• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 26 November 2022

Madura

Wakil Katib NU Sumenep Ulas Pemikiran Kelompok Menyimpang di Tanah Air

Wakil Katib NU Sumenep Ulas Pemikiran Kelompok Menyimpang di Tanah Air
Wakil Katib PCNU Sumenep, KH Ahmad Halimy. (Foto: NOJ/ Firdausi)
Wakil Katib PCNU Sumenep, KH Ahmad Halimy. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Wakil Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH Ahmad Halimy menyebutkan, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah menerangkan bahwa penduduk Indonesia sejak zaman dahulu secara fiqih bermazhab Syafi’i. Sedang di bidang ushuluddin atau akidah bermazhab Asy’ari. 

 

“Sementara dalam bidang tasawuf mengikuti mazhab Al-Ghazali dan Imam Asy-Syadili,” ujar saat acara penguatan wawasan Aswaja An-Nahdliyah dengan tema ‘Cara Berpikir Aqidah NU’ yang digelar Aswaja NU Center Sumenep dan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kota. Kegiatan itu dipusatkan di kantor MWCNU setempat Jalan Jati Mas 26 B, Pangarangan, Sumenep, Ahad (30/01/2022).

 

Dewan Penasihat Aswaja NU Center Sumenep itu mengutarakan, Mbah Hasyim menerangkan bahwa pada tahun 1330 H (sekitar tahun 1911 atau 1912 M), muncul beragam pemikiran yang saling bertentangan. 

 

“Dalam hal ini, posisi umat Islam Indonesia mulai beragam, salah satunya aliran moderenis,” ungkap Kiai Halimy.

 

Sebagian di antara mereka ada para salafiyyun (istilah yang dipakai Mbah Hasyim) yang mengikuti jejak para salaf dengan bermazhab dan berpegang teguh pada kitab-kitab ulama yang mu’tabarah. Menurutnya, kelompok ini juga mencintai ahlul bait, auliya’, para sholihin, dan ngalap berkah (tabarruk) dengan mereka. 

 

“Baik yang masih hidup atau pun yang sudah wafat. Seperti ziarah kubur, menalqin jenazah, bersedekah untuk para almarhumin, meyakini syafaat, meyakini bahwa doa bermanfaat, meyakini tawasul, dan sejenisnya,” imbuhnya.

 

Ia menambahkan, di samping kelompok salafiyyun yang mengikuti salafus shalih, ada beberapa kelompok pemikiran yang menyimpang yang saat itu muncul di tanah air.

 

Pertama, kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridlo (anti taqlid mazhab dan mengajak langsung dari Al-Qur’an dan sunnah) dan mengikuti bid’ah Muhammad ibn Abdil Qahhab an-Najdi yang berpaham takfiri atau mudah mengkafirkan sesama Muslim, dengan tuduhan menyembah kuburan dan sebagainya. 

 

“Selain itu, mengikuti bid’ah Ibnu Taimiyyah dan dua muridnya Ibnu Qoyyim dan Ibn Abdil Hadi yang mengharamkan perjalanan ziarah ke pusara Nabi Muhammad SAW, juga pemikiran yang mengarah pada tajsim. Pemikiran inilah yang menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam, karena suka membid’ahkan dan mengkafirkan sesama muslim,” ungkapnya.

 

Untuk itu, alumni Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang itu mengimbau agar tidak percaya pada mereka walaupun menyitir perkataan Imam Syafi’i. Pasalnya, banyak pemalsuan yang ia lakukan.

 

“Yakni, dengan menyimpan hal yang tidak cocok bagi mereka dan menyampaikan hal yang searah dengannya,” katanya. 

 

Kedua, kelompok Rofidliyyun (Syi’ah) yang mencela Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, membenci sahabat, dan berlebihan dalam mencintai Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

 

“Syi’ah ada banyak alirannya, dan sebagian telah sampai pada kekufuran. Padahal mencintai ahlul bait dan sahabat adalah dua ciri khas Aswaja yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Yang lebih parah lagi, ada aliran Syi’ah yang mengkafirkan Ali bin Abi Thalib lantaran tidak mempertahankan haknya sebagai imamah atau tidak menjalankan wasiat,” urainya. 

 

Ketiga, kelompok Ibahiyyun (aliran serba boleh) yang mengatakan bahwa kalau orang telah sampai pada derajat yang tinggi dalam cinta pada Allah serta telah bersih hatinya, maka gugur atasnya perintah dan larangan syariat dan tidak perlu lagi melaksanakan ibadah dhahir seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. 

 

“Sayyid Murtadlo az-Zabidi pensyarah Ihya’ mengatakan bahwa pendapat ini adalah kekufuran, zindiq, dan kesesatan dan alirian seperti ini telah ada sejak dulu,” ungkapnya.

 

Keempat, ialah orang-orang yang percaya pada tanasukhil arwah atau rainkarnasi. Yakni menitisnya roh dari seseorang ke orang lain. “Kelima, adalah orang-orang yang memiliki pemahaman huluk dan ittihad, dari orang bodoh di kalangan mutashowwif (orang-orang yang sok sufi),” tambahnya.

 

Kemudian, Kiai Halimy menjelaskan tentang Hulul. Disebutkan, bahwa Hulul artinya bertempatnya Allah di dalam makluk-Nya, sedangkan ittihad artinya kesatuan wujud Allah dan makhluk-Nya. 

 

Menurutnya, ucapan para pembesar auliya’ yang menyiratkan hal seperti hulul dan ittihad wajib dita’wilkan (ditafsirkan) dengan penjelasan yang sesuai. Apalagi jika ucapan itu keluar pada saat jadzbah atau kondisi tidak sadar karena tenggelam dalam lautan cinta ilahi.

  

“Dan ada pula kelompok lain yang sangat bahaya pemikirannya. Yaitu orang yang menafikan ketuhanan Allah seperti kelompok Dahriyah (Ateis) atau meniadakan Keesaan Allah,” tandasnya.


Madura Terbaru