• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 10 Agustus 2022

Tokoh

Kiai A Wahab Chasbullah Bapak Media Nahdlatul Ulama

Kiai A Wahab Chasbullah Bapak Media Nahdlatul Ulama
Kiai Wahab pelopor media dalam Nahdlatul Ulama (Foto:NOJ/iqra.id)
Kiai Wahab pelopor media dalam Nahdlatul Ulama (Foto:NOJ/iqra.id)

Salah satu visi misi berdirinya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 adalah untuk merespons gerakan pemikiran kaum modernis secara global. Misal tentang persoalan perebutan kekuasaan di Hijaz, dan isu terkait dunia Islam pada umumnya.

 

Terlebih kebanyakan media Islam yang terbit pada saat itu menyerukan pembaruan keagamaan dan mengkritik keras praktik keagamaan masyarakat yang berlaku sebagai bid'ah dan sesat. Tak ayal kalangan tradisionalis yang tidak memiliki media dibombardir habis-habisan.
 

Tercatat, tidak sampai setahun NU berdiri langsung bergegas menerbitkan majalah yang diberi nama Swara Nahdlatoel Oelama. Majalah perdana yang sederhana ini terbit bulan Muharram 1347 bertepatan antara Juni/Juli 1927. Uniknya dalam Swara Nahdlatoel Oelama sudah menyebutkan kata Indonesia di sampulnya sebelum lahirnya Sumpah Pemuda.
 

Dikarenakan NU terdiri dari kiai dan santri, maka majalah yang pertama diterbitkan penulisannya menggunakan Arab-Melayu, dan bahasa Jawa Krama Inggil, sebab aksara ini yang diakrabi oleh warga NU dan belum terbiasa dengan huruf latin dan bahasa Indonesia. Tema yang diangkat juga tidak jauh dari persoalan sosial keagamaan yang meliputi fikih, ideologi, tasawuf, khutbah, dan beberapa kegiatan NU.

Redaksi yang digunakan pada waktu itu adalah penyampaian materi keagamaan yang nota bene dari bahasa Arab ke bahasa daerah. Sehingga masyarakat mendapatkan dua keuntungan sekaligus; mengenal bahasa Arab dan memahaminya melalui bahasa daerah.
 

KH Abdul Wahab Chasbullah yang paling bersemangat menerbitkan media itu. Bahkan, Kiai Wahab membeli percetakan sendiri agar tidak menggantungkan pada jasa percetakan yang sedang laris manis kala itu, dan percetakan tersebut diletakkan di Kertopaten Surabaya.
 

Majalah Swara Nahdlatoel Oelama ini langsung mendapat sambutan hangat di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, khususnya yang berpaham Aswaja. Sebab majalah ini memberi pencerahan bagi kalangan tradisionalis. Bahkan terbitan Nahdlatoel Oelama ini menarik animo para ulama-pelajar yang berada di tanah Hijaz.
 

Direktur pertama Swara Nahdlatoel Oelama adalah H Hasan Gipo yang juga menjabat sebagai Presiden Tanfidziyah Hofdbestuur Nahdlatoel Oelama (PBNU). Ia dibantu oleh Ahmad Dahlan bin Muhammad Ahid sebagai anggota. Baru pada Nomor 12 Tahun ke-3, nama KH Abdul Wahab Chasbullah Tambakberas tercantum sebagai pemimpin redaksi.
 

Setelah berkembang pesat di luar Jawa, Swara NO berubah menjadi Berita NO yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan huruf latin. Penyebarannya pun semakin luas. Kiai Wahab menunjuk Kiai Mahfoedz Siddiq dan Abdullah Ubaid menangani majalah itu.
 

Walhasil, bila Johann Gutttenberg (1400-1468) boleh dibilang sebagai bapak komunikasi yang ikut berperan akan perkembangan komunikasi dengan menemukan mesin cetak hingga terasa saat ini, seperti penerbitan buku, koran, majalah, maka KH Abd Wahab Chasbullah adalah pelopor utama yang menggerakkan, memfasilitasi dan memperjuangkan ideologi Ahlussunnah Wal Jama'ah melalui media hingga lahirlah lembaga dan unit kerja yang fokus di bidang media seperti Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN), majalah Aula, TV9, TVNU, NU Online dan sejenisnya.


Editor:

Tokoh Terbaru