• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Maret 2024

Keislaman

Awali Hari dengan Sedekah, Berikut Keutamaannya

Awali Hari dengan Sedekah, Berikut Keutamaannya
Awali kegiatan hari ini dengan bersedekah. (Foto: NOJ/uangkeluarga.id)
Awali kegiatan hari ini dengan bersedekah. (Foto: NOJ/uangkeluarga.id)

Salah satu pintu sukses bagi seseorang dalam menuntaskan kegiatan seharian adalah di antaranya ditentukan dari cara mengawali hari. Karenanya, beberapa ulama menyarankan untuk menyiapkan diri dalam menyongsong kegiatan harian. Dapat dengan melaksanakan shalat dhuha, membaca Al-Qur’an, memperbanyak shalawat, doa khusus pagi hari sebagaimana dilakukan Nabi Muhammad SAW, termasuk dengan sedekah.


Perlu diketahui bahwa sedekah baik yang wajib yaitu zakat, maupun sedekah sunnah merupakan salah satu pilar ajaran Islam. Keutamaannya pun sangat banyak. Di antaranya adalah sedekah lebih ampuh digunakan sebagai ikhtiar tolak balak daripada sekadar doa. Apalagi kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanan hari ini. Apakah seharian akan baik-baik saja, atau malah dipertemukan dengan peristiwa di luar perkiraan.


 

Kisah Kedahsyatan Sedekah

Dalam hal ini, Abu Hurairah RA sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah SAW pun mantap memilih sedekah untuk tolak balak daripada sekadar doa. Bahwa suatu ketika, ada orang menghadapnya mengadukan keresahan yang dirasakan. Ia menyebut , hatinya terus-menerus gundah gulana merisaukan keselamatan anaknya yang sedang bepergian.  Orang itu pun berkeluh kesah kepada Abu Hurairah RA.


“Mohoh Anda berkenan untuk mendoakan anakku. Sebab, sungguh hatiku sangat mengkhawatirkan keselamatan jiwanya,” kata orang itu penuh kekhawatiran.  


Mendapati permohonan doa seperti itu, Abu Hurairah ra sebagai pribadi yang sangat tekun beribadah—selalu shalat malam serta memohon ampunan dan bertobat kepada Allah hingga 12.000 kali tiap hari—justru tidak segera memenuhinya. Bahkan menawarkan solusi lain, yaitu sedekah yang lebih ampuh dari sekadar doanya.


“Apakah Anda mau aku tunjukkan solusi yang lebih ampuh, lebih manjur, dan lebih cepat dikabulkan (oleh Allah) daripada sekedar doaku?” tanya Abu Hurairah RA. 


Orang itu pun kemudian mengiyakannya.


Kemudian, Abu Hurairah RA menyarankannya agar bersedekah dengan niat untuk keselamatan anaknya.  Seusai menghadap Abu Hurairah RA dan mendapatkan saran agar bersedekah untuk keselamatan anak, orang itu kemudian segera melaksanakannya.


Ia bersedekah satu dirham—sekadar untuk perkiraan, satu dirham Uni Emirat Arab sama dengan Rp3.880 —kepada seseorang yang kebetulan meminta-minta kepadanya, seraya berdoa: Ya Allah, sedekah ini adalah tebusan untuk keselamatan anakku dan apa saja yang bersamanya.


Beberapa waktu kemudian setelah anaknya tiba di rumah, tanpa mampu lagi menahan rasa penasaran, orang itu langsung menanyakan kabar perjalanan anaknya. Apa saja yang dialaminya dalam perjalanan itu mengingat dirinya yang di rumah selalu was-was mengkhawatirkan keselamatannya. 


Singkat cerita, sang anak kemudian mengisahkan bahwa dirinya telah mengalami peristiwa luar biasa. Hampir saja ia mati tenggelam di tengah lautan bersama kapal yang ditumpanginya. Namun, di tengah kepanikan akan tenggelam ia mendengar suara yang sangat jelas di telinganya.


“Perhatikanlah, sungguh tebusan zaid (anak itu) diterima dan ia akan mendapat pertolongan,” kisahnya penuh kekaguman.


Saat itu, datanglah beberapa sosok laki-laki berpakaian serba putih yang kemudian membawa kapal yang ditumpanginya ke daratan terdekat, sehingga selamatlah sang anak, seluruh orang yang bersamanya dan barang yang mereka bawa. Setelah istirahat secukupnya, mereka melanjutkan pelayaran hingga kembali ke rumah masing-masing dengan selamat. Subhânallah. (Muhammad bin Abdullah al-Jurdani, Al-Jawâhir al-Lu’lû-iyyah fi Syarhil al-Arba’înin Nawawiyyah, [Mansoura, Maktabatul Îman, cetakan pertama, tahqiq: Abdullah al-Munsyawi]), halaman 97).


Demikianlah, sedekah ternyata lebih efektif digunakan sebagai ikhtiar tolak balak atau keselamatan jiwa. Bahkan, Abu Hurairah RA meskipun merupakan sosok yang berilmu luas, yang paling banyak meriwayatkan hadits, dan yang sangat tekun beribadah, lebih memilih sedekah untuk tolak balak daripada sekadar berdoa. 


Namun begitu, tentu sedekah yang dilakukan semestinya dengan menggunakan harta yang halal, bukan syubhat apalagi haram, sebagaimana riwayat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Innallâha thayyibun lâ yaqbalu illâ thayyiban: Sungguh, Allah adalah Dzat yang Mahasuci dari segala kekurangan dan hanya menerima hal-hal yang baik. (HR Muslim).

 


Karenanya, awali hari ini dengan sedekah. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengisi kotak amal masjid dan mushala usai shalat subuh. Atau yang saat ini sudah biasa dilakukan adalah membuka gawai dan mentransfer dana ke sejumlah amil seperti LAZISNU atau lembaga yang memang layak dibantu. Membagi nasi bungkus, menebar kue kepada pengguna jalan untuk bekal atau sangu, dan lainnya.


Semoga dengan demikian Allah SWT akan memberikan perlindungan kepada kita dalam mengisi kegiatan seharian. Di samping tentu saja tetap mendawamkan atau membiasakan berdoa dan berbuat baik kepada siapa saja yang dijumpai. Wallâhu a’lam.    

 

Ahmad Muntaha AM, Redaktur Keislaman NU Online dan Founder Aswaja Muda


Editor:

Keislaman Terbaru