• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 4 Oktober 2022

Matraman

Dulu hingga Kini, Kiai Pesantren Tak Sepi Inovasi Beri Pengajaran

Dulu hingga Kini, Kiai Pesantren Tak Sepi Inovasi Beri Pengajaran
Gus Rijal Mumazziq Z, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama. (Foto: NOJ/Husnul Khotimah).
Gus Rijal Mumazziq Z, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama. (Foto: NOJ/Husnul Khotimah).

Ponorogo, NU Online Jatim

Intelektual Muda Nahdlatul Ulama, Rijal Mumazziq Z mengatakan, dalam konteks sejarah pesantren di Indonesia yang mengakar sejak Walisongo, diketahui bahwa para kiai selalu melakukan inovasi, baik dalam pendidikan maupun dakwah. Yakni dengan menyesuaikan terhadap keadaan zaman.

 

“Karena inilah eksistensi pesantren sampai sekarang masih terjaga dalam memberikan pengajaran pada umat,” ujar Gus Rijal sapaannya, dalam Talkshow Lentera Kyai Muda bertajuk ‘Peran Kiai Muda dalaam Mengisi Kemerdekaan’ di kanal TVNU waktu lalu.

 

Inovasi tersebut seperti yang terjadi menjelang tahun 1945 di bidang pendidikan  dengan menggunakan sistem madrasah. Sedang pasca kemerdekaan kemudian memasukkan kurikulum negeri, mendirikan kampus, hingga Ma’had Aly.

 

“Hal tersebut menjadi bukti sejarah bahwa para ulama terdahulu berperan besar sebagai mujtahid di bidang pendidikan, sosial, dan kultural,” imbuh Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah (Inaifas) Kencong, Jember ini.

 

Hal yang sama juga dilakukan kiai pesantren saat pandemi sekarang ini. Ia terus berinovasi dan beradaptasi dengan perangkat teknologi digital. Bahkan, penggunaan teknologi menjadi prioritas dalam konteks dakwahnya. Hal itu dilakukan agar dapat melewati pandemi dengan baik dan tetap bisa memberi pengajaran kepada umat.

 

“Sebagaimana yang dicontohkan oleh Romo KH Anwar Mansur Lirboyo dengan pengajian kitabnya Al-Adzkar An-Nawawi,” ungkap Gus Rijal.

 

Menurutnya, kondisi pandemi ini bukan waktunya mengeluhkan kondisi, menyalahkan keadaan, memaki presiden, hingga menuntut takdir Allah Swt. Akan tetapi, hendaknya terus berinovasi dan berkreasi seperti yang dicontohkan oleh ulama pendahulu.

 

Sisi Unik Sikap Nasionalisme Mbah Wahab

Berkaitan dengan nasionalisme, Gus Rijal menyebut, ada dua hal yang mesti ditelaah. Pertama ialah ekstrim kiri. Yakni mereka yang memiliki unsur patriotisme yang terlampau tinggi, sehingga menyebabkan sikap chauvinistik yang dapat berpotensi sikap pada fasisme. Hal ini merupakan bentuk kecintaan terhadap ras, bangsa, dan negara yang terlalu tinggi sehingga menganggap yang lainnya layak dijajah.

 

“Hal ini seperti yang dilakukan Jerman, Italia, dan Jepang yang melakukan ekspansi ke daerah lain yang memiliki sumber daya alam yang melimpah,” jelas penulis buku Kiai Kantong Bolong tersebut.

 

Kedua adalah ekstrim kanan. Yakni mereka yang menganggap cinta tanah air adalah hal yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya, sehingga mereka cenderung bersikap pragmatisme. Hal tersebut membuatnya tidak peduli dengan negara dan bahkan meninggalkannya.

 

“Dua hal tersebut sangat berbahaya. Dan saya menemukan sisi unik dari nasionalisme yang dicontohkan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dalam hubbul wathon minal iman yang dicetuskannya,” kata Gus Rijal.

 

Disebutkan bahwa, sebelum Indonesia merdeka, Mbah Wahab yang menjadi aktivis serikat Islam, sepulang dari Makkah mendirikan madrasah yang dinamakan Nahdlatul Wathan. Kemudian, ia pun menggerakan beberapa pemuda untuk dikader sebagai da’i yang tergabung Lajnatun Nashikhin. Hingga kemudian diubah menjadi Syubbanul Wathan, dan akhirnya menjadi organisasi Nahdlatul Ulama.

 

Tujuan merintis madrasah tersebut sebagai tempat kaderisasi anak usia belia dan remaja. Sebab, Mbah Wahab meyakini merekalah nanti yang akan mengisi pos-pos tertentu setelah kemerdekaan.

 

“Dua dekade setelahnya hal tersebut terbukti dengan munculnya beberapa madrasah dan organisasi yang menyematkan nama “Wathan” di belakang namanya, seperti madrasah Al-Wathaniyah dan Nahdlatul Wathan,” tuturnya.

 

Gus Rijal menyebutkan, bahwa langkah-langkah tersebut untuk mempersatukan asumsi, bahwa selain memiliki sikap patriotisme dalam mengikat cita-cita kemerdekaan, para ulama juga memiliki rasa cinta tanah air dengan melekatkan istilah ‘wathan’ di madrasah dan organisasi yang didirikan.

 

Editor: A Habiburrahman


Matraman Terbaru