• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 23 April 2024

Madura

Pemulung Gaul Annuqayah Jelaskan 3 Tips Mengelola Sampah di Pesantren

Pemulung Gaul Annuqayah Jelaskan 3 Tips Mengelola Sampah di Pesantren
Musyawarah ekopesantren dalam rangka kunjungan peserta ke UPT Jatian Lubangsa. (Foto: NOJ/Firdausi)
Musyawarah ekopesantren dalam rangka kunjungan peserta ke UPT Jatian Lubangsa. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Perintis Pemulung Sampah Gaul (PSG) Sekolah Menengah Atas (SMA) 3 Annuqayah, Kiai Muhammad Mushthafa menjelaskan, ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam mengelola sampah di pesantren. 


Pertama, dibutuhkan landasan normatif. Kedua, dibutuhkan fakta-fakta atau kisah-kisah yang menginspirasi, seperti yang dilakukan oleh Wahyudi Anggoro Hadi di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Ketiga, butuh pemimpin yang menggerakkan.


Pernyataan ini disampaikan saat menjadi pembicara di acara Musyawarah Ekopesantren bertajuk ‘Manajemen Pengelolaan Sampah di Pesantren’ yang dipusatkan di Aula Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Guluk-Guluk, Sumenep, Sabtu (02/03/2024). Acara ini dihelat oleh Laboratorium Sampah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jatian Lubangsa.


“Karena itu, pengkaderan dan pembelajaran lingkungan hidup diperlukan untuk mencapai kesadaran dan kepekaan ekologis,” ujarnya.


Diceritakan, bermula pada tahun 2007 di SMA 3 Annuqayah, di mana ia mengajak ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) pada peringatan Hari Lingkungan Hidup. Ketika siswa melihat sampah yang menumpuk, siswa mulai tergugah saat melihat sampah yang mereka produksi sendiri di pesantren dan sekolah.


“Dari sinilah asal mula berdirinya PSG yang keberadaannya saat ini mengubah perilaku siswa dan mengurangi jumlah sampah,” terang Wakil Rektor IV Universitas Annuqayah ini.


Pihaknya menjelaskan, sebenarnya Annuqayah sudah punya landasan atau prinsip kesadaran ekologis. Dirinya meyakini bahwa seluruh pesantren di Madura juga memiliki landasan tersebut. Hanya saja butuh pemimpin yang konkret bergerak dan perhatian pada sampah. 


Lebih lanjut, ada banyak pelatihan dan bank sampah yang sudah dibuat, tetapi kurangnya pemimpin yang sadar akan hal itu. Makanya, pengasuh pesantren Annuqayah Lubangsa, KH Moh Shalahuddin A. Warits ini mengirimkan santrinya untuk belajar ke Desa Panggungharjo agar bisa belajar tentang pengelolaan sampah. 


“Jadi, kalau pemimpinnya sudah berkesadaran, maka perlu adanya eksekutor. Kami berharap gerakan ini juga muncul di pesantren lainnya guna menekan angka sampah di pesantren,” harapnya.


Diketahui, pasca musyawarah ekopesantren, peserta berkunjung ke Laboratorium Sampah UPT Jatian Lubangsa guna melihat pengelolaan dan daur ulang sampah, seperti mendaur ulang sampah menjadi paving blok, pupuk, aksesoris, hingga teknik pemusnahan sampah residu.


Madura Terbaru