• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Keislaman

Siapakah yang Dimaksud Al-Shadiqin?

Siapakah yang Dimaksud Al-Shadiqin?
Ilustrasi ulama yang tengah berjalan di tengah padang pasir untuk berdakwah membimbing masyarakatnya (Foto:NOJ/nuonline)
Ilustrasi ulama yang tengah berjalan di tengah padang pasir untuk berdakwah membimbing masyarakatnya (Foto:NOJ/nuonline)

Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah sebagai makhluk istimewa dan memiliki potensi paling mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dalam rangka untuk meraih kemuliaan itu tentu tidak semudah membalikkan tangan. Hal ini terbukti dalam firman Allah: 
 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا 
 

Artinya: Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan., Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS: al-Isra’ ayat 70)
 

 

Karena itu, kemuliaan yang Allah berikan kepada umat Islam bertumpu pada takwa. Allah berfirman:
 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 
 

Artinya:Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal .(QS: Al-Hujurat ayat 13) 
 

 

Sebagaimana kita ketahui bahwa takwa berarti melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Perintah dan larangan itu kemudian dijelaskan oleh Nabi Muhammad melalui perilaku, sabdanya (hadits). Lalu diikuti para sahabat, tabi’in dan selanjutnya dirumuskan oleh para ulama mujtahidin.
 

Allah berfirman:
 

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ 
 

 

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (QS: al-Taubah ayat 119)
 

Dalam ayat ini, terdapat dua perintah Allah, yaitu perintah bagi orang-orang beriman untuk bertakwa kepada Allah dan mengikuti orang-orang yang benar (shadiqin). Pertanyaannya adalah siapakah shadiqin itu?
 

وكونوا: في الدنيا، من أهل ولاية الله وطاعته, تكونوا في الآخرة (مع الصادقين)، في الجنة. يعني: مع من صَدَق اللهَ الإيمانَ به


Artinya: Hendaklah kamu di dunia termasuk kekasih Allah dan taat padaNya, dan hendaklah kamu di akhirat beserta orang-orang yang benar, yakni beserta orang yang benar dan percaya pada Allah.
 

Menurut Al-Suyuti dalam kitab Durar Mantsur  mengatakan “beserta orang-orang yang benar (shadiqin)” adalah beserta Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Dalam penafsiran Al-Sa’di, shadiqin adalah orang-orang yang ucapan dan tindakannya benar (sesuai dengan kenyataan), tidak bohong, tidak memiliki maksud buruk, ikhlas, jujur.
 

Berdasarkan dari keterangan di atas bisa disimpulkan bahwa bertakwa kepada Allah seharusnya disertai dengan mengikuti orang-orang yang benar (shadiqin), sebab ketakwaan itu mudah tercapai bila  ada orang-orang benar (shadiqin) yang membimbing dan menunjukkan jalannya. Oleh karena itu, tujuan utama mengikuti mereka (shadiqin) adalah membentuk masyarakat yang bertakwa kepada Allah.
 

Dalam konteks kekinian shadiqin bisa diartikan sebagai ulama yang takut kepada Allah, mengikuti petunjuk Rasulullah, sahabat, serta ucapan dan tingkah lakunya tidak menyeleweng dari aturan agama, tidak berbohong dan mengamalkan ilmunya. Mereka menjadi panutan umat, diikuti kemuliaan akhlaknya. Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin: “Semua manusia itu sia-sia, rusak, kecuali orang yang berilmu. Yang berilmu pun sia-sia, kecuali yang mengamalkan ilmunya. Dan yang mengamalkan ilmunya pun sia-sia, kecuali amalnya disertai dengan keikhlasan.”
 

Secara eksplisit terdapat tanggung jawab besar bagi mereka yang berilmu, mereka harus memberikan teladan dan pencerahan untuk masyarakat. Mereka ditakdirkan sebagai panutan yang seharusnya tidak melenceng dari pencarian kebenaran dan menaklukkan ego diri. Sekali lagi, ilmu harus diamalkan karena itu shadiqin atau shiddiqin adalah orang yang mengamalkan ilmu.


Editor:

Keislaman Terbaru