• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 30 September 2022

Madura

LPTNU Sumenep Beri Tips Cetak Generasi Tangguh di Era Digital

LPTNU Sumenep Beri Tips Cetak Generasi Tangguh di Era Digital
Flyer kegiatan LPTNU Sumenep.
Flyer kegiatan LPTNU Sumenep.

Sumenep, NU Online Jatim

Asmoni, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumenep mengatakan, era digital adalah pergeseran dari ekonomi berbasis industri ke ekonomi berbasis informasi dengan menggunakan perangkat teknologi. 


Pernyataan ini disampaikan dalam program inspirasi gender Pengurus Cabang (PC) Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) yang bekerja sama dengan Pro-1 Radio Republik Indonesia (RRI) Sumenep, Rabu (13/07/2022). Acara ini disiarkan langsung di studio RRI dengan mengusung tema 'Mencetak Generasi Tangguh di Era Digital'. 


Secara fenomenologi, semakin berkembangnya era digital ini banyak pekerjaan yang sudah tergantikan oleh mesin. Dulu banyak gedung-gedung atau pertokoan, namun di era sekarang tak harus pergi ke toko, tetapi cukup memakai aplikasi.


"Inilah era digital. Mau tidak mau, generasi yang akan datang harus terbiasa atau familiar dengan era yang saat ini," ujarnya. 


Menyikapi hal tersebut, lanjutnya, Lembaga Perguruan Tinggi (LPT) harus mampu menciptakan pemuda tangguh dalam menghadapi era digital yang begitu pesat. Banyak hal-hal yang ada di tengah-tengah masyarakat tergantikan oleh mesin dan informasi digital. 


"Ini tantangan di LPTNU. Tentu perannya tidak mutlak bersumber dari perguruan tinggi saja, tetapi berangkat dari proses pendidikan dasar, menengah, termasuk pendidikan di keluarga," ungkapnya. 


Di era digital, sambungnya, orang tua dan tenaga pendidik betul-betul selektif mendidik anak dalam mengantarkannya menjadi generasi yang tangguh. Karena terdapat sisi positif dan negatif. Jikalau tidak jeli, justru yang muncul adalah sisi negatifnya. 


"Kita harus memberi batasan pada anak dalam menggunakan gadget. Kita menyadari, di saat pandemi melanda di seluruh dunia, anak melek pada teknologi dan informasi. Bukan hanya lingkup lokal tetapi interlokal, bahkan lingkup dunia. Apa yang terjadi di luar, belum tentu baik untuk anak kita. Batasan itu akan memberikan arahan pada anak guna membedakan informasi yang baik dan tidak. Di lain sisi, orang tua harus mendampingi dan berkomunikasi langsung dengan anak," tegasnya. ​​​​​​​


Asmoni menyatakan, perguruan tinggi harus memberi solusi dengan menyempurnakan langkah strategis yang harus dirumuskan, kurikulum, sarana, Sumber Daya Manusia (SDM) dan perangkat lainnya. Terlebih sudah diluncurkan program kampus merdeka. 


"Artinya, bukan hanya membangun gedung, tetapi membangun software atau perangkat TV cerdas agar pembelajaran memang benar-benar digital. Tidak hanya mengandalkan tatap muka secara langsung, tetapi secara daring," tuturnya. 


Disebutkan, pihaknya sudah memiliki TV cerdas yang fungsinya seperti komputer. Walaupun perangkatnya baik SDM, kurikulum, dan sejenisnya. Baginya ini menjadi tantangan terbesar LPT dalam menciptakan generasi atau lulusan yang tangguh, inovatif, responsif dan entertainment. 


"Ada amanah yang harus dijalankan oleh generasi tua, sebagaimana tertuang dalam surat An-Nisa ayat Annisa 9 yang menjelaskan pentingnya menjadi generasi tangguh. Kalau bekerja positif untuk anak didik kita, insyaallah akan tercapai," ucapnya. ​​​​​​​


Asmoni berharap, orang tua dan tenaga pendidik menyesuaikan diri dengan era sekarang. Juga mempersiapkan pola pikir yang tangguh, adaptif, dan jangan selalu mengejar, tetapi sudah selangkah dan berlari di depannya. 


Maksudnya, jangan terpola dengan pembelajaran dan terkotak serta pada sumber ekonomi yang lama, tetapi berpikir secara global. Bekerja menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan dengan otot atau sumber daya yang sifatnya alami. 


"Kita jangan berpikir lokal dan harus berpikir global. Bisa saja anak dan kita sendiri bekerja di manapun. Karena dunia sekarang ibarat dalam satu genggaman," pungkasnya. 


Editor:

Madura Terbaru