• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 2 Juli 2022

Keislaman

Dilema Hari Raya Idul Fitri dan Tradisi Berpakaian Baru

Dilema Hari Raya Idul Fitri dan Tradisi Berpakaian Baru
Membeli pakaian baru seolah menjadi keharisan jelang lebaran. (Foto: NOJ/KNe)
Membeli pakaian baru seolah menjadi keharisan jelang lebaran. (Foto: NOJ/KNe)

Hari Raya Idul Fitri sudah ada di depan mata. Pada saat yang sama, warga terlihat demikian antusias menyambut lebaran dengan berburu pakain baru. Dari mulai baju, kerudung, kopiah, sajadah, sarung, sandal, celana, dan sejenisnya.


Semua dilakukan karena bahagia menyambut lebaran lahir dan batin dengan pakaian terbaik. Dari sini kita lalu–selain menyucikan batin di hari raya–dianjurkan untuk membersihkan tubuh dari kotoran dan aroma tidak sedap, mengenakan pakaian yang bagus, dan mengenakan wewangian.


Lalu bagaimana dengan “keharusan” mengenakan pakaian baru di hari raya Idul Fitri? Kemungkinannya banyak. Lazimnya memang wajar membeli pakaian baru setahun sekali mengingat pakaian yang sudah ada sudah tidak lagi muat karena tubuh anak-anak kecil terus tumbuh besar.


Kemungkinan lainnya, kebetulan pakaian yang sudah ada sudah terlalu pudar warnanya atau rusak kerahnya lalu mengambil kesempatan Idul Fitri untuk menggantinya dengan yang baru.

 

Tetapi adakah keharusan dalam agama untuk mengenakan pakaian baru dan dresscode lebaran? Perhatikan penjelasan berikut:


 والتطيب والتزين بما مر في الجمعة إلا أن هنا يسن له أن يلبس أحسن ثيابه ولو غير بياض وعند التساوي البياض أولى، وفارق الجمعة بأن المراد هنا إظهار النعم وهو بالأعلى أولى وفي الجمعة إظهار الكمال وهو البياض أعلى وإلا أنه يسن الغسل والتزين والتطيب للقاعد أي لمن لم يرد الخروج لصلاة العيد والخارج لها


Artinya: Seseorang dianjurkan mengenakan wewangian dan berhias sebagaimana keterangan telah lalu pada bab Jumat. Tetapi di sini seseorang dianjurkan mengenakan pakaian terbaiknya meskipun bukan warna putih. Tetapi ketika pakaian putih dan bukan berwarna putih sama baiknya, maka mengenakan pakaian putih lebih utama di hari id. Hari id berbeda dengan hari Jumat. Maksud hari id adalah menampakkan nikmat Allah. Karenanya mengenakan pakaian terbaik itu lebih utama. Sedangkan tujuan hari Jumat adalah menampakkan kesempurnaan karena itu mengenakan pakaian putih itu yang terbaik. Tetapi orang yang duduk (tidak keluar rumah untuk shalat id) dan orang yang keluar menuju shalat id juga dianjurkan untuk mandi, berhias, dan mengenakan wewangian. (Lihat: Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman: 353).


Dari penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa agama sendiri hanya menganjurkan umatnya untuk mengenakan pakaian terbaiknya di hari raya Idul Fitri, bukan pakaian baru, apalagi seragam sekeluarga (dresscode).


Pakaian terbaik juga tidak selalu mesti berwarna putih. Anjuran mengenakan pakaian putih berlaku di hari Jumat. Lain soal kalau pakaian putih adalah pakaian terbaiknya dari semua pakaian yang dimilikinya ketika hari raya.


Perihal keinginan masyarakat untuk mengenakan pakaian baru atau dresscode di hari raya, hal itu boleh-boleh saja sejauh tidak memberatkan yang bersangkutan. Kalau pun tidak membeli pakaian baru, kita tidak perlu berkecil hati. Kita dapat memakai pakaian terbaik yang ada di almari karena agama Islam sendiri tidak mengharuskan umatnya untuk mengenakan pakaian baru apalagi dresscode di hari raya.

  

Sebaiknya memanfaatkan hari raya Idul Fitri untuk memperbaiki batin semaksimal mungkin, membuka pintu maaf bagi banyak orang, dan memohon maaf kepada mereka yang pernah kita aniaya. Juga memperbanyak istighfar untuk memohon ampunan dan rahmat Allah.


Keislaman Terbaru