Dalam ibadah memiliki sejumlah kesunnahan yang seringkali terlewatkan begitu saja, tak terkecuali shalat sunnah selain rawatib. Misalnya shalat dhuha, shalat tahajud, shalat tahiyyatul masjid, bahkan shalat sunnah safar yang dianjurkan bagi mereka yang hendak pergi maupun setelah bepergian (safar).
Dalam Syarah Muhadzab karya Imam Nawawi dijelaskan:
فَفِي الحَدِيثِ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ قالَ ما خَلَفَ عَبْدٌ أهْلَهُ أفْضَلَ مِن رَكْعَتَيْنِ يَرْكَعُهُما عِنْدَهُمْ حِينَ يُرِيدُ سَفَرًا
Artinya: Terdapat dalam hadis Nabi, beliau bersabda, “tidak ada perbuatan yang lebih mulia bagi seorang hamba yang hendak bepergian meninggalkan keluarganya daripada shalat sunnah dua rakaat”.
وعَنْ أنَسٍ قالَ كانَ النَّبِيُّ ﷺ لا يَنْزِلُ مَنزِلًا إلّا ودَّعَهُ بِرَكْعَتَيْنِ رَواهُ الحاكِمُ
Dan diriwayatkan Anas, bahwa Nabi SAW tidaklah berhenti di suatu tempat dan meninggalkannya, kecuali dengan melakukan shalat sunnah dua rakaat. (HR. Al-Hakim)
Lantas surat apa saja yang dibaca dalam shalat sunnah tersebut?
يُسْتَحَبُّ إذا أرادَ الخُرُوجَ مِن مَنزِلِهِ أنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِي الأُولى بَعْدَ الفاتِحَةِ قُلْ يا أيها الكافرون وفِي الثّانِيَةِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أحَدٌ
Artinya: Ketika akan keluar dari rumah untuk bepergian, maka disunnahkan shalat sunnah dua rakaat; pada rakaat pertama setelah surat fatihah membaca al-Kafirun, di rakaat kedua membaca al-ikhlas.
ويستحب أن يقرأ بعد سلامه ( آية الكرسي ) و ( لإيلاف قريش ) فقد جاء فيهما آثار السلف مع ما علم من بركة القرآن في كل شيء وكل وقت ، ثم يدعو بحضور قلب وإخلاص بما شاء من أمور آخرته ودنياه ، وللمسلمين كذلك ، ويسأل الله - تعالى - الإعانة والتوفيق في سفره وغيره من أموره ، فإذا نهض من جلوسه قال ما رويناه من حديث أنس رضي الله عنه : اللَّهُمَّ إلَيْكَ تَوَجَّهْتُ وبِكَ اعْتَصَمْتُ اللَّهُمَّ اكْفِنِي ما هَمَّنِي وما لا أهْتَمُّ لَهُ اللَّهُمَّ زَوِّدْنِي التَّقْوى واغْفِرْ لِي ذَنْبِي
Artinya: setelah salam, disunnahkan membaca ayat kursi dan surat al-Quraisy. Sejumlah keterangan menyebutkan bahwa hal ini dilakukan para ulama salaf dengan mengharap berkah dari al-Quran untuk segala urusan di setiap waktu, kemudian berdoa untuk keperluan dunia dan akhiratnya juga kemanfaatan bagi umat Islam dengan penuh khidmah dan ikhlas. Dan meminta kepada Allah agar memberikan pertolongan dan perlindungan selama bepergian. Setelah bangkit dari duduk, membaca doa: Allahumma ilaika tawajjahtu wa bika i’tasamtu, Allahummakfiniy ma hammani wa maa la ahtammu lahu, Allahumma zawwidni al-taqwa waghfirly dzanbi.
Sedangkan setelah bepergian dan akan pulang ke rumah juga disunnahkan shalat sunnah dua rakaat di masjid. Kesunnahan ini bersumber dari hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ka’ab:
عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَقْدَمُ مِنْ سَفَرٍ إِلَّا نَهَارًا فِي الضُّحَى فَإِذَا قَدِمَ بَدَأَ بِالْمَسْجِدِ فَصَلَّى فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلَسَ فِيهِ
Artinya: diriwayatkan dari Ka’b bin Malik bahwa kebiasaan Rasulullah pulang dari bepergian itu pada waktu dhuha, lalu beliau menuju ke masjid melaksanakan shalat sunnah dua rakaat dan duduk di dalam masjid. (HR. Muslim)
Imam Nawawi menjelaskan dalam Syarah Muslim:
حَدِيث جَابِر قَالَ : اِشْتَرَى مِنِّي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعِيرًا ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَة أَمَرَنِي أَنْ آتِي الْمَسْجِد فَأُصَلِّي رَكْعَتَيْن
Artinya: Hadis riwayat Jabir, ia berkata, Rasulullah membeli untaku, sesampainya di Madinah, Rasulullah memerintahkan untuk mendatangi masjid lalu shalat dua rakaat.
في هذه الأحاديث استحباب ركعتين للقادم من سفره في المسجد أول قدومه ، وهذه الصلاة مقصودة للقدوم من السفر ، لا أنها تحية المسجد
Artinya: Hadis ini merupakan dalil dianjurkan shalat sunah dua rakaat di masjid bagi orang yang baru datang dari bepergian, dan shalat ini memang yang dimaksud qudum minassafar, bukan tahiyyatul masjid.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siapapun yang hendak bepergian biasakan untuk shalat sunnah dua rakaat di rumahnya. Begitu pula ketika pulang disunnahkan shalat sunnah dua rakaat terlebih dahulu di masjid sekitar rumahnya.