasawuf tidak dibekali syariat, tidak bisa baca kitab kuning, itu salah besar.
 

Bagaimana tidak, sosok nyentrik yang  oleh sebagian artis dipanggil papi ini khatam beberapa kitab pesantren dan pernah pula ngimami jamaah di masjid Ploso. Terlebih pengembaraan mondoknya di beberapa pesantren seperti ke Mbah Juki (Marzuki Dahlan) Lirboyo, dan Mbah Dalhar Gunung Pring jarang terekspos.
 

Kekasih Allah adalah mereka yang berusaha menutupi rasa cintanya agar tidak terendus oleh masyarakat umum. Bahkan tidak jarang ketika rasa cinta itu kepergok, mereka menjadi malu, sakit dan meninggal dunia. Mereka berbicara khusus dengan sesama pecinta yang memiliki frekuensi sama, misal Gus Miek dengan Kiai Ahmad Siddiq, Kiai Abd Hamid Pasuruan, Kiai Abd Hamid Kajoran, Kiai Mundzir Kediri.
 

Dari sekelumit coretan tentang Gus Miek ini, melahirkan simpulan bahwa tabu bagi seorang wali untuk mendeklarasikan kewaliannya, menyejajarkan namanya dengan para wali lain,  apalagi dengan nabi dan malaikat. Malahan mereka mati-matian menutupi itu semua karena prinsipnya: "mengaku wali sama halnya bukan wali, mengaku wushul, sama halnya belum wushul, mengaku bertemu, sama halnya tidak bertemu" dan tidak ingin membocorkan "rahasia hati"nya kepada sembarang orang".


Editor:

Tokoh Terbaru