• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 8 Agustus 2022

Keislaman

Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Bagaimana Hukumnya?

Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Bagaimana Hukumnya?
Islam tidak memerintah dan juga tidak melarang pengucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri”. (Foto: NOJ/NEt)
Islam tidak memerintah dan juga tidak melarang pengucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri”. (Foto: NOJ/NEt)

Hal yang menjadi tradisi saat memasuki hari raya adalah ramaikan desain dan kiriman ucapan Selamat Idul Fitri. Sejumlah kalangan kemudian mempersoalkan bagaimana hukum ucapan tadi, apakah dibolehkan atau malah dilarang. 


 Perlu diketahui bahwa hari raya agama merupakan waktu istimewa bagi pemeluknya. Hari raya ini dilewati penuh makna dan sarat dengan kebahagiaan. Meskipun tidak memerlukan ucapan selamat itu, mereka tetap saling mengucapkannya saking bahagianya.


Dalil agama tidak berbicara terlalu jauh soal pengucapan hari raya ini. Islam tidak memerintah dan juga tidak melarang pengucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri”, “Selamat Hari Raya Idul Adha”, “Minal Aidin wal Faizin” atau pengucapan lainnya yang semakna dengan itu.


Masalah pengucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” dan ucapan selamat lainnya mendorong diskusi di kalangan ulama. Syekh Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan masalah ini dalam kumpulan fatwanya berikut ini:


 قال القمولي في الجواهر : لم أر لأصحابنا كلاماً في التهنئة بالعيدين ، والأعوام ، والأشهر كما يفعله الناس ، ورأيت فيما نقل من فوائد الشيخ زكي الدين عبد العظيم المنذري أن الحافظ أبا الحسن المقدسي سئل عن التهنئة في أوائل الشهور ، والسنين أهو بدعة أم لا ؟ فأجاب بأن الناس لم يزالوا مختلفين في ذلك ، قال : والذي أراه أنه مباح ليس بسنة ولا بدعة انتهى ، ونقله الشرف الغزي في شرح المنهاج ولم يزد عليه .


Artinya: Al-Qamuli dalam Al-Jawahir mengatakan: Aku tidak menemukan banyak pendapat kawan-kawan dari Madzhab Syafi’i ini perihal ucapan selamat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, ucapan selamat pergantian tahun dan pergantian bulan seperti yang dilakukan oleh banyak orang sekarang. Hanya saja aku dapat riwayat yang dikutip dari Syekh Zakiyuddin Abdul Azhim al-Mundziri bahwa Al-Hafizh Abul Hasan al-Maqdisi pernah ditanya perihal ucapan selamat bulan baru atau selamat tahun baru. Apakah hukumnya bid’ah atau tidak? Ia menjawab, banyak orang selalu berbeda pandangan masalah ini. Tetapi bagi saya, ucapan selamat seperti itu mubah, bukan sunah dan juga bukan bid’ah.’ Pendapat ini dikutip tanpa penambahan keterangan oleh Syaraf al-Ghazzi dalam Syarhul Minhaj. (Lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Hawi lil Fatawi fil Fiqh wa Ulumit Tafsir wal Hadits wal Ushul wan Nahwi wal I‘rabi wa Sa’iril Funun, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Libanon, 1982 M/1402 H, juz 1, halaman: 83).


Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengucapan “Selamat hari raya Idul Fitri” atau ucapan selamat lainnya sampai kapanpun akan terus menjadi perbedaan pendapat. Tetapi Imam as-Suyuthi mengikuti ulama yang membolehkannya. Menurutnya, pengucapan ini tidak bermasalah secara syar’i karena tidak ada dalil yang melarangnya.

  

Sementara penggunaan aneka media hanya bersifat sarana penyampaian. Media yang digunakan masyarakat hanya berkaitan dengan tren di zamannya seperti penggunaan kartu lebaran, spanduk, akun media sosial, atau lainnya.


Keislaman Terbaru