• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 26 September 2022

Nusiana

Begini Cara Banser Mengusir Wartawan di Arena Muktamar

Begini Cara Banser Mengusir Wartawan di Arena Muktamar
Banser memiliki cara berbeda dalam mengusir wartawan. (Foto: NOJ/IKo)
Banser memiliki cara berbeda dalam mengusir wartawan. (Foto: NOJ/IKo)

Pada ajang permusyawaratan resmi seperti konferensi NU apalagi muktamar, wajah sangar dan disipilin akan dipertontonkan Barisan Ansor Serbaguna atau Banser. Seluruh perintah dari komandan atau pimpinan akan ditaati dengan seksama. Dan tidak ada toleransi.
 

Sekadar diketahui, KH MA Sahal Mafudh maupun KH Mustofa Bisri pernah tidak bisa masuk arena Muktamar NU karena Banser tidak mengenal dua kiai kharismatik tersebut. Apalagi hanya kiai kebanyakan atau mereka yang berpenampilan biasa dan apa adanya. Termasuk wartawan.
 

Kejadian kurang mengenakkan menimpa salah seorang wartawan perempuan dari Surabaya. Sebut saja namanya Dinda.
 

Dengan berbekal id-card dan kostum lengkap media tempatnya bekerja, Dinda ingin mengabadikan persidangan. Apalagi kala itu sudah masuk sidang yang cukup krusial, yakni tata tertib pemilihan.
 

“Mau ke mana mbak? tanya Banser.
 

“Mau masuk, dari media,” katanya penuh percaya diri.
 

Sejumlah prosedur dia lalui. Dari mulai menyerahkan barcode kepesertaan, juga menunjukkan id-card. 
 

“Dari media mana mbak” cecar Banser.
 

Dia pun menyebutkan media tempatnya berasal.
 

Sejurus kemudian, Dinda masuk di salah satu ruangan UIN Raden Intan, Lampung. Tapi anehnya, Banser membuntutinya dari belakang. 
 

“Pak, saya hanya mau ambil gambar suasana,” katanya merasa sedikit risih.
 

“Ya, silakan,” jawab mas Banser.
 

Usai mengambil gambar suasana sidang, Banser dengan setia membuntutinya. Tidak hanya itu, menggiring Dinda ke salah satu pintu di bagian belakang gedung. Ternyata, itu adalah pintu keluar.
 

“Kok keluar mbak?” kata rekan Dinda di ujung pintu.
 

“Ternyata memang tidak boleh meliput, Bansernya sangar,” ungkap Dinda sembari ngeloyor pergi.
 

Bayangan akan mendapatkan gambar eksklusif saat sidang yang sarat perdebatan akhirnya harus dikubur dalam-dalam. Semua gara-gara mas Banser.
 

Usut punya usut, ternyata ada beberapa sidang yang memang sifatnya tertutup dan tidak diperkenankan untuk diliput media. Jadi, tidak salah kalau mas Banser bertindak demikian. Hanya saja caranya lumayan canggih, he he. 


Editor:

Nusiana Terbaru