• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 29 Juni 2022

Keislaman

Jadikan Tradisi Mudik karena Mencontoh Rasulullah

Jadikan Tradisi Mudik karena Mencontoh Rasulullah
Suasana mudik saat Idul Fitri. (Foto: NOJ/LKi)
Suasana mudik saat Idul Fitri. (Foto: NOJ/LKi)

Setelah dua tahun tidak mengenal mudik lantaran penyebaran virus Corona, kali ini masyarakat diperkenankan pulang kampung. Kendati untuk bisa sambang dan melihat kampung halaman, ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Hal itu demi memastikan warga tidak menularkan virus kepada keluarga dan sanak saudara di tempat asal. Dan sekadar diketahui bahwa tradisi mudik sebenarnya juga dilakukan Rasulullah. 


Mudik atau pulang kampung menjadi tradisi tahunan (annual tradition) masyarakat Muslim di Indonesia setiap akhir bulan Ramadhan. Mereka ‘bergerak’ dari kota ke desa atau dari kota ke kota lainnya. Tujuannya pun beragam, mulai dari mengunjungi orang tua, menjalin silaturahim dengan sanak saudara  hingga ‘napak tilas’ masa kecil.  


Mudik sudah menjadi tradisi yang mengurat dan mengakar bagi masyarakat Muslim Indonesia. Setiap menjelang hari raya Idul Fitri, mereka meninggalkan rutinitasnya di tanah perantauan dan berbondong-bondong menuju kampung halamannya. Tradisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, di Indonesia. Entah siapa yang memulainya.


Akan tetapi, Rasulullah dan para sahabatnya ternyata dulu juga pernah ‘mudik’, jauh sebelum masyarakat Muslim Indonesia melaksanakannya. Rasulullah pulang kampung ke Makkah setelah delapan tahun meninggalkan kampung halamannya itu pada tanggal 10 Ramadhan abad ke-8 Hijriyah atau bertepatan dengan 8 Juni 632 M.  


Memang, konteks dan misi mudik yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya dengan masyarakat masyarakat Muslim saat ini agak sedikit berbeda. Rasulullah dan sahabatnya mudik untuk melakukan penaklukan Makkah (fathu Makkah), bukan sekadar pulang kampung biasa.


Di dalam bukunya Pengantin Ramadhan, Muchlis Hanafi menyebutkan bahwa Rasulullah ‘mudik’ ke Makkah selama 19 hari. Dengan demikian Rasulullah dan para sahabatnya merayakan hari raya Idul Fitri  ke-6 (puasa Ramadhan diwajibkan kepada umat Islam mulai abad ke-2 Hijriyah) di Makkah, di kampung halamannya.  


Ketika ‘mudik’ tersebut, Rasulullah membuktikan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Nabi memaafkan semua musuh yang dulu menentang dakwah Islam. Juga menghancurkan semua berhala di area Ka’bah yang menjadi sesembahan warga Makkah. Total, ada 360 berhala yang dimusnahkan Rasulullah dan para sahabatnya. Termasuk tiga berhala yang paling terkenal dan paling besar; Hubal, al-Latta, dan al-Uzza.  


“Nabi mengumumkan bahwa setiap orang di seluruh kota yang memiliki berhala di rumahnya agar segera dihancurkan,” kata Marting Ling di dalam bukunya Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. Setelah selesai dengan semua urusannya di Makkah, Rasulullah kembali ke kampung halamannya yang kedua, Madinah.  


“Tidak ada lagi hijrah ke Madinah sejak kemenangan di Makkah, yang ada tinggal niat tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya),” kata Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

  

Demikian lah ketika seseorang mudik ke kampung halamannya, maka hendaknya mereka menebarkan kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian –sebagaimana yang Rasulullah lakukan pada saat ‘mudik’ di Makkah dalam peristiwa fathu Makkah, bukan malah menyebarkan virus keburukan dan hal negatif lainnya.


Keislaman Terbaru